KISAH
NABI MUHAMMAD SAW
Ketika
cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja
menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali
sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka
Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul
yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah
kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para
nabi. Kedatangan Nabi tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim
as kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang
disampaikan oleh Nabi Isa as.
Allah SWT
menyampaikan salawatnya kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan
keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan salawat kepadanya sebagai
bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bersalawat
kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya." (QS. al-Azhab: 56)
Sebelumnya
Allah SWT mengutus para nabi-Nya sebagai rahmat kepada kaum dan zaman mereka
saja, namun Allah SWT mengutus beliau saw sebagai rahmat bagi alam
semesta. Beliau saw datang dengan membawa rahmat yang mutlak untuk kaum di
zamannya dan untuk seluruh zaman. Allah SWT berfirman, "Dan
aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta."
Hakikat
dakwah para nabi sebelumnya adalah menyebarkan Islam, begitu juga ajaran yang
dibawa oleh Nabi yang terakhir adalah Islam. Beliau saw adalah Muhammad
bin Abdillah bin Abdul Muthalib, anak seorang wanita Quraisy. Beliau saw
adalah pemimpin anak-anak Nabi Adam as. Beliau saw adalah hamba Allah
SWT dan Rasul-Nya, serta rahmat Allah SWT yang dihadiahkan kepada umat
manusia.
Beliau saw
lahir di tanah Arab. Ketika itu malam gelap, tiba-tiba Abdul Muthalib
membayangkan bahwa matahari telah terbit, lalu ia bangun dan ternyata mendapati
dirinya di pertengahan malam, keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun yang
terbentang. Ia menuju pintu kemah, lalu menyaksikan bintang-bintang
bersinar di langit, dan dunia tampak di selimuti dengan malam. Ia kembali
menutup pintu kemah dan tidur. Belum lama ia dikuasai oleh rasa kantuk
yang amat sangat, sehingga ia kembali bermimpi untuk kedua kalinya. Segala
sesuatunya tampak jela s kali ini, Sesungguhnya sesuatu yang besar
memerintahnya untuk melaksanakan perintah yang sangat penting, "Galilah
zamzam!" Dalam mimpinya Abdul Muthalib bertanya: "Apakah itu
zamzam?"Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu mengatakan bahwa ia
diperintahkan untuk menggali zamzam. Belum lama Abdul Muthalib melihat
sesuatu yang bersembunyi itu, sehingga ia berdiri di tempat tidurnya dan
hatinya berdebar dengan keras. Abdul Muthalib bangkit, lalu ia membuka
pintu kemah kemudian pergi ke gurun yang luas. Apakah arti
zamzam? Tiba-tiba pikirannya dipenuhi dengan cahaya yang datang dari jauh,
bahwa pasti zamzam adalah sebuah sumur, tetapi apa yang diinginkan oleh suara
yang datang dalam tidur itu agar ia menggali sumur, di sana tidak ada jawaban
selain satu jawaban dari pertanyaan ini, yaitu agar orang -orang yang berhaji
dan berkeliling di sekitar Ka'bah dapat meminumnya. Tapi apa nilai dari
sumur itu sendiri, bukankah di sana ada banyak sumur yang dapat diminum oleh
orang-orang yang berhaji.
Abdul
Muthalib duduk di tengah-tengah pasir gurun pada pertengahan malam, ia
memikirkan bintang-bintang sembari merenungkan cerita-cerita kuno yang
mengatakan tentang sumur yang memancar darinya air sebagai akibat dari pukulan
kaki Nabi Ismail as, di sana juga ada cerita yang mengatakan bahwa sumur itu
telah binasa sesuai dengan perjalanan zaman.
Matahari
terbit di atas gurun Jazirah Arab, Abdul Muthalib keluar menemui orang-orang,
dan menceritakan kepada mereka bahwa ia akan menggali sebuah sumur di tempat
tertentu, ia menunjukkan ke tempat yang di situ ia diberitahu oleh suara yang
ada dalam mimpinya. Orang-orang Quraisy menolaknya, Sesungguhnya tempat
yang diisyaratkan oleh Abdul Muthalib terletak di antara dua berhala dari
berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara
berhala yang bernama Ashaf dan NAllah. Abdul Muthalib merasa bahwa
usahanya sia-sia untuk meyakinkan kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali
sumur. Mereka mengetahui bahwa Abdul Muthalib tidak memiliki sesuatu
selain hanya seorang anak. Bahwasanya ia tidak memiliki anak-anak yang
dapat menolong dan memperkuatnya serta melaksanakan keinginan-keinginannya.
Pada saat itu
di kawasan negeri Arab dipenuhi dengan kabilah-kabilah yang terjalin suatu
ikatan fanatisme atau kesukuan yang kuat dan usaha untuk melindungi keluarga
yang sangat menonjol. Akhirnya Abdul Muthalib pergi dalam keadaan sedih,
lalu ia berdiri di hadapan Ka'bah dan mengungkapkan suatu nazar kepada Allah
SWT. Ia berkata: "Jika aku mendapat sepuluh anak laki-laki, dan
mereka menginjak usia dewasa, sehingga mereka mampu melindungiku saat aku
menggali sumur Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di
sisi Ka'bah sebagai bentuk korban."
Pintu langit
pun terbuka untuk doanya. Belum sampai berlangsung satu tahun, istrinya
melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun ia melahirkan anak laki-laki
sampai pada tahun yang kesembilan, sehingga Abdul Muthalib mempunyai sepuluh
anak laki-laki. Kemudian berlalulah zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi
besar.
Abdul
Muthalib akhirnya menjadi seseorang yang memiliki kemampuan. Kemudian Abdul
Muthalib berusaha melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam mimpinya itu,
yaitu ia bersiap-siap untuk mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk
pelaksanaannya dari nazarnya. Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya,
lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak
itu keluar dalam undian, maka orang-orang yang ada disekitarnya berusaha
memberontak, mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Abdullah
disembelih.
Abdullah
saat itu terkenal sebagai seseorang yang bersih dikawasan Arab, ia telah dapat
menarik simpati masyarakat di sekitarnya. Ia tidak pernah menyakiti seseorang
pun. Bahkan ia tidak pernah meninggikan suaranya lebih dari orang lain.
Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan
Jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia
menyerupai sebuah kebun di tengah-tengah gurun hati-hati yang keras, oleh
karena itu semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya.
Para pembesar Quraisy berkata, "Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami
daripada ia harus disembelih, dan menjadikan anak-anak kami sebagai tebusan
baginya. Kami tidak akan menemukan seseorang pun yang lebih baik dari dia
seandainya kami menyembelihnya, pertimbangkanlah kembali masalah itu, dan
biarkan kami bertanya kepada dukun."
Abdul
Muthalib tampak tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu ia mempertimbangkan
kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang
dukun. Si dukun berkata: "Berapakah taruhan yang kalian
miliki?" Mereka menjawab: "Sepuluh ekor unta." Dukun
itu berkata: "Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian
atasnya dan atas nama Abdullah, jika undian datang padanya, maka tambahlah
sepuluh ekor unta lagi, lalu ulangilah terus undian tersebut, demikian hingga tidak
keluar lagi nama Abdullah."
Kemudian
dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan atas sepuluh ekor unta yang besar.
Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah
sepuluh ekor unta lagi, kemudian lagi-lagi yang keluar nama Abdullah sehingga
mereka pun menambah sepuluh ekor unta lagi sampai jumlah unta itu telah
mencapai seratus ekor unta. Setelah itu, datanglah nama unta tersebut. Maka
saat itu, masyarakat demikian gembiranya sehingga berlinangan air mata,
kegembiraan dari mereka karena melihat Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian
disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka'bah, dan mereka membiarkannya di
situ sehingga korban itu tidak disentuh oleh seseorang pun dan juga disentuh
oleh binatang-binatang buas.
Abdul
Muthalib sangat gembira atas keselamatan anaknya, Abdullah. Lalu ia
menetapkan untuk menikahkannya dengan gadis terbaik di Jazirah Arab, kemudian
ia keluar dengannya pada suatu hari dari Ka'bah ke rumah Wahab, dan di sana ia
meminang untuknya Aminah binti Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah
dengan Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pemuda yang paling mulia dan paling
dicintai oleh orang-orang Quraisy.
Dinyalakanlah
api-api di gunung-gunung Mekah, agar para musafir dan para tamu mengetahui
tempat diadakannya acara tersebut, yaitu acara pernikahan antara Abdullah dan
Aminah. Lalu disembelihlah hewan-hewan korban, dan manusia dari kalangan
orang-orang fakir bahkan binatang-binatang buas dan burung makan darinya.
Abdullah tinggal bersama istrinya dua bulan di rumah pernikahan, hingga suatu
hari ada kabar bahwa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti
kafilah tersebut dan melakukan perjalanan bersama kafilah perdagangan Quraisy
menuju Syam, itu adalah kesempatan terakhir yang diperoleh Aminah binti Wahab
bersamanya. Wajah Abdullah yang mulai tampak berseri-seri mengucapkan selamat
tinggal kepada Aminah, lalu setelah itu bayang-bayang wajahnya tersembunyi
bersama kafilah dan rnereka pun hilang. Aminah tidak mengetahui bahwa itu
adalah kesempatan terakhirnya setelah dua bulan dari perkawinannya. Abdullah
mengunjungi paman-pamannya dari kabilah bani Najar di Madinah, dan di sana ia
meletakkan jasadnya di muka bumi, ia meninggal dunia.
Abdullah bin
Abdul Muthalib kini telah meninggal. Saat itu ia berusia dua puluh lima
tahun. Kabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan sangat memilukan hati
orang-orang yang mendengarnya, sehingga kabar itu sampai ke
istrinya. Aminah tampak menangis tersedu-sedu dan ia tampak menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan pada dirinya dan tidak mengetahui jawabannya, mengapa
Allah SWT menebusnya dengan seratus unta jika kemudian Dia menetapkan kematian
baginya.
Tidak lama
kemudian, lalu bergeraklah dirahimnya janin dengan gerakan yang sedikit, ia
tampak mulai mengetahui bahwa ia sedang hamil. Aminah menangis dua kali,
pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali ini ia menangis untuk anak
yang ditinggal mati ayahnya sebelum ia sempat dilahirkan. Aminah tidak
pernah mengetahui sebelumnya bahwa janin yang dikandungnya akan menjadi anak
yatim, ayahnya meninggal saat ia dilahirkan.
Anak yatim
ini harus menanggung beban anak-anak yatim dan orang-orang fakir dan
orang-orang yang sedih di muka bumi. Ini akan menjadi Nabi yang terakhir
dan rasul-Nya kepada manusia. Ini akan menjadi rahmat yang dihadiahkan kepada
manusia dan tidak akan mengetahui makna rahmat kecuali orang yang merasakan
penderitaan dan kepahitan. Inilah anak kecil yang sebelum dilahirkan telah
menelan kesedihan. Dan berlalulah hari demi hari, lalu hilanglah tangisan
penderitaan dan mata Aminah pun telah mengering, namun kesedihannya tampak
menyerupai sebuah pohon yang turnbuh bersama kehausan.
Kemudian
kesedihannya hari demi hari semakin ia rasakan tetapi kesedihannya itu mulai
tidak tampak ketika ia mendapatkan bahwa janin yang dikandungnya tidaklah
memberatkannya, sebaliknya ia merasakan betapa ringannya janin yang
dikandungnya bagaikan merpati yang berkeliling di seputar Ka'bah, dan
seandainya kesedihannya yang selalu mengitarinya, maka tidak ada wanita yang
lebih bahagia darinya dengan kehamilan yang ringan ini. Janin itu adalah
manusia yang mulia di sisi Tuhan, kemudian semakin dekatlah hari kelahirannya.
Sementara itu, pasukan Abrahahh mendekati Mekah.
Abrahahh
adalah seorang penguasa Yaman, yaitu pada saat Yaman tunduk kepada Habasyah setelah
penguasa Persia diusir. Di Yaman ia membangun suatu gereja yang
menunjukkan bangunan yang menakjubkan. Abrahahh membangunnya dengan niat
agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di Mekah. Ia melihat
betapa orang-orang Yaman tertarik dengan rumah tersebut. Dan ketika ia
tidak melihat gereja yang dibangunnya memiliki daya tarik seperti itu dan tidak
mampu menarik hati orang-orang Arab, maka ia berkeinginan kuat untuk
menghancurkan Ka'bah, sehingga orang-orang tidak menuju ke Ka'bah lagi melainkan
ke gerejanya. Demikianlah akhirnya ia menyiapkan tim yang besar yang
dipenuhi dengan berbagai senjata, kemudian tim itu menuju Ka'bah.
Pasukan
Abrahahh terdiri dari kelompok gajah yang besar yang digunakannya untuk
menghancurkan Ka'bah. Gajah-gajah itu bagaikan tank-tank yang kita gunakan saat
ini. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang Arab
saat itu terkenal sebagai penyembah berhala, meskipun demikian mereka sangat
memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap Ka'bah, karena mereka meyakini
bahwa mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara
Ka'bah.
Perjalanan
tim tiba-tiba dihadang oleh seorang pria yang mulia dari penduduk Yaman yang
bernama Dunaher. Ia mengajak kaumnya dan dari kalangan orang-orang Arab
untuk memerangi Abrahahh, sehingga ada beberapa orang yang
mengikutinya. Abrahahh berhadapan dengan tentara tersebut tetapi tim yang
sedikit itu dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang besar
itu. Kemudian Dunaher pun kalah dan menjadi tawanan Abrahahh. Pasukan
Abrahahh tersebut juga sempat ditentang oleh Nufail bin Hubaid al-Aslami, namun
Abrahahh pun dapat mengalahkan mereka dan berhasil menawan Nufail.
Kemudian
ketika Abrahahh melewati kota Taif, menghadaplah kepadanya beberapa orang tokoh
setempat, dan mereka tampak gemetar ketakutan dan berkata kepadanya bahwa
sesungguhnya 'rumah' yang ditujunya tidak berada di tempat mereka, tetapi
berada di Mekah. Hal itu mereka sampaikan dengan maksud untuk
memalingkannya dari rumah berhala mereka, di mana mereka membangun di dalamnya
berhala yang bernama Latha kemudian mereka mengutus seseorang yang akan
menunjukkan kepada Abrahahh letak Ka'bah. Ketika Abrahahh berada di antara
Taif dan Mekah, ia mengutus seorang pemimpin pasukannya sehingga ia melihat
kondisi Mekah. Di sana ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy dan
selain mereka, dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul
Muthalib bin Hasyim. Saat itu Abdul Muthalib adalah salah seorang pembesar
Quraisy dan pemimpin mereka, serta pengawas sumur Zamzam.
Kedatangan
utusan Abrahahh di Mekah telah menimbulkan gejolak pada
kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum
Khananah. Kemudian mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki kemampuan
untuk melawan Abrahahh, sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di
Jazirah Arab berita tentang datangnya pasukan yang kuat yang sulit untuk
ditandingi. Dalam surat yang dibawa oleh utusannya itu, Abrahahh
menyampaikan bahwa ia tidak datang untuk memerangi mereka, namun ia datang
hanya untuk menghancurkan Ka'bah. Jika mereka tidak menentangnya, maka
darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul
Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahahh. Abdul Muthalib
berkata: "Kami tidak ingin memeranginya karena kami tidak memiliki
kekuatan. Ka'bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah
kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat
suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki
kekuatan untuk mempertahankannya. " Kemudianutusan itu pergi bersama
Abdul Mutihalib menuju Abrahahh.
Abdul
Muthalib adalah seseorang yang sangat terpandang dan sangat mulia. Ia
memiliki kewibawaan dan kehormatan yang mengagumkan. Ketika Abrahahh melihatnya,
Abrahahh menampakkan penghormatan kepadanya. Abrahahh memuliakannya dan
mendudukannya di bawahnya, ia tidak suka bahwa ia duduk bersamanya di kursi
kekuasaannya. Lalu Abrahahh turun dari kursinya dan duduk di atas sebuah
permadani dan mendudukkan Abdul Muthalib di sisinya. Kemudian ia berkata
kepada penerjemahnya: "Katakan padanya apa kebutuhannya?" Abdul
Muthalib berkata: "Kebutuhanku adalah agar Abrahahh mengembalikan dua
ratus ekor unta yang diambilnya dariku" Ketika Abdul Muthalib mengatakan
demikian, wajah Abrahahh berubah, lalu ia berkata kepada penerjemahnya:
"Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku
merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, apakah engkau berbicara
denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu engkau
membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya dan kakek-kakeknya, yang aku
datang untuk menghancurkannya dan dia tidak menyinggungnya sama sekali
"Abdul Muthalib menjawab:" Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik
rumah itu adalah Tuhan yang melindunginya. " Abrahahh berkata:
"Dia tidak akan mampu melindunginya dariku." Abdul Muthalib
menjawab: "Lihat saja nanti!"
Selesailah
dialog antara Abdul Muthalib dan Abrahahh. Abrahahh pun mengembalikan unta
yang telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi menemui orang-orang Quraisy
dan menceritakan apa yang dialaminya, dan ia memerintahkan mereka untuk
meninggalkan Mekah dan berlindung dibalik gua-gua di gunung. Akhirnya kota
Mekah dikosongkan oleh pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke
gunung-gunung di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah
Arab.
Abdul
Muthalib berdiri dan memegangi pintu Ka'bah dan berdiri bersama dengan
sekelompok orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada Allah SWT dan meminta
perlindungan-Nya, agar para malaikat memerintahkan gajah-gajah tidak
melangkahkan kakinya sehingga gajah itu pun tetap di tempatnya dan menaati
perintah para malaikat, kemudian gajah-gajah itu menerima pukulan yang dahsyat
namun gajah-gajah itu tetap berdiam di tempatnya, gajah-gajah itu tampak
gemetar dan berteriak tetapi lagi-lagi gajah-gajah itu menolak untuk bergerak
dan tidak bergerak selangkah pun. Abrahahh bertanya: "Mengapa tim
tidak bergerak?" Kemudian dikatakan kepadanya bahwa gajah-gajah menolak
untuk bergerak. Abrahah mengangkat cemetinya. Dengan muka emosi, ia
ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya.
Matahari
saat itu bersinar dan ia duduk di kemahnya. Ketika ia keluar, matahari
bersembunyi di balik segerombolan burung. Abrahah mengangkat pandangannya
ke arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahwa ia melihat sekawanan awan
yang hitam. Kemudian ia mengamat-amati awan itu. Dan ternyata itu
bukan awan biasa. Itu adalah sekelompok burung yang menutupi cahaya
matahari dan menyerupai awan yang tebal. Burung ababil, burung yang
banyak.
Gajah-gajah
semakin berteriak dengan kencang dan tampak ketakutan. Dan rasa takut itu
kini menghinggapi seluruh tim. Abrahah berteriak di tengah-tengah
pasukannya agar gajah diusahakan untuk maju secara paksa. Kemudian
terbukalah salah satu jendela dari jendela al-Jahim, dan burung-burung itu
menghujani tim dengan batu dari Sertifikat, yaitu batu yang sama yang pernah
dihujankan kepada kaum Nabi Luth. Batu itu menyerupai bom-bom atom yang
digunakan saat ini.
Jika Anda
membaca buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui bagaimana peristiwa yang
menimpa pasukan Abrahah. Anda akan membayangkan bahwa Anda berada di
hadapan suatu kekuatan yang menghancurkan yang tidak diketahui asal
muasalnya. Dunia mengenal sebagian darinya setelah empat belas abad dari
peristiwa tersebut. Buku-buku itu mengatakan bahwa tim itu dihancurkan
dengan penghancuran yang dahsyat.
Para tentara
Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging-daging dari tubuh mereka
berceceran di jalan. Abrahah pun mendapatkan luka dan mereka keluar dari
tempat itu dalam kondisi dagingnya terpisah satu persatu. Abrahah pun
terbelah dadanya dan mati. Kemudian jasad para pasukannya tersebar dan
berceceran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah
mendekati setengah abad, turunlah suatu surah di Mekah yang menceritakan
tentang peristiwa itu:
"Apakah
kamu tidak memperhatikan bagimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara
gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka
'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang
berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal ) dari tanah
yang terbakar, lalu Dia menjadihan mereka seperti daun yang dimakan (ulat).
" (QS. al-Fil: 1-5)
Pasukan
gajah yang ingin memporak-porandakan Mekah dikalahkan. Kemudian mereka
dihancurkan dan Tuhan pemilik Ka'bah berhasil melindungi rumah
suci-Nya. Perlindungan tersebut bukan sebagai penghormatan bagi orang yang
tinggal di rumah itu dan bukan sebagai bentuk pengkabulan doa kaum yang
menyembah berhala yang memenuhi tempat itu. Allah SWT sebagai Pelindung
Ka'bah memeliharanya karena adanya hikmah yang tinggi; Allah SWT
menginginkan sesuatu bagi rumah itu; Allah SWT ingin melindunginya agar
tempat itu menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi
pusat dari akidah yang baru dan menjadi tanah bebas yang aman, yang tidak
dikuasai oleh seseorang pun dari luar dan juga tidak didominasi oleh
pemerintahan asing yang akan membatasi dakwah. Yang demikian itu karena di
sana ada rumah dari rumah-rumah di Mekah yang lahir di sana seorang anak di
mana ibunya bernama Aminah binti Wahab dan ayahnya adalah Abdullah, salah
seorang tokoh Arab. Anak itu belum dilahirkan dan belum dapat tugas
kenabian dan ia belum memikul Islam di atas pundaknya dan belum menjadi rahmat
bagi alam semesta. Kemudian datanglah Abrahah yang ingin menghancurkan
semua ini tanpa ia mengetahui semua rahasia ini.
Tragedi yang
menimpa Abrahah adalah karena bahwa ia berusaha menentang kehendak Ilahi
sehingga kehendak Ilahi itu menghancurkannya dengan mukjizat yang
mengagumkan. Datanglah banyak burung dengan membawa batu-batuan yang tidak
didengar suaranya. Kemudian burung-burung melemparkan batu-batu itu ke
Abrahah beserta tentaranya. Semua ini berdasarkan rencana Ilahi terhadap
rumah-Nya dan agama-Nya serta nabi-Nya sebelum orang mengetahui bahwa Nabi
Islam telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tidurnya di perut ibunya dan
mulai memasuki kehidupan yang keras di muka bumi.
Di
tengah-tengah kegembiraan Mekah karena keselamatan penghuninya dan selamatnya
Ka'bah, Aminah binti Wahab bermimpi: di tengah suatu malam ia menyaksikan
dirinya berdiri sendirian di tengah-tengah gurun, dan telah keluar dari dirinya
suatu cahaya besar yang menyinari timur dan barat dan terbentang sampai
langit. Aminah tiba-tiba terbangun dari tidurnya namun ia tidak mengetahui
tafsir dari mimpinya.
Berlalulah
hari demi hari dari tahun gajah. Dan pada waktu sahur dari malam Senin
hari keduabelas dari bulan Rabiul Awal, Aminah melahirkan seorang anak kecil
yang yatim yang bernama Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib, seorang cucu
dari Ismail bin Ibrahim bin Adam.
Sebelum ia
dilahirkan, dunia mati karena kehausan padanya. Kehausan dunia sangat
besar kepada cinta, rahmat, dan keadilan. Sekarang teIah berlalu 600 tahun
dari kelahiran al-Masih dan orang-orang Masehi telah menjauhi ajaran cinta,
bahkan keyakinan-keyakinan berhalaisme telah meresap kepada sebagian kelompok
mereka dan kejernihan ajaran tauhid telah ternodai.Sedangkan orang-orang Yahudi
telah meninggalkan wasiat-wasiat Musa dan mereka kembali menyembah lembu yang
terbuat dari emas. Dan setiap orang dari mereka lebih memilih untuk
memiliki lembu emas yang khusus. Demikianlah, berhalaisme telah menyerang
di bumi. Bumi dipenuhi oleh kegelapan. Akal disingkirkan dan Tuhan
diiupakan dan mereka menyerahkan diri mereka kepada pembohong.
Ketika
jantung dunia telah terkena kekeringan, maka memancarlah dari timur suatu mata
air keimanan yang jernih yang menjadi puas dengannya separo dunia. Dan
mukjizat besar terjadi ketika mata air ini mengeluarkan air yang jernih dari
jantung gurun yang paling besar ketandusannya di dunia, yaitu gurun jazirah
Arab. Berkenaan dengan penggambaran masa tersebut, dalam hadits yang mulia
dikatakan: "Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi lalu Dia murka kepada
mereka, baik orang-orang Arab maupun orang-orang Ajam kecuali sebagian kecil
dari Ahlulkitab."
Di tenda
yang kasar, lahirlah seorang anak yatim yang kemudian bertanggung jawab untuk
memberikan minum kepada dunia yang haus pada cinta, keadilan, kebebasan, serta
kebenaran. Sementara itu, beberapa langkah dari tempat kelahirannya terdapat
berhala-berhala yang memenuhi Baitul 'Athiq dan sekitar Ka'bah yang dibangun
oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar menjadi rumah Allah SWT dan Dia disembah
di dalamnya dan manusia merasa tenteram di dalamnya. Di rumah yang kuno
ini—yang dibangun sebelumnya oleh Adam—dipenuhi patung-patung tuhan yang
terbuat dari batu dan kayu. Ini menunjukkan betapa akal orang-orang Arab saat
itu mengalami titik terendah.
Sementara
itu nun jauh di sana, tepatnya di Yatsrib atau Madinah dipenuhi oleh
orang-orang Yahudi yang mereka datang di sana karena melarikan diri dari
penindasan orang-orang Romawi.Mereka tinggal di situ bagaikan srigala-srigala
di atas tanah yang tersubur di mana mereka melakukan monopoli dalam
perdagangan. Mereka membagun kejayaan mereka dengan memanfaatkan
orang-orang Arab dan keheranan mereka terhadap diri mereka sendiri.
Para
cendikiawan Yahudi memperdagangkan segala sesuatu, dimulai dari emas sampai
Taurat. Mereka menyembunyikan kertas-kertas darinya dan menampakkan
sebagiannya; mereka mengubah kertas-kertas Taurat itu untuk memperkaya diri
mereka. Pada saat orang-orang Yahudi menyembah emas dan sangat lihai melakukan
persekongkolan, orang-orang Arab justru menyembah batu dan mereka pandai
berperang. Mereka juga lihai dalam membuat syair lalu menggantungkannya di atas
tirai-tirai Ka'bah. Orang-orang Arab hidup di bawah naungan sistem kesukuan di
mana kepala suku adalah pemimpin dan nilainya sebanding dengan anak buahnya,
dan kemampuan mereka dalam berperang. Dan keutamaan seseorang dilihat dari asal
muasalnya serta nilainya juga dilihat dari kefanatikannya serta kebanggannya
kepada nasab yang merupakan kemuliannya, juga kefanatikannya terhadap berhala
tertentu yang merupakan agamanya. Jadi, segala bentuk kemuliaan dan kewibawaan
tidak terbentuk kecuali dalam ruang lingkup yang sempit dalam kabilah atau
kesukuan.
Sedangkan di
tempat yang jauh dari Mekah, Romawi menyerupai burung rajawali yang lemah,
namun belum sampai kehilangan kekuatannya. Orang-orang Romawi sangat menyanjung
kekuatan. Sedangkan di belahan timur dari utara negeri Arab, orang-orang Persia
menyembah api dan air. Api tetap menyala di tempat peribadatan mereka di mana
manusia rukuk untuknya. Dan di sana terdapat danau Sawah yang dianggap suci
oleh mereka.
Sementara
itu, Kisra, raja kaum Persia duduk di atas singgasananya dan memberikan
keputusan terhadap manusia. Keputusan Kisra selalu didengar dan dilaksanakan. Tidak
ada seorang pun yang berani menentangnya dan menolaknya. Orang-orang
Persia berhasil mengalahkan Romawi dan Yunani, sehingga mereka menjadi kekuatan
yang dahsyat di muka bumi. Meskipun mereka memiliki kekuatan yang sangat
luar biasa, namun penyembahan api jelas-jelas menunjukkan betapa bodohnya
mereka dan betapa kekuatan mereka diliputi oleh kebodohan sehingga akal mereka
tercabut dan mereka terhalangi untuk mencapai kebenaran. Alhasil,
kegelapan semakin meningkat di setiap penjuru bumi dan kehidupan berubah
menjadi hutan yang lebat di mana di dalamnya seorang yang kuat akan
menyingkirkan seorang yang lemah dan di dalamnya yang menang adalah kebatilan.
Di
tengah-tengah suasana yang demikian kelam, lahirlah seorang anak di tenda
Mekah. Ketika anak tersebut lahir, maka padamlah api yang disembah oleh
kaum Persia dan keringlah danau Sawah yang disucikan oleh manusia, bahkan
robohlah empat belas loteng dari istana Kisra. Dan setan merasa bahwa
penderitaan yang besar telah merobek-robek hatinya. Ini semua sebagai
simbol dimulainya kehancuran kejahatan atau keburukan di muka bumi dan
terbebasnya akal manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia atau terhadap
hal-hal yang bersifat khurafat.Manusia diajak hanya untuk menyembah kepada Allah
SWT. Kelahiran Rasul sebagai bukti hilangnya kelaliman, sebagaimana
kelahiran Nabi Musa yang menunjukkan kebebasan Bani Israil dari kelaliman
Fir'aun.
Ajaran
Muhammad bin Abdillah merupakan ajaran revolusi yang paling meyakinkan dan yang
paling penting yang pernah dikenal di dunia; ajaran yang bertugas untuk
menyelamatkan dan membebaskan akal dan materi. Tentara Al-Qur'an adalah tentara
yang paling adil dan paling berani untuk menghancurkan orang-orang yang lalim.
Kita akan melihat dalam sejarah Nabi bahwa kejadian-kejadian luar biasa telah
mengelilingi Ka'bah sebelum kelahirannya. Kemudian terjadilah peristiwa luar
biasa setelah kelahirannya di mana terjadilah peristiwa pembelahan dada pada
saat beliau masih kecil, begitu juga beliau dinaungi oleh awan di waktu kecil,
bahkan beliau terkenal pada saat masih kecil dengan kecenderungan untuk
meninggalkan permainan-permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak kecil
seusia beliau. Allah SWT memberikan penjagaan khusus kepadanya sehingga Jibril
as turun kepadanya dengan membawa wahyu.
Selanjutnya,
mukjizatnya yang pertama adalah mukjizat yang ada pada kepribadiannya dan
pemikiran-pemikirannya. Itulah yang menjadi mukjizatnya yang terbesar
setelah Al-Qur'an; itu adalah bangunan ruhani yang tinggi di mana ia mampu
menahan penderitaan di jalan Allah SWT. Dan dalam menegakkan kebenaran,
beliau memikul berbagai macam rintangan. Beliau melaksanakan amanat yang
diembannya secara sempuma dan sebaik-baik mungkin. Hal yang indah yang
dikatakan tentang mukjizat Nabi setelah diutusnya beliau adalah bahwa beliau
tidak memiliki mukjizat selain usaha membebaskan akal: tanpa memiliki kekuatan
luar biasa selain membebaskan pikiran, tanpa dalil selain kalimat Allah SWT.
Sedangkan
Isa bin Maryam telah berdakwah dan mengajak manusia untuk menciptakan kesamaan,
persaudaraan, dan cinta kasih di antara mereka, namun Muhammad saw diberi
karunia untuk mewujudkan persamaan, persaudaraan, dan cinta kasih di antara
orang-orang mukmin di tengah-tengah kehidupannya dan setelah kehidupannya.
Ketika Nabi
Isa mampu menghidupkan orang-orang yang mati dan mengeluarkan mereka dari
kuburan, Muhammad bin Abdillah menghidupkan orang-orang hidup dari kematian
mereka yang tidak pernah mereka sadari. Itu adalah bentuk kematian yang
paling berat. Dia juga mengeluarkan rnereka dari kegelapan dan kebodohan
menuju cahaya ilmu, dan dari belenggu syirik dan kekufuran menuju dunia tauhid.
Sulaiman
sebagai seorang Nabi dan raja mampu memperkerjakan jin untuk mengabdi padanya,
bahkan mereka mampu terbang ribuan mil untuk menghadirkan singgasana
musuh-musuhnya agar mereka semua tercengang terhadap kemampuannya, sehingga
mereka masuk Islam. Namun Muhammad saw justru mengabdi kepada Islam hanya
sebagai seorang tentara yang sederhana.Beliau mengetahui bahwa ketika beliau
lalai sesaat saja dari dakwah di jalan Allah SWT, maka kesempatannya dalam
menyebarkan agama Islam akan hilang.
Di saat
terjadi peristiwa besar dalam peperangan, tiba-tiba azan salat dikumandangkan,
sehingga para pasukan yang berperang mengerjakan salat. Tidak ada malaikat
yang turun untuk melindungi mereka ketika salat atau mencegah datangnya
anak-anak panah dari punggung mereka saat sujud. Karena itu, hendaklah
para tim melindungi dirinya sendiri. Para tim mukmin berusaha salat secara
bergantian: sebagian mereka salat dan sebagian mereka bertugas untuk menjaga.
Allah SWT
berfirman:
"Dan
apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak
mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri
(shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian ketika mereka sujud (telah
menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk
menghadapi musuh) dan harus datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu
bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan
menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu
dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. "(QS. an-Nisa
': 102)
Selesailah
masalah itu dan tidak adak malaikat yang turun untuk melindunginya dan
menolongnya. Ini adalah masa kematangan akal dan waktu kelelahan para nabi
dan orang-orang mukmin.Dan sesuai tingkat kelelahan mereka dalam menyampaikan
ajaran Islam, mereka pun akan mendapatkan balasan yang besar.
Pada masa
para nabi sebelum Nabi Muhammad saw, mereka menghadirkan mukjizat-mukjizat
kepada kaum mereka saat memulai dakwah, sehingga kaum tersebut mempercayai apa
saja yang mereka bawa, sedangkan Nabi Muhammad bin Abdillah tidak menghadirkan
kepada kaumnya selain dirinya dan ketulusannya.
Allah SWT
telah memutuskan untuk melindungi Musa dan memerintahkannya untuk mengangkat
gunung di atas kaumnya hingga mereka beriman kepada Taurat, atau untuk
menjatuhkan gunung tersebut di atas mereka. Ketika mengetahui hal yang
Demikian itu, orang-orang Yahudi sujud dengan meletakkan pipi mereka di atas
tanah dan mereka mengamati bukit batu yang berada di atas kepala mereka yang
diangkat oleh tangan yang tersembunyi. Sedangkan Nabi Muhammad bin
Abdillah tak pernah memaksa seseorang pun. Berimanlah beberapa orang
kepadanya dan puaslah beberapa orang kepadanya dan matilah bersamanya
orang-orang yang mati dalam keadaan puas. Beliau tidak membawa pedang
kecuali saat panah yang beracun mendekati jantung Islam dan mengancamnya.
Dakwah para
nabi menuntut terjadinya mukjizat demi mukjizat. Ini karena masa
kekanak-kanakan manusia serta kelemahan akal dan hilangnya indera menuntut
rahmat Allah SWT untuk mendatangkan mukjizat yang sesuai dengan waktu turunnya
mukjizat tersebut dan budaya masyarakat setempat. Adalah hal yang maklum
bahwa di tengah-tengah penduduk Mekah saat itu tidak terdapat orang-orang yang
cerdas atau orang-orang yang bijak yang mampu menyerap kata-kata yang
baik. Dan kesulitan yang dihadapi oleh Islam adalah bahwa ia tidak diturankan
pada saat ini saja, tetapi Islam diturunkan untuk setiap waktu. Allah SWT
mengetahui bahwa manusia telah memasuki masa kematangan berpikir yang
mengagumkan, maka hikmah-Nya menuntut bahwa pernyataan yang pertama kali
disebutkan dalam risalah-Nya adalah "iqra '" (bacalah). Di
samping itu, risalah tersebut mengandung pemikiran yang universal, sistem yang
membangun, dan hukum yang mempesona, serta kebebasan yang diidamkan, dan
manusia yang sempurna.
Adalah tidak
mengurangi kehormatan para nabi sebelum Nabi Muhammad saw di mana mereka tidak
diutus di masa-masa kematangan pemikiran, tetapi yang menambah kehormatan Nabi
Muhammad saw bahwa beliau diutus di tengah-tengah masa kematangan berpikir, dan
beliau diutus sebelum datangnya masa ini. Beliau memikul berbagai lipat
cobaan yang pernah dipikul oleh para nabi; beliau berdakwah dengan
menanggung berbagai lipat godaan dan cobaan; ia mengalami siksaan yang
pernah dialami oleh semua para nabi; beliau mencintai Allah SWT
sebagaimana para nabi mencintai-Nya. Allah SWT memuliakannya ketika beliau
mengimami mereka di saat salat pada saat beliau melakukan Isra 'dan
Mi'raj. Meskipun demikian, ketika beliau keluar pada suatu hari menemui
sahabat-sahabatnya dan menemukan mereka mengutamakan para nabi dan
mendahulukannya atas mereka, maka ia justru menampakkan kemarahan dan wajahnya
berubah.Dia berkata: "Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yunus bin
Mata."
Melalui
pernyataan itu, beliau berusaha meletakkan suatu pondasi pemikiran yang harus
dilalui oleh kaum Muslim di mana para nabi memang memiliki derajat tertentu di
sisi Allah SWT. Bisa jadi ada nabi yang lebih afdal atau yang lebih mulia
dari yang lain. Siapakah yang menetapkan hal itu? Tidak ada seorang
pun selain Allah SWT. Ada pun kaum Muslim harus mereka berhenti pada batas
tertentu yang seharusnya mereka berikan terkait dengan sopan santun terhadap
para nabi. Selama Allah SWT menyampaikan shalawat kepada rasul sebagai
bentuk penghormatan dan memerintahkan mereka untuk menyampaikan shalawat
kepadanya, dan selama Rasulullah seperti nabi-nabi yang lain, maka hendaklah
mereka juga bershalawat kepada semua nabi tanpa perbedaan, meskipun pada bentuk
shalawat itu sendiri.
Sementara
itu, bayi yang mungil itu yang lahir di Mekah bergerak setelah tahun gajah.
Kemudian berita tersebar di sana sini dan Sampailah ke telinga kakeknya bahwa
cucunya telah dilahirkan. Abdul Muthalib segera menuju ke tempat itu dan
membawa cucunya yang yatim lalu berkeliling dengannya di Ka'bah sambil
memikirkan namanya. Abdul Muthalib tidak merasa terpukau dengan nama-nama yang
mulai beredar di benaknya. Ia tampak bingung menentukan nama yang paling tepat
buat cucunya, bahkan kebingungannya itu berlanjut sampai enam hari, sehingga
sang Nabi disunat. Ketika malam telah menyelimuti kawasan Mekah, datanglah kepadanya
suara yang sama yang dulu pernah dilihatnya dan didengarnya yang
memerintahkannya untuk menggali zamzam. Di tengah-tengah tidurnya, suara itu
membisikkan kepadanya bahwa nama cucunya berasal dari al-Ham, yang
berarti Muhammad atau Ahmad.
Orang-orang
Quraisy bertanya kepada Abdul Muthalib: "Nama apa yang engkau berikan
kepada cucumu?" Abdul Muthalib menjawab sambil mengingat bisikan
suara yang didengarnya saat mimpi, "Muhammad." Nama tersebut
sebenamya tidak umum di kalangan orang-orang Jahilliyah. Mereka bertanya,
"Mengapa Abdul Muthalib tidak memakai narna-nama kakek-kakeknya dan
nama-nama yang biasa dipakai di kalangan mereka." Abdul Muthalib
menjawab: "Aku ingin Allah SWT memujinya di langit dan manusia memujinya
di bumi."
Kami tidak
mengetahui dorongan apa yang mendikte Abdul Muthalib untuk menyatakan kalimat
tersebut. Apakah kalimat itu bersumber dari realitas kebanggaan orang-orang
Arab yang populer atau berasal dari realitas kebanggaan tradisional? Atau,
apakah berangkat dari realitas kegembiraan yang dalam dengan kelahiran si cucu,
ataukah kalimat itu bersumber dari suasana ruhani yang jernih dan bisikan alam
gaib? Tentu kami tidak bisa menjawab. Yang dapat kami ketahui adalah bahwa
seseorang tidak akan layak menyandang predikat manusia yang dipuji di bumi dan
dipuji oleh Allah SWT di langit seperti predikat yang disandang oleh Muhammad
bin Abdillah.
Nabi
Muhammad saw muncul ke alam ada dalam keadaan yatim. Beliau ditinggalkan
oleh ayahnya saat beliau masih janin di dalam perut ibunya. Allah SWT berfirman:
"Bukankah
Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?" (QS.
adh-Dhuha: 6)
Allah SWT
melindunginya. Orang-orang sufi mengatakan bahwa sebab-sebab kemanusiaan
seperti adanya kakeknya Abdul Muthalib dan bagaimana ia mengasuhnya dan melindunginya
tidak lain hanya bentuk lahiriah yang tidak begitu penting, sedangkan bentuk
batiniah yang sebenarnya adalah kita berada di hadapan manusia yang dilindungi
dan diasuh oleh Tuhannya sejak masih kecil. Allah SWT mendidiknya saat
beliau masih kecil, dan mengujinya dengan keyatiman saat beliau masih janin
serta mengujinya dengan kelaparan sejak masih kecil, dan dewasa dengan kematian
si ibu, saat beliau masih kecil dengan keterasingan di tengah-tengah keramaian,
dan dengan terjaga di tengah-tengah tidur serta dengan penderitaan demi
penderitaan. Allah SWT telah menyiapkannya sejak usia dini untuk memikul
beban risalah terakhir.
Selanjutnya,
ibunya seringkali memeluknya lebih dari sebelumnya. Ia melihat bahwa banyak
dari wanita-wanita yang menyusui tidak berkenan untuk mengasuhnya. Adalah sudah
menjadi tradisi yang berkembang di Mekah di mana keluarga-keluarga yang mulia
mengirim anaknya ke kawasan dusun agar anak tersebut menyerap dan menghirup
udara segar serta memperoleh mainan yang memadai. Dan biasanya wanita-wanita
yang menyusui anak-anak lebih tertarik menyusui anak-anak dari orang-orang
kaya. Namun ketika pemimpin manusia seorang yang fakir, maka wanita-wanita yang
biasa menyusui tidak berminat kepadanya.
Marilah kita
telusuri bagaimana Halimah binti Abi Duaib menceritakan kisahnya bersama anak
kecil yang disusuinya: "Saat itu terjadi musim tandus dan kami tidak
memiliki sesuatu sehingga aku dan suamiku mengalami kemiskinan yang luar biasa.
Lalu kami menetapkan keluar ke Mekah dan menemani wanita-wanita dari Bani
Sa'ad. Kami semua mencari anak-anak yang masih menvusu agar orang tua mereka
dapat membantu kami untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Binatang
yang aku tunggangi sangat lemah dan sangat kurus yang itu semua disebabkan oleh
kekurangan makanan. Bahkan kami khawatir kalau-kalau ia berhenti di tengah
perjalanan dan mati. Dan kami tidak tidur semalaman karena melihat kondisi anak
kecil yang bersama kami. Ia menangis karena tidak menemukan makanan yang dapat
dimakannya. Ia menangis karena kelaparan dan tidak mendapat air susu, baik dari
air susuku maupun air susu unta yang dibawa oleh suamiku, sehingga kami tidak
dapat memuaskan dahaganya. Di tengah-tengah malam, aku merasakan keputusasaan.
Aku bertanya-tanya bagaimana aku dapat melakukan sesuatu dalam keadaan yang
demikian.
Akhirnya,
kami sampai di Mekah. Sementara itu, wanita-wanita yang ingin mencari anak-anak
yang dapat mereka susui telah mendahului kami. Mereka mengambil anak-anak kecil
yang mereka sukai, kecuali satu anak, yaitu Muhammad di mana ayahnya telah
meninggal dan ia berasal dari keluarga yang miskin meskipun sebenarnya
kedudukannya sangat mulia di antara tokoh-tokoh Quraisy. Oleh karena itu,
wanita-wanita enggan untuk mengasuhnya. Namun aku dan suamiku tidak sepaham
dengan mereka karena aku tidak peduli dengan keyatiman dan kcfakirannya.
Kemudian aku malu untuk kembali dan tidak mengambil bayi yang dapat aku susui
kemudian. Di samping itu, aku malu jika mendapat cercaan dari wanita-wanita
itu. Lalu aku merasakan adanya kasih sayang yang memenuhi hatiku terhadap anak
kecil yang tampan itu yang akan diganggu oleh udara yang kotor."
Kisah
tersebut mengatakan bahwa saat anak-anak kecil mendapatkan wanita-wanita yang
menyusuinya, maka Muhammad bin Abdillah sedang tidur dalam keadaan lapar di ranjangnya
yang kasar, tanpa disusui oleh siapa pun. Suatu hikmah yang tinggi
berkehendak agar bayi yang masih menyusui itu menghadapi dunia dalam keadaan
yatim dan dalam keadaan kelaparan agar ia dapat merasakan penderitaan anak-anak
yatim dan orang-orang yang lapar sebelum ia menyelamatkan mereka.
Halimah
mengatakan bahwa ia meyakinkan suaminya bahwa ia merasakan keinginan yang kuat
untuk mengambil anak yatim ini, sehingga suaminya menyetujuinya. Halimah tidak
mengetahui rahasia keinginannya yang samar agar ia kembali untuk mengambil anak
yatirn yang masih menyusu ini. Ia tidak mengetahui bahwa Allah SWT telah
menanamkan rasa cinta kepada anak kecil itu dalam hatinya seperti Allah SWT
menanamkan cinta kepada Musa pada hati isteri Fir'aun. Jika Musa menolak
wanita-wanita lain untuk menyusuinya kecuali ibunya setelah Allah SWT
mencegahnya dari susuan wanita-wanita lain agar ibunya merasa bahagia dan tidak
bersedih, maka Muhammad bin Abdillah—seorang anak kecil yang masih menyusu dan
mulia—-justru ditolak oleh wanita-wanita yang menyusui, sedangkan ia sendiri
tidak pernah menolak seseorang pun.
Halimah
kembali kepadanya dan ia memberitahu bahwa ia akan mengasuhnya. Nabi
Muhammad saw adalah seorang yang mulia. Halimah meletakkan tangannya di
dadanya, sehingga anak kecil itu tertawa. Halimah mencium di antara kedua
matanya. la meletakkannya di kamarnya. Halimah mengetahui bahwa kedua
air susunya telah kering, namun tiba-tiba air susunya memancar dengan keras
sebagai bentuk kasih sayang dan tanda kebesaran dari Allah SWT. Kini
Halimah pun dapat menyusuinya. Apakah itu merupakan hikmah yang tinggi di
mana anak kecil tersebut merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit? Ataukah
anak kecil itu sudah dapat mendidik dirinya untuk zuhud dan qanaah sebelum ia
mendidik orang-orang dewasa tentang pengorbanan dan kesatriaan?
Halimah
kembali ke gurun Bani Sa'ad dan ia membawa Muhammad bin Abdillah. Belum
lama ia menyaksikan tanahnya yang tandus sehingga tiba-tiba kebaikan dunia
terbuka dan mekar didepannya, di mana bumi dipenuhi dengan kehijau-hijauan
setelah mengalami masa tandus. Pohon-pohon berbuah dan buah kurma tampak
berseri-seri setelah sebelumnya layu, bahkan susu-susu binatang pun mulai
tampak banyak. Allah SWT memberikan berkah-Nya ke tempat
tersebut. Halimah mengetahui bahwa kabaikan ini telah datang bersama
kedatangan anak kecil yang diberkahi, sehingga cintanya kepada anak itu semakin
bertambah. Bahkan suaminya pun menjadi tawanan cinta yang lain kepada
Muhammad saw.
Pada suatu
hari ia berkata kepada istrinya: "Apakah engkau mengetahui wahai Halimah
bahwa engkau telah mengambil seorang anak yang mulia?" Halimah
mengatakan: "Anak kecil itu tidak menangis dan tidak berteriak kecuali
ketika ia telanjang." Ketika anak kecil itu gelisah di tengah malam
dan tidak tidur, maka Halimah membawanya keluar dari kemah dan ia berhenti
bersamanya di bawah sinar bintang. Saat itu anak itu tampak bergembira
ketika menyaksikan langit. Setelah kedua matanya terpuaskan oleh pandangan
ke arah langit, ia pun mulai tidur.
Ketika anak
itu mencapai tahun yang kedua, maka ia telah disapih, sehingga ibunya ingin
mengambilnya, tetapi Halimah tidak kuat untuk menahan perpisahan
ini. Halimah menjatuhkan dirinya di hadapan kedua kaki sang ibu dan ia
mulai menciuminya dan ia meminta agar membiarkannya bersama anaknya sehingga
anak itu benar-benar kuat dan dapat kembali menghirup udara segar
gurun. Akhirnya, Rasulullah saw tinggal di tempat Bani Sa'ad sampai lima
tahun. Dan pada masa lima tahun ini terjadi peristiwa penting yang
terkenal dengan peristiwa pembelahan dada.Kehendak Ilahi telah menetapkan
kepada Ruhul Amin, yaitu Jibril untuk menemui Muhammad bin
Abdillah dan membelah dadanya dengan perintah Ilahi serta menyuci hatinya
dengan rahmat dan mengeringkannya dengan cahaya dan mengeluarkan bagian dunia
darinya.
Seperti
biasanya Rasulullah saw keluar pada suatu hari bersama saudara susuannya dengan
menunggangi sekawanan domba menuju tempat pengembalaan. Di tengah hari,
saudaranya berlari-lari dalam keadaan takut dan menangis sambil berteriak bahwa
Muhammad telah terbunuh. Muhammad diambil oleh dua orang laki-laki yang memakai
baju yang putih lalu kedua orang itu menelentangkannya dan membelah dadanya.
Mendengar
hal itu, Halimah sangat kaget dan terpukul. Ia segera pergi sambil berlari
mencari Muhammad dan diikuti oleh suaminya yang mengikuti petunjuk anak kecil
dari saudara Muhammad. Akhirnya, mereka menemukan Muhammad sedang duduk di atas
tanah di mana wajahnya tampak pucat dan kedua matanya menyala.
Halimah dan
suaminya mencium dengan lembut dan mulai menampakkan kasih
sayangnya. Kemudian mereka bertanya, "apa yang
terjadi?" Muhammad menjawab: "Ketika aku memperhatikan
domba-domba yang sedang bermain aku dikagetkan dengan kedatangan dua orang yang
memakai pakaian yang putih. Mula-mula aku menyangka bahwa mereka adalah burung
yang besar, namun ternyata aku salah. Mereka adalah dua orang yang tidak aku
kenal yang memakai pakaian warna putih. Salah seorang dari mereka berkata
kepada temannya dengan menunjuk ke arahku, "Apakah ini anaknya?" Yang
lain menjawab, "benar." Aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Lalu
mereka mengambilku dan menidurkan aku serta membelah dadaku dan mereka
mengambil sesuatu darinya hingga mereka mendapatinya dan membuangnya jauh-jauh.
Setelah itu, mereka bersembunyi laksana bayangan. "
Hadis
tersebut diriwayatkan oleh Anas dan juga diriwayatkan oleh Muslim dan
Ahmad. Para mufasir berbeda pendapat tentang simbolisme yang dalam
ini. Sebagaian besar ulama menakwilkan peristiwa tersebut. Ahli
klasik, seperti Qurthubi berpendapat bahwa peristiwa itu diisyaratkan oleh
firman-Nya: "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu ?. " (QS.
Alam Nasyrah: 1)
Sedangkan
tokoh-tokoh hadis, seperti Ghazali berpendapat bahwa manusia istimewa seperti
Muhammad saw tidak mungkin terlepas dari bimbingan Ilahi dan tidak mungkin
terkena waswas sekecil apa pun yang biasa menimpa manusia biasa. Jika
suatu kejahatan menjadi suatu gelombang yang memenuhi cakrawala, maka di sana
ada hati yang segera memungutnya dan terpengaruh dengannya, namun hati para nabi
dengan adanya bimbingan Allah SWT tidak akan terpanggil dan tidak terkena arus
kejahatan tersebut.
Dengan
demikian, usaha para nabi terfokus pada peningkatan kemajuan atau ketinggian,
bukan memerangi kerendahan. Diriwayatkan oleh Abdillah bin Mas'ud bahwa Rasulullah
saw bersabda: "Tidak ada seseorang di antara kalian kecuali ia diawasi
oleh temannya dari kalangan jin dan temannya dan dari kalangan malaikat."
Para sahabat berkata: "Apakah hal itu juga berlaku kepadamu wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya, tetapi Allah SWT membantuku,
sehingga ia berserah diri dan tidak memerintahkan kepadaku kecuali dalam
kebaikan."
Begitulah
sikap orang-orang yang dahulu dan para ahli hadits terkait dengan peristiwa
pembelahan dada. Kami kira bahwa kejadian yang luar biasa tersebut
berhubungan dengan persiapan Nabi untuk melalui Isra 'dan Mi'raj. Ini
adalah perjalanan di mana Rasulullah saw akan menebus alam angkasa dan akan
mencapai alam langit. Kemudian ia akan melampaui alam ini, sehingga sampai
di Sidratul Muntaha yang di sana ada Janatul Ma'wah.
Pandangan
tersebut kembali kepada pendapat kami yang mengatakan bahwa peristiwa
pembelahan dada berulang lebih dari sekali saat Rasul saw mencapai usia lima
puluh tahun. Dan peristiwa pembelahan dada terjadi kedua kalinya pada malam
Isra' dan Mi'raj.
Bukhari
meriwayatkan dari Malik bin Sh'asha'a bahwa Rasulullah saw menceritakan kepada
mereka peristiwa malam Isra 'di mana beliau bersabda: "Ketika aku berada
di Hathim-atau beliau berkata di Hijr-saat aku dalam keadaan antara tidur dan
bangun, maka seorang datang kepadaku lalu ia membelah antara ini dan ini. Yaitu
antara kerongkongan dan perutnya. Dia melanjutkan: Lalu ia mengeluarkan hatiku
dan membawa mangkok dari emas yang penuh dengan keimanan lalu ia menyuci
hatiku. Kemudian diulanginya. "
Kami kira
bahwa pembelahan dada merupakan bentuk simbolis yang menunjukkan kesucian Rasul
saw dan sebagai bentuk penyiapannya untuk melalui Isra' dan Mi'raj. Itu
merupakan pemberitahuan dari Ilahi bahwa anak ini akan mencapai suatu kedudukan
yang belum pernah dicapai oleh manusia dan tidak akan dicapai manusia
sesudahnya. Setelah peritiwa pembelahan dada, berubahlah kehidupan anak kecil
itu di mana sebagian besar waktunya digunakan untuk merenung dan menyendiri.
Dari roman wajahnya tampak keseriusan yang biasanya menghiasi wajah orang-orang
dewasa.
Berlalulah
hari demi hari, tahun demi tahun dan Selesailah masa menetapnya bersama Halimah
di dusun Bani Sa'ad. Dia sangat terpengaruh dan sangat terkesan dengan
kondisi di sana.Diriwayatkan bahwa beliau pemah mengingat masa kecilnya di Bani
Sa'ad dan beliau membanggakannya. Dia menyebutkan pengorbanan mereka dan
sikap mereka yang baik. Dia berkata: "Aku termasuk dari Bani Sa'ad,
tanpa bermaksud menyombongkan diri. Jika mereka berhadapan atau menyaksikan
salah seorang mereka lapar, maka mereka akan membagi makanan di antara
mereka."
Kemudian
Muhammad bin Abdillah kembali ke Mekah saat usianya lima tahun. Dia hidup
beberapa hari bersama ibunya di mana si ibu merasakan kesedihan yang dalam atas
kepergian ayahnya. Sesuai janji untuk mengingat ayahnya yang telah pergi,
Aminah menetapkan untuk mengunjungi kuburannya di Yatsrib. Jarak antara
Mekah dan Yatsrib lebih dari lima ratus kilo meter di gurun yang kering yang
jauh dari tanda-tanda kehidupan. Anak itu menempuh peijalanan yang
berat. Setelah perjalanan yang berat ini, Muhammad bin Abdillah tinggal di
tempat paman-paman dari ibunya di Madinah selama satu bulan. Muhammad
melihat rumah yang di situ ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan. Ia berziarah
bersama ibunya ke kuburan yang sederhana yang ayahnya dikuburkan di
dalamnya. Mula-mula pikirannya terfokus pada keadaan yatim sambil ia mulai
memperhatikan linangan air mata ibunya yang diam.
Selesailah
masa satu bulan keberadaannya di sisi paman-pamannya. Kemudian ibunya
menemaninya untuk kembali ke Mekah. Kedua anak manusia itu sampai di
pertengahan jalan. Muhammad bin Abdillah tidak mengetahui rahasia kepucatan
wajah ibunya. Lalu malaikatul maut turun di suatu tempat yang yang bernama
Abwa. Di situlah Aminah binti Wahab telah bertemu dengan kekasihnya, Allah SWT.
Sang ibu
meninggal dan meninggalkan anak satu-satunya bersama seorang
pembantu. Pembantu itu menampakkan rasa kasihnya terhadap anak kecil yang
kehilangan ayahnya saat masih janin dan kehilangan ibunya saat berusia enam
tahun. Muhammad bin Abdillah kini menjadi sendiri dan ia dalam keadaan
menangis. Ia mencapai kematangan setelah ia melewati kesedihan kehidupan
dan kerasnya kehidupan sebagai anak yatim.
Rasulullah
saw pernah ditanya setelah masa diutusnya: "Bagaimana
pandanganmu?" Beliau menjawab: "Pengetahuan adalah modalku. Akal
adalah dasar agamaku. Cinta adalah pondasiku. Zikrullah adalah kesenanganku.
Dan kesedihan adalah temanku."
Allah SWT
telah menyiramkan kepadanya sungai kesedihan sehingga ia dapat memberikan
kepada manusia buah dari kegembiraan dan ketulusan.
Anak kecil
itu kembali ke Mekah dalam keadaan sedih dan ia tampak terpaku. Lalu Abdul
Muthalib, kakeknya menampakkan cinta yang luar biasa dan penghormatan
padanya. Setelah dua tahun ketika Muhammad bin Abdillah berusia delapan
tahun, maka meninggallah salah satu benteng yang terbaik yang menjaganya, yaitu
kakeknya Abdul Muthalib. Kemudian anak kecil itu kini merenungi kakeknya
laksana orang dewasa. Ia tampak tegar seperti layaknya orang dewasa.
Kita tidak
mengetahui mengapa terjadi demikian. Mengapa hikmah Allah SWT mencegah
Nabi yang terakhir untuk mendapatkan kasih sayang seorang ayah, kasih sayang
seorang ibu, dan bimbingan seorang kakek? Apakah Allah SWT ingin memberi
Nabi yang terakhir suatu kasih sayang dan cinta yang semata-mata bersumber dari
sisi-Nya? Apakah Allah SWT ingin mendidiknya dengan kesedihan dan
memberinya perasaan-perasaan yang penuh dengan penderitaan? Apakah Allah
SWT ingin membuat hati Rasul-Nya hanya tertuju kepadanya? Dahulu Allah SWT
berkata kepada Musa:
"Dan
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." (QS.
Thaha: 41)
Dahulu Allah
SWT memberi kabar gembira kepada Musa di dalam Taurat sebagaimana Yesus memberi
kabar gembira di dalam Injil dengan kedatangan seorang Nabi setelahnya yang
bernama Ahmad. Dan Nabi Musa meminta kepada Tuhannya agar memberinya dan
memberi umatnya puncak prioritas, lalu Allah SWT menjawab bahwa Dia telah
menetapkan prioritas ini kepada Nabi yang terakhir Ahmad dan umatnya.
Allah SWT
telah memilih Musa untuk diri-Nya. Meskipun Demikian, Dia tidak
mencegahnya untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan mendidiknya di
tengah-tengah keluarganya.Namun Dia berkehendak untuk membuat Nabi yang
terakhir tercegah dari mendapatkan kasih sayang seorang manusia dan cinta
seorang manusia, sehingga Nabi tersebut hanya mendapatkan kasih sayang Ilahi
dan cinta Ilahi.
Allah SWT
berfirman menceritakan tentang kondisi Rasul terakhir:
"Bukankah
Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu
sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu
sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap
anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang . Dan terhadap orang
yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat
Tuhanmu maha hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). " (QS.
Ad-Dhuha: 6-11)
Makna ayat
tersebut secara harfiah adalah bahwa beliau dalam keadaan yatim lalu Allah SWT
melindunginya; beliau dalam keadaan tersesat lalu Allah SWT memberinya
petunjuk; beliau dalam keadaan fakir lalu Allah SWT
memampukannya. Allah SWT melindunginya dengan mengasuhnya, membimbingnya,
dan mencukupinya. Itu adalah derajat prioritas yang tidak pernah dicapai
oleh seseorang pun di dunia.
Setelah
kematian kakeknya, maka pamannya Abu Thalib mengasuhnya. Allah SWT telah
meletakkan kecintaan pada hati pamannya, sehingga pamannya mengutamakan
Muhammad saw daripada anak-anaknya dan memuliakannya serta menghormatinya, bahkan
Abu Thalib mendudukkannya di ranjangnya yang biasa dibentangkannya di hadapan
Ka'bah di mana tidak ada seorang pun yang duduk selainnya.
Muhammad bin
Abdillah hidup di jantung gurun Mekah sebagai seorang yang memiliki kesadaran
yang tinggi di antara kaum yang sedang lalai dan kaum yang mabuk-mabukan dan
para penyembah berhala serta para pedagang minuman keras dan para syair dan
orang-orang yang berperang dan tokoh-tokoh kabilah.
Muhammad bin
Abdillah seorang yang banyak diam dan ketika usianya semakin dewasa, maka ia
bertambah banyak diam. Beliau tidak berbicara kecuali jika diajak
seseorang berbicara;beliau tidak terlibat dalam permainan hura-hura anak-anak
muda; beliau merasakan kesedihan yang dalam; beliau sering menyendiri
dan membuka matanya di hamparan pasir-pasir. Mulutnya terdiam dan akalnya
berpikir. Dia merenungkan di masa kecilnya bagaimana kaumnya bersujud
terhadap berhala dan terpukau dengannya; bagaimana orang-orang berakal mau
bersujud kepada batu-batu yang tidak memberikan mudharat dan manfaat dan tidak
berbicara serta tidak dapat melakukan apa-apa. Dia mewarisi dari kekeknya
Ibrahim kebencian yang fitri terhadap dunia berhala dan patung.
Di dalam
dirinya ada penghinaan yang besar terhadap sembahan-sembahan dari batu ini,
suatu penghinaan yang membuatnya tidak mau mendekat selamanya terhadap patung
tersebut.Namun hatinya yang besar dipenuhi dengan kesedihan yang lebih hebat
dari kesedihan kakeknya Ibrahim. Beliau sedih karena akal manusia
menyembah batu dan emas, kesombongan serta kekuasaan penguasa; ia
mendengar apa yang dikatakan manusia dan mengamat-amati urusan kehidupan dan
kondisi masyarakat; ia juga menyaksikan betapa banyak pertentangan dan
perkelahian di antara manusia yang justru disebabkan oleh masalah-masalah yang
sepele, sehingga keheranan beliau semakin bertambah dan sudah barang tentu
kesedihannya pun semakin dalam. Tidakkah manusia mengetahui bahwa mereka
akan mati seperti ayahnya, ibunya, dan kakeknya? Mengapa mereka
menimbulkan pertentangan ini, sampai mereka mendapatkan lebih banyak kejahatan?
Ketika
usianya semakin bertambah, maka bertambahlah kezuhudannya dalam hidup, dan
sepak terjangnya terus bersinar memenuhi penjuru Mekah. Beliau tidak sama
dengan seseorang pun dari kalangan pemuda saat itu. Meskipun kami kira
bahwa kesedihannya disebabkan oleh hal-hal yang umum, tetapi beliau tidak
mengungkapkan kegelisahan hatinya pada seseorang pun. Beliau belum
bertujuan untuk memperbaiki masyarakat atau kemanusiaan. Benar bahwa
pertanyaan-pertanyaan kritis timbul dalam benaknya dan ingin segera menemukan
jawaban, tetapi akalnya sendiri tidak dapat menemukan jawaban atau jalan
keluar. Inilah yang dimaksud dengan makna ayat:
"Dan
Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan
petunjuk." (QS. adh-Dhuha: 7)
Yang dimaksud ad-Dhalal (kesesatan)
di sini adalah kebingungan akal dalam menafsirkan kejahatan dan usaha
melawannya karena ketiadaan senjata dan kecilnya usia. Semua itu justru
menambah sikap diam anak kecil itu dan menjauhkannya dari dunia yang akan
mencemari akal, sehingga akalnya selamat dari segala noda dan tetap di bawah
naungan kejernihannya.
Anak kecil
itu tetap jauh dari dosa-dosa yang dilakukan oleh kaumnya yang berupa
kecenderungan untuk menyembah berhala dan cinta kekuasaan dan
kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih mendekat kepada hakikatnya yang
suci; ia mampu mempengaruhi orang lain dengan jiwanya yang bersih dan
rahmatnya atau kasih sayangnya tertuju kepada manusia, bahkan kepada binatang
dan burung. Ketika ia duduk akan makan lalu ada burung merpati berkeliling
di seputar makanannya rnaka ia meninggalkan makanannya untuk burung
itu. Pada saat orang-orang memukul anjing yang mendekat kepada makanan
mereka, maka ia justru mencabut suapan yang ada di mulutnya dan memberikannya
pada anjing, kucing, anak-anak kecil, dan orang-orang fakir.Bahkan seringkali
di waktu malam ia tidur dalam keadaan lapar karena ia memberikan makanannya ke
orang lain.
Muhammad saw
adalah seorang fakir yang harus bekerja agar dapat makan, maka ia bekerja
sebagai pengembala kambing, seperti Nabi Daud, Nabi Musa, dan nabi-nabi yang
lain yang diutus oleh Allah SWT. Kemudian beliau melakukan perjalanan
bersama kafilah pamannya Abu Thalib menuju Syam saat beliau berusia tiga belas
tahun. Dia menyaksikan kondisi umat-umat yang lain, maka keheranannya
semakin bertambah terhadap masa jahiliyah ini. Ketika ia menyaksikan
orang-orang tersesat, maka kesedihannya semakin bertambah dan hatinya semakin
tersentuh dan pikirannya semakin dalam.
Pada saat
perjalanan menuju ke Syam ini terjadi suatu peristiwa terhadap anak kecil itu.
Kemungkinan besar itu justru menambah kebingungannya. Seorang pendeta yang
bernama Buhaira berdiri di jendela rumah yang menjadi tempat peribadatannya di
Suria. Tiba-tiba ia memperhatikan suatu awan putih—tidak seperti biasanya—yang
menghiasai langit yang biru. Saat itu udara sangat terang, sehingga munculnya
awan tersebut sangat mengherankan. Kemudian pandangan Buhaira yang tertuju ke
langit, kini tertuju ke bumi di mana ia mendapati awan itu menyerupai burung
yang putih yang menaungi kafilah kecil yang menuju ke arah utara. Buhaira
memperhatikan bahwa awan tersebut mengikuti kafilah.
Jantung
Buhaira berdebar dengan keras karena ia mengetahui melalui buku-buku
peninggalan kaum Masehi yang otentik bahwa seorang nabi akan muncul ke dunia
setelah Isa. Sifat dan kabar nabi tersebut diceritakan dalam buku-buku
kuno. Buhaira segera meninggalkan tempatnya, lalu ia segera memerintahkan
untuk menyiapkan makanan yang besar. Kemudian ia mengutus seseorang untuk
menemui kafilah tersebut dan mengundang mereka untuk jamuan makan. Salah
seorang mereka berkata dengan nada bercanda kepada Buhaira: "Demi Lata dan
'Uzza, engkau hari ini tampak lain wahai Buhaira. Engkau tidak pernah melakukan
demikian kepada kami, padahal kami telah melewati dan singgah di tempat ini
lebih dari sekali. Ada peristiwa apa gerangan wahai Buhaira? "
Buhaira
menjawab: "Hari ini kalian adalah tamu-tamuku." Pertanyaan orang
tersebut tidak dijawab dengan terang-terangan. Ia sengaja menghindarinya
dan tidak menyingkapkan rahasia kemuliaan yang datangnya tiba-tiba
ini. Buhaira memberi makan mereka dan mulai memperhatikan di antara mereka
adanya seseorang yang memiliki tanda-tanda yang dibacanya dalam kitab-kitabnya
yang kuno tentang seorang rasul yang ditunggu. Namun ia tidak
menemukannya, hingga ia bertanya kepada mereka: "Wahai kaum Quraisy,
apakah ada seseorang yang tidak hadir bersama jamuanku ini?" Mereka
menjawab: "Benar, ada seseorang yang tidak ikut bersama kami. Kami
meninggalkannya karena ia masih kecil." Buhaira berkata:
"Sungguh aku telah mengundang kamu semua. Panggillah ia supaya hadir
bersama kami dan memakan makanan ini." Salah seorang pria dari kaum
Quraisy berkata: "Demi Lata dan 'Uzza, sungguh tercela bagi kami untuk
meninggalkan Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib dari jamuan yang kami
diundang di dalamnya.
Pamannya
meminta maaf karena Muhammad masih kecil, kemudian sebagian mereka berdiri dan
menghadirkannya. Belum lama Buhaira memandangi kejernihan dua mata Muhammad,
sehingga ia mengetahui bahwa ia telah mendekati tujuannya. Buhairah terpaku
ketika memandangi Muhammad bin Abdillah sehingga kaum selesai makan dan mereka
berpisah.
Muhammad bin
Abdillah duduk sendirian. Buhaira menghampirinya dan berkata: "Wahai
anak kecil, demi posisi Lata dan 'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku
terhadap apa yang aku tanyakan kepadamu?" Buhaira ingin mengetahui
sikap anak ini terhadap berhala kaumnya. Anak kecil itu menjawab:
"Jangan engkau bertanya kepadaku tentang Lata dan 'Uzza. Demi Allah, tidak
ada sesuatu yang lebih aku benci dari keduanya." Buhaira berkata:
"Dengan izin Allah aku ingin bertanya kepadamu." Anak kecil itu
menjawab: "Tanyalah apa saja yang terlintas di benakmu."
Buhaira
bertanya kepada anak kecil itu tentang keluarganya, kedudukannya di tengah-tengah
kaumnya, mimpinya dan pendapat-pendapatnya. Dialog tersebut terjadi jauh
dari pantauan kaum karena mereka tidak akan diam ketika mendengar bahwa
Muhammad membenci berhala-berhala mereka. Kemudian Muhammad menjawab
pertanyaan-pertanyaan Buhaira dengan yakin, hingga membuat Buhaira mantap bahwa
ia sekarang duduk bersama seorang Nabi yang kabar berita gembiranya disampaikan
oleh Nabi Isa sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi dari kaum Israil dari kaum
Nabi Musa. Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak kecil itu dan menuju
ke Abu Thalib ia bertanya tentang kedudukan anak kecil itu di sisinya. Abu
Thalib menjawab: "Ia adalah anakku." Buhaira berkata:
"Tidak mungkin ayahnya masih hidup." Abu Thalib berkata: "Benar.
Ia anak saudaraku. Ayahnya dan ibunya telah meninggal." Buhaira
berkata: "Engakau benar, kembalilah kamu ke negerimu dan hati-hatilah dari
kaum Yahudi." Abu Thalib bertanya tentang rahasia dari apa yang
dikatakan oleh pendeta itu. Pendeta itu mulai mengetahui bahwa ia telah
berbicara lebih dari yang semestinya. Lalu ia berkata: "Ia akan
memiliki posisi tertentu." Buhaira tidak menjelaskan lebih dari itu
dan ia tidak menentukan posisi yang dimaksud.
Lalu
berlalulah peristiwa tersebut tanpa terlintas dari benak seseorang atau tanpa
menggugah kesadaran di antara mereka. Kisah tersebut tidak membawa
pengaruh berarti bagi kafilah atau kepada Nabi sendiri. Kafilah menganggap
bahwa penghormatan pendeta kepada Muhammad bin Abdillah dan memberitahunya akan
posisi yang akan disandangnya adalah semata-mata basa-basi yang biasa diucapkan
di atas meja makan ketika para tamu memuji kedermawanan tuan rumah. Dan
sebagai balasannya, orang yang mengundang akan memuji akhlak para pemuda
mereka. Alhasil, peristiwa tersebut tidak membawa pengaruh apa pun, baik
bagi Muhammad maupun bagi sahabat-sahabat yang ikut dalam kafilah, sehingga
mereka tidak mengetahui rahasia kata pendeta dan mereka tidak menyebarkan
pembicaraan yang mereka dengar darinya. Peristiwa itu tersembunyi meskipun
ia sungguh sangat membingungkan Muhammad.
Apa gerangan
yang terjadi antara dirinya dan orang-orang Yahudi, sehingga pendeta perlu
mengingatkan pamannya dari ancaman mereka? Apa kedudukan yang akan diembannya
seperti yang diceritakan oleh pendeta itu? Dan apa hubungan semua ini dengan
kesedihan-kesedihannya yang dalam serta kebingungannya? Pertanyaan-pertanyaan
tersebut sedikit demi sedikit berputar di benaknya. Kemudian seperti biasanya
kafilah tersebut kembali ke Mekah. Muhammad kembali menuju keterasingannya. Ia
memperhatikan keadaan alam di sekitarnya. Kemudian ia melihat kembali
penderitaannya; ia berusaha untuk mendapatkan kehidupannya; ia mengabdi kepada
manusia dan mengorbankan apa saja demi kemuliaan mereka.
Hari demi
hari berlalu. Muhammad saw tampil dengan pakaian ketulusan kasih sayang, dan
amanah serat cinta, sebagaimana pelita dipenuhi oleh cahaya, sehingga
kejujurannya terkenal di tengah-tengah kaumnya. Bahkan kejujuran dan amanatnya
tidak bakal diragukan oleh seseorang pun dari penduduk Mekah. Dan ketika beliau
datang dengan membawa risalahnya dan beliau ditentang mayoritas masyarakatnya,
namun tak seorang pun yang berani meragukan kejujurannya. Mereka hanya menuduh
bahwa ia terkena sihir atau kesadarannya telah hilang.
Pada tahun
ketiga belas dari masa kenabian, ketika semua kabilah sepakat untuk membunuhnya
dan mengucurkan darahnya di antara para kabilah dan mereka mengepung rumahnya,
maka di saat situasi yang sulit ini beliau menetapkan untuk
berhijrah. Tapi sebelumnya ia mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib, anak
pamannya untuk tetap tinggal di rumahnya agar ia dapat mengembalikan amanat
yang dititipkan oleh semua musuhnya dan para sahabatnya. Ini beliau
maksudkan agar Ali dapat menyerahkan amanat tersebut di waktu pagi kepada para
pemiliknya.Anda dapat melihat betapa para musuhnya merasa aman terhadap harta
mereka ketika dijaga oleh Muhammad saw.
Hari demi
hari berlalu dan tahun demi tahun pun lewat. Sementara itu, kesucian dan
kejujuran Muhammad saw meningkat. Dan di tengah lautan keheningan yang
mencekam, ketika Muhammad bin Abdillah menyebarkan layar perahunya yang putih,
maka ia harus menemui kenyataan azali yang bertemu dengan-nya semua nabi dan
rasul. Muhammad bin Abdillah mengetahui bahwa alam yang besar ini memiliki
Tuhan Pengatur dan Pencipta; Tuhan yang Maha Satu dan yang tiada tuhan
selain-Nya.
Muhammad
dijauhkan dari suasana kenikmatan dan foya-foya yang biasa dilakukan oleh para
pemuda seusianya. Dan ketika pemuda Mekah berbangga-bangga dengan
banyaknya minuman keras yang mereka minum dan banyaknya bait-bait syair yang
mereka katakan tentang wanita, maka Muhammad bin Abdillah telah menemukan jati
dirinya di suatu gua yang tenang di gunung yang besar. Ia memilih untuk
menghabiskan waktunya di dalam keheningan gua tersebut. Ia merenung dengan
hatinya tentang keadaan alam; ia memikirkan keagungan rahasia-rahasianya
dan rahmat Penciptanya serta kebesaran-Nya.
Pada tahun
yang kedua puluh lima, beliau mengenal Ummul Mu'minin, isterinya yang pertama,
yaitu Khadijah binti Khuwailid yang saat itu berusia empat puluh tahun. Khadijah
adalah wanita yang mulia dan memiliki cukup harta. Ia berdagang dan
suaminya telah meninggal. Banyak orang yang mendekatinya dengan alasan
untuk mendapatkan kekayaannya. Khadijah menemukan seseorang laki-laki yang
dapat membawa harta dagangannya menuju Syam, lalu Khadijah mendengar berita
yang cukup banyak terkait dengan kejujuran dan amanat serta kesucian Muhammad
bin Abdilah. Akhirnya, Khadijah mengutus Muhammad saw untuk membawa barang
dagangannya. Muhammad saw pergi dalam perjalanannya yang kedua ke Syam
saat beliau berusia dua puluh lima tahun. Allah SWT memberkati perjalannya
di mana ia kembali dengan membawa keuntungan yang berlipat ganda yang
diserahkannya kepada Khadijah. Muhammad saw tidak peduli dengan harta
Khadijah dan tidak peduli kepada kecantikannya; Muhammad saw hanya
memandang kemuliaan yang dipegangnya. Kemudian Khadijah merasakan getaran
cinta terhadap Muhammad saw.Dan Akhirnya, ia mengutarakan keinginan untuk
menikah dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju.
Paman
Muhammad saw, Abu Thalib berdiri dan menyampaikan khotbah pada saat perayaan
perkawinannya: Muhammad saw tidak dapat dibandingkan dengan seorang pun dari
kaum Quraisy karena ia adalah seorang yang mulia, baik dari sisi akal maupun
ruhani. Meskipun ia seorang yang fakir namun harta adalah naungan yang akan
hilang dan benda yang bersifat sementara.
Setelah
menikah, Muhammad saw justru mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk
merenung dan menyendiri serta beribadah. Kemudian kehidupan yang dijalaninya
justru meningkatkan kemuliaannya, sehingga keutamaannya tersebar di sana sini.
Beliau tidak pernah terlibat dalam pergulatan yang keras untuk memperebutkan
materi-materi dunia. Beliau selalu menggunakan akal sehatnya daripada terlibat
dalam kesesatan mereka dan kegelapan berhala yang menyelimuti banyak orang pada
saat itu. Kemudian usianya kini mendekati empat puluh tahun.
Setelah
merasakan kesunyian di tengah-tengah masyarakat, beliau lebih memilih untuk
menjauh dari mereka. Beliau mencari-cari hakikat, sehingga Allah SWT membimbingnya
untuk menyendiri di gua Hira. Akhirnya, beliau dapat keluar dari Mekah. Beliau
berjalan beberapa mil. Kemudian beliau mulai mendaki dan mendaki. Setiap kali
ia mendaki gunung, maka tempat itu semakin luas. Udara tampak lembut dan
tersingkaplah hijab, dan pandangan semakin terbentang. Kemudian beliau memasuki
gua. Keheningan menyelimuti segala sesuatu, namun hati tetap sadar dan tidak
ada sesuatu yang dapat menghalang-halangi pandangan internal yang dalam. Dalam
suasana kesunyian terkadang lahirlah pemikiran-pemikiran yang cemerlang yang
kemudian menyebarkan sayap-sayapnya dan membumbung, pertama-tama di atas
angkasa gua lalu tersebar menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak ada sesuatu
pun yang membatasinya atau mengekang kebebasannya.
Kita tidak
mengetahui pikiran-pikiran apa yang terlintas pada manusia termulia dan
terbesar di atas bumi itu saat beliau duduk di gua Hira beberapa
bulan. Apa yang ia pikirkan dan apa gerangan yang ia risaukan? Mimpi
apa yang ada di benaknya dan perasaan-perasaan apa yang lahir dalam
hatinya? Bagaimana keadaan batu-batu yang ada di sisinya? Apakah
atom-atom batu yang berputar di sekelilingnya menyahuti tasbihnya yang diam,
seperti atom-atom batu yang bersahut-sahutan bersama Daud saat ia membaca
kitabnya Zabur.
Kami tidak
mengetahui secara pasti bentuk kelahiran yang terjadi dalam dirinya. Yang kita
ketahui adalah bahwa beliau tidak berpikir tentang kenabian dan beliau tidak
berpikir untuk memberikan petunjuk kepada manusia; beliau tidak melakukan
praktek-praktek sufisme karena beliau sudah menjadi seorang sufi sebelum diutus
di tengah-tengah manusia. Kemudian Allah SWT memilihnya sebagai Nabi lalu
beliau meninggalkan uzlahnya dan turun ke medan serta membawa senjata. Beliau
mempertahankan kebenaran, sehingga beliau bertemu dengan Tuhannya. Mula-mula
lahirlah tasawuf dan setelahnya lahirlah jihad di jalan Allah SWT. Tasawuf
bukanlah puncak atau hasil sebagaimana diyakini oleh manusia sekarang, tetapi
ia adalah permulaan jalan yang panjang di mana pada akhirnya yang bersangkutan
menggunakan senjata sebagai bentuk usaha untuk membela manusia dan
kehormatannya.
Pada suatu
hari beliau duduk di gua Hira dan tiba-tiba dia dikagetkan dengan kedatangan
Jibril yang berdiri di depan pintu gua. Malaikat tersebut memeluknya
erat-erat lalu memerintahkannya untuk membaca sambil berkata:
"Bacalah!" Muhammad bin Abdillah menjawab: "Aku tidak mampu
membaca." Beliau ingin mengatakan bahwa beliau tidak mengenal bacaan
dan tulisan. Kalau begitu, apa yang harus beliau baca? Malaikat
kembali memeluknya dengan kuat sehingga Rasulullah saw menganggap bahwa ia
meninggal. Kemudian malaikat melepasnya dan memerintahkannya untuk
membaca. Beliau kembali menjawab: "Aku tidak bisa
membaca." Malaikat yang mulia kembali memeluknya dan kembali
memerintahkan untuk membaca. Dan lagi-lagi Rasulullah saw menjawab dengan
gemetar: "Apa yang aku baca?" Kemudian Jibril membaca permulaan
ayat-ayat yang turun kepada beliau:
"Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya." (QS. al- 'Alaq:
1-5)
Setelah
peristiwa itu, Jibril menghilang secara tiba-tiba seperti itu muncul secara
tiba-tiba. Rasulullah saw merasakan dalam dirinya kejadian yang luar biasa
yang pernah dirasakan oleh Nabi Musa saat beliau mendengar panggilan-panggilan
suci di lembah Thuwa. Sebagaimana Nabi Musa lari ketakutan, maka Muhammad
bin Abdillah pun segera menuju ke rumahnya dalam keadaan ketakutan. Ia
turun ke gunung dan kembali ke rumahnya dan kembali ke istrinya. Tubuhnya
yang mulia bergetar denga keras dan ia merasakan ketakutan dan kegelisahan.
Apakah
beliau kali ini berhubungan dengan jin atau alam perdukunan? Apakah ia
mengigau sehingga dia mendengar suara-suara dan melihat wajah-wajah yang belum
pernah dilihatnya?Rasulullah saw mengkhawatirkan dirinya karena beliau sangat
benci kepada perdukunan. Dia memasuki rumahnya dengan keadaan gemetar. Beliau
berkata kepada istrinya: "Selimutilah aku, selimutilah
aku!" Kemudian isterinya segera menyelimuti dengan selimut dari wol
dan mengusap keringat yang berada di keningnya. Istrinya dikagetkan dengan
kepucatan wajah beliau yang mulia dan kegemetaran tubuhnya.
Khadijah
bertanya kepadanya: "Apa yang sedang terjadi?" Kemudian Muhammad
saw menceritakan secara detail apa yang dialaminya. Kemudian ia berkata:
"Sungguh aku khawatir terhadap diriku." Khadijah mengetahui
bahwa ia sekarang berhadapan dengan masalah yang serius, suatu berita gembira
yang ia tidak mengetahui hakikatnya, suatu berita gembira yang seharusnya tidak
dihadapi Muhammad saw dengan kekhawatirkan dan kegelisahan.
Khadijah
berkata dengan maksud untuk meredakan ketakutannya: "Tenanglah. Demi
Allah, Allah SWT tidak akan menghinakanmu selamanya. Sungguh engkau adalah
seorang yang baik, yang menghubungkan tali silaturahmi, yang berbicara dengan
jujur, dan yang menghormati tamu."
Meskipun
kalimat-kalimat tersebut penuh dengan kedamaian dan kesejukan, tetapi
kegelisahan Rasul saw juga belum hilang. Kemudian Khadijah pergi bcrsama
beliau ke rumah Waraqah bin Nofel, yaitu anak dari paman Khadijah. Waraqah
adalah seorang Nasrani dan dia mampu menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia cukup
mengetahui kitab-kitab Taurat dan Injil di mana matanya telah buta karena masa
tua.
Khadijah
berkata kepadanya: "Wahai putra pamanku, dengarlah dari anak
saudaramu." Waraqah berkata: "Wahai anak saudaraku, apa yang
engkau lihat?" Rasulullah saw menceritakan apa yang dialaminya secara
sempurna. Waraqah berkata sambil mengangkat kepalanya yang tampak
keheranan: "Itu adalah Namus (Jibril) yang Allah turunkan kepada
Musa." Sebagai seorang yang mengerti, Waraqah bin Nofel mengetahui
bahwa ia berada di hadapan seorang Nabi yang berita gembiranya disampaikan oleh
Taurat dan Injil.
Setelah
keheningan sesaat, Waraqah berkata: "Seandainya aku masih hidup ketika
kaummu mengeluarkanmu dan mengusirmu." Rasulullah saw bertanya:
"Mengapa aku harus diusir oleh mereka? '' Waraqah menjawab:" Benar,
tidak ada seorang pun yang akan datang seperti dirimu kecuali engkau akan
mengalami penderitaan dan pengusiran. Seandainya aku hadir di saat itu
niscaya aku akan menolongmu. "
Demikianlah,
akhirnya Islam pun dikembangkan. Kehendak Allah SWT terlaksana dan Allah
SWT telah memilih Nabi yang terakhir di muka bumi dan orang Muslim yang
pertama. Barangkali pembaca akan bertanya: Apa hakikat dari
Islam? Ketika Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir yang diutus oleh
Allah SWT di muka bumi dan kita mengetahui bahwa para nabi semuanya sebagai
Muslim, maka bagaimana ia dapat dikatakan mendahului mereka dalam keislaman dan
menjadi orang Muslim yang pertama?
Islam yang
dibawa oleh Muhammad saw tidak berbeda dalam esensinya dengan Islam yang dibawa
oleh Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa atau nabi yang lain, tetapi yang berbeda
adalah bentuknya, sedangkan esensinya tetap seperti semula, yakni berdasarkan
tauhid. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw berbeda dalam bentuknya
dengan Islam yang dibawa nabi-nabi sebelumnya karena sebab yang penting, yakni
bahwa Islam ini merupakan ajaran yang universal dan berisi aspek kemanusiaan
yang abadi. Islam tidak terbatas atas orang-orang Arab tetapi ia berlaku
atas semua golongan. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tidak
terbatas untuk kabilah tertentu atau bangsa tertentu atau bumi tertentu atau
lingkungan tertentu atau zaman tertentu, tetapi ia untuk semua
manusia. Atau dengan kata lain, ia merupakan ajakan untuk membangkitkan
akal manusia di mana saja mereka berada tanpa ada batasan tempat atau waktu.
Universalitas
ajaran Islam tidak dikenal pada risalah-risalah Ilahi sebelumnya di mana setiap
risalah itu diperuntukkan bagi bangsa tertentu dan zaman tertentu. Oleh
karena itu, mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang bersifat temporal
seringkali mendukung risalah-risalah yang dahulu. Ketika Islam datang
sebagai bentuk ajakan untuk menghidupkan akal manusia secara bebas, maka di
sana tidak ada alasan untuk membawa mukjizat yang mengagum-kan. Hanya ada
satu kata yang dapat dijadikan pembuka untuk berdakwah dan membuka akal
manusia, yaitu kata "iqra" ' (bacalah). Dan
harus bacaan ini berdasarkan nama Allah SWT. Dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Coba Anda
renungkan awal pertumbuhan dan puncak prestasi. Di sini tersembunyi
mukjizat yang hakiki jika Anda berusaha mencari mukjizat yang hakiki.
Bacalah, dan
Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang memberikan nikmat penciptaan dan rezeki serta
rahmat dan kelembutan. Dia Maha Mulia yang mengajarkan manusia apa saja
yang tidak diketahuinya. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ajakan untuk
membaca. Ini adalah dakwah yang menunjukkan posisi ilmu. Allah SWT
berfirman:
"Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orangyang
berilmu (ulama). " (QS.
Fathir: 28)
Takut kepada
Allah SWT tidak akan muncul kecuali berdasarkan ilmu. Mustahil kebodohan
dengan bentuk apa pun akan melahirkan rasa takut. Oleh karena itu, dalam
pandangan Islam ilmu adalah hal yang pokok. Ini bukan kemewahan dan bukan
hanya perhiasan. Kaum Muslim telah mengalami masa kemuliaan dan kesuksesan
dan mereka berhasil menguasai bumi ketika mereka memahami Islam secara benar,
tetapi ketika pemahaman ini jauh dari mereka, maka mereka kembali dalam keadaan
yang paling buruk, bahkan lebih buruk dari masa jahiliah.
Jadi, ilmu
dalam Islam merupakan tujuan yang mulia dan utama dalam penciptaan alam
wujud. Kisah Nabi Adam dan Hawa, sebagaimana diceritakan oleh Al-Qur'an
adalah bukan semata-mata kisah kesalahan memakan pohon tcrlarang, tetapi ia
juga kisah yang memiliki dimensi-dimensi yang dalam dan aspek-aspek yang
beraneka ragam. Ketika Anda menyclami kedalamannya, maka Anda akan dapat
menemukan simbol-simbol dari makna-makna yang lebih penting.
Dialog
internal yang dialami oleh para malaikat tentang rahasia pemilihan Nabi Adam
untuk memakmurkan bumi dan menjadi khalifah di dalamnya serta pengajaran yang
diperoleh Nabi Adam tentang nama-nama semuanya dan bagaimana ia mengajukan
nama-nama tersebut kepada para malaikat, serta ketidaktahuan mereka tentang
nama-nama itu, kemudian usaha Nabi Adam untuk memberitahu mereka tentang apa
yang diketahuinya serta pengetahuan para malaikat tentang rahasia pemilihan
Nabi Adam dan para keturunannya untuk memakmurkan bumi, semua ini membuat
tujuan dari penciptaan manusia adalah pencapaian ilmu atau ma'rifah secara
umum. Pandangan tersebut dikuatkan oleh firman Allah SWT:
"Dan
Ahu tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah- (Ku)." (QS.
adz-Dzariat: 56)
Lalu bagaimana
kita memahaminya saat ini dan bagaimana generasi yang pertama dari kaum Muslim
dan dari sahabat-sahabat Rasul saw dan para pengikutnya dan para tentaranya
memahaminya? Saat ini kita memahaminya dengan pemahamam yang
sederhana. Kita mengetahui bahwa kalimat "untuk
menyembah-Ku" berarti ritualitas dalam beribadah dan aspek-aspek
lahiriahnya, seperti mengucapkan kalimat syahadat, salat, puasa, haji, zakat
dan lain-lain. Sehingga orang-orang yang salat diperbolehkan untuk
menyembah Allah SWT di negeri mereka atau di rumah-rumah mereka, meskipun
mereka hidup di bawah pemikiran orang-orang Barat dan membeli produk-produk
yang dibuat mereka serta memanfaatkan ilmu dan kecanggihan tehnologi
orang-orang Barat. Namun mereka sendiri tidak menghasilkan apa-apa. Mereka
tidak dapat memberikan kontribusi kepada kehidupan; mereka tak ubah-nya
seperti bulu yang dimainkan oleh ombak. Sedangkan pemahaman yang dahulu
berkaitan dengan kalimat tersebut sebagai berikut:
"Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah- (Ku)." (QS.
adz-Dzariat: 56)
Ibnu Abbas
membacanya: "Illa liya'rifuun." (Agar mereka
mengetahui). Perhatikanlah bagaimana pentingnya perbedaan antara
praktek-praktek ibadah dengan bentuk-bentuknya dan kedalamannya yang jauh dalam
ma'rifah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah SWT. Orang Muslim yang
pertama meyakini bahwa Allah SWT menciptakannya agar ia mengetahui Allah SWT
atau agar ia mengenal Allah SWT. Sehingga ambisi orang Muslim yang pertama
sangat mengagumkan. Mereka pergi untuk membebaskan dunia semuanya: satu
tangan berpegangan dengan Al-Qur'an dan tangan yang lain memegang pedang untuk
menghancurkan belenggu-belenggu yang menyeret manusia kepada kesesatan.
Kemudian
jatuhlah dari Islam hakikat ilmu, sehingga umat Islam tidak bisa memimpin
kehidupan dan mereka justru men-dapatkan kehinaan. Allah SWT berfirman:
"Allah
menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.
Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).
Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam. " (QS.
Ali 'Imran: 18)
Setelah
kesaksian kepada Allah dan kesaksian kepada malaikat, maka disebutlah langsung
kesaksian kepada orang-orang yang berilmu. Maka, apakah penghormatan
terhadap ilmu yang lebih besar dari penghormatan ini? Ilmu dalam Islam
berbeda dengan ilmu dalam peradaban Barat. Memang benar bahwa Islam yang
bertanggung jawab terhadap tumbuhnya pandangan ilmiah dan metode eksperimental
di mana berdasarkan metode ini tegaklah peradaban Barat yang kemudian
melahirkan berbagai produksi, pembuatan, dan penemuan. Dan metode
eksperimental adalah metode al-Istiqra, yaitu suatu metode
yang mengikuti bagian-bagian terkecil (parsial) melalui jalan eksperimen yang
dapat tunduk terhadap eksperimen dan melalui jalan memperhatikan hal-hal yang
tidak dapat tunduk terhadap suatu eksperimen, atau melalui jalan matematis
murni yang membutuhkan kepada matematis murni di mana hal itu bertujuan untuk menyingkap
hukum-hukum yang menguasai benda. Sistem ini bidangnya adalah alam dan
alatnya adalah panca indera dan akal. Sistem ini dimanfaatkan oleh seorang
Eropa yang bernama Roger Bikun. Ia mengakui bahwa ia sangat berhutang
kepada kaum Muslim dan peradaban Islam.
Seorang guru
yang bernama Bruicll dalam bukunya Abna 'al-Insaniah menceritakan
tentang dasar-dasar peradaban Barat di mana ia berkata: "Roger Bikun
mempclajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab di sekolah Oxford kepada
guru-gurunya yang berasal dari Arab di Andalus. Dan Roger Bikun dan Fenessis
Bikun tidak dapat menisbatan prioritas yang mereka peroleh dalam menciptakan
sistem eksperimental kepada diri mereka sendiri. Roger Bikun hanya seorang duta
dari duta-duta ilmu. Oleh karena itu, ia tidak malu ketika menyatakan bahwa
mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab adalah jalan satu-satunya untuk
mengetahui kebenaran. "
Demikianlah
pernyataan pakar-pakar Barat yang jujur. Yang demikian ini bisa dijadikan
sanggahan terhadap orang-orang Barat yang tidak jujur agar mereka mengetahui
bahwa mereka sebenarnya mengambil senjata yang sebenarnya berasal dari Islam.
Dan jika dikatakan bahwa rahasia kebangkitan Barat saat ini dan keunggulannya
atas Timur kembali kepada pengambilannya terhadap sebab-sebab metode eksperimental,
yaitu metode Islam, maka rahasia kehancuran Barat dan kebingungannya serta
kegelisahannya adalah karena mereka tidak menghubungkan metode tersebut dengan
kebesaran Allah SWT sebagaimana semestinya. Metode eksperimen-tal—sebagaimana
diambil orang-orang Barat—dimulai dari alam dan berakhir kepadanya sebagai
sesuatu tujuan. Jadi, ruang lingkup pembahasan mereka adalah berkisar kepada
materi, dan alat-alat pembahasan adalah eksperimen dan pengamatan serta istiqra.
Tiada
setelah alam kecuali kematian dan kematian adalah rahasia yang misterius dan
melawannya adalah hal yang mustahil. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi
setelah kematian; kita tidak mengetahui sesuatu pun tentang ruh. Tidak ada
hubungan antara ilmu dan akhlak; tidak ada jawaban dari ilmu tentang tujuan
kehidupan ini. Kita hanya mempelajari aspek-aspek lahiriah dan mencapai
hukum-hukumnya saja. Demikianlah pandangan Barat tentang ilmu di mana ia hanya
sekadar alat dan sarana untuk mengatur alam dan berusaha menguasainya.
Sedangkan metode ilmiah dalam Islam menyatakan bahwa gerakan atom dengan
gerakan sistem tata surya di bawah kendali Zat Yang Maha Tahu dan Zat Yang Maha
Pencipta. Ilmu dalam Islam justru membimbing manusia untuk menuju Allah SWT:
"Dan
bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesua-tu)." (QS.
an-Najm: 42)
Ilmu justru
mengantarkan manusia untuk mencapai rasa takut kepada Allah SWT sebagaimana
membimbingnya beribadah kepadanya dan mencintai-Nya:
"Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang
berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28)
Islam datang
dan mengajak manusia untuk membaca, mengetahui, dan takut kepada Allah SWT
serta hanya beribadah kepadanya. Jika ilmu merupakan sayap pertama di
dalam Islam, maka sayap yang kedua adalah kebebasan. Rasulullah saw
memberitahu dan menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan tidak ada
sembahan selain Allah SWT.
Seruan ini
mengisyaratkan keruntuhan dewa yang mengusai bumi semuanya, baik tuhan yang
berupa kepentingan-kepentingan pribadi, kekayaan, raja, penguasa,
pemikiran-pemikiran yang mengusai manusia, warisan para kakek dan nenek,
berhala-berhala yang terbuat dari batu dan kayu, maupun berbagai macam tuhan
lain yang bohong. Adalah salah jika seseorang membayangkan bahwa kalimat
"tiada Tuhan selain Allah" hanya sekadar hiasan mulut seorang Muslim
di mana segala sesuatu yang ada di sekitarnya penuh dengan kebohongan dan tidak
membenarkan apa yang dikatakannya. Kalimat tersebut dalam Islam merupakan
per-gulatan besar bersama kegelapan yang ada pada diri manusia, suatu
pergulatan yang berakhir pada penyerahan diri; pergulatan yang akan
berpindah pada kehidupan yang lebih berat, sehingga kehi-dupan akan berserah
diri. Dan mustahil pergulatan itu akan terjadi kecuali jika terpenuhi
suatu kebebasan: kebebasan akal untuk meragukan dan menolak dan kebebasan yang
berakhir pada pencapaian batas-batasnya dan kemampuannya serta kebebasan yang
meninggi untuk mencapai keimanan yang dalam dan kokoh. Itu adalah tanggung
jawab yang berarti bahwa ia harus memikul senjata untuk membebaskan orang lain
sebagaimana ia membebaskan dirinya sendiri.Demikianlah esensi dari Islam, yaitu
ilmu yang berdiri di atas kebebasan dan tanggung jawab yang tumbuh dari
kebebasan, dan buah terakhirnya adalah tauhid dalam kedalamannya yangjauh.
Jika tauhid
dipahami secara benar, maka manusia akan terbebas dari penyembahan selain Allah
SWT: manusia akan bebas terhadap rasa takut dari kematian, kekhawatiran atas
rezeki, manusia akan terbebas dari sikap bakhil dan ketakutan terhadap hari-hari
yang akan datang.
Muhammad bin
Abdillah datang nntuk menyerukan bahwa hanya Allah SWT yang patut disembah dan
bahwa semua manusia adalah hamba-hamba-Nya. Dcngan membebaskan manusia
dari menyembah sesama mereka, maka kebcbasan yang hakiki telah dimulai. Rasulullah
saw memberitahu bahwa kematian adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang
lain. Ini bukan akhiran yang misterius dari kehidupan yang tidak dapat
dipahami, tetapi ia hanya sekadar perpindahan. Takut kepada kematian tidak
akan menyelamatkan dari kematian itu sendiri, dan cinta kepada kehidupan tidak
akan memperpanjang ajal. Pada setiap ajal ada ketentuannya. Maka
keberanian merupakan unsur dari unsur-unsur pembentukan kepribadian Islam dan
bagian dari bagian-bagian sel yang ada dalam tubuh seorang Muslim.
Rasulullah
saw juga menyatakan bahwa rezeki di dunia sudah dijamin dan ditentukan oleh
Allah SWT:
"Dan
tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya. " (QS. Hud: 6)
Jibril
mewahyukan kepada Rasul saw bahwa suatu jiwa tidak akan memenuhi ajalnya
sehingga rezekinya disempurnakan. Jika demikian halnya, maka tidak ada
alasan bagi manusia untuk khawatir terhadap rasa lapar dan gelisah terhadap
hari esok. Semua ini terjadi dalam ruang lingkup mengambil atau melalui
jalanjalan menuju sebab. Yakni berusaha untuk mencapai rezeki yang
merupakan kewajiban bagi orang Muslim dan percaya terhadap kedermawan Allah SWT
yang juga merupakan suatu kewajiban bagi orang Muslim untuk
mempercayainya. Allah SWT berfirman:
"Dan di
langit ada (alasan) rezekimu dan ada (pula) apa yang dijanjikan kepadamu." (QS.
adz-Dzariat: 22)
Allah SWT
telah menjamin rezeki di dunia dan memerintahkan manusia untuk berusaha
mencapai rezeki di akhirat. Rezeki di dunia adalah sesuatu yang sudah
dijamin, sehingga manusia tidak perlu melakukan usaha yang terlalu sengit untuk
mencapainya. Cukup baginya untuk berusaha secara benar dan
seimbang. Sedangkan berkenaan dengan rezeki akhirat, Allah SWT
memerin-tahkan manusia untuk berusaha mencapainya karena ia adalah rezeki yang
Allah SWT tidak menjaminnya kecuali jika manusia berhasil melampaui dua jihad:
jihad yang besar dan jihad yang kecil. Jihad besar adalah jihad melawan
hawa nafsu dan jihad kecil adalah jihad melawan musuh di medan perang.
Dengan
terbebasnya seorang Muslim dari kerisauan pada kematian, rezeki, dan rasa
takut, maka Islam memberi seorang Muslim senjatanya dan alat-alatnya dan ia
memerintahkannya untuk mulai memerangi kekuatan-kekuatan kelaliman di muka
bumi. Allah SWT berfirman tentang umat Islam:
"Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS.
Ali 'Imran: 110)
Perhatikanlah,
bagaimana Allah SWT menyebutkan amal makruf nahi mungkar sebelum keimanan
kepada Allah SWT. Ini dimaksudkan agar akal manusia tergugah akan
pentingnyajihad di jalan Allah SWT. Amal makruf dan nahi mungkar tidak
terwujud semata-mata dengan memegang tongkat dan mencambukannya ke punggung
orang-orang Islam yang tidak salat; ia juga tidak berupa usaha untuk
menahan orang-orang Muslim yang tidak berpuasa. Masalah itu lebih penting
dan lebih besar dari sekadar memperhatikan hal-hal yang bersifat lahiriah,
sedangkan hal-hal yang bersifat batiniah tidak diperhatikan.
Ayat
tersebut berarti, hendaklah seorang Muslim membawa senjata dan berdakwah di
jalan Allah SWT serta memerangi orang-orang lalim di muka bumi. Abu Bakar
berkata: "Wahai manusia, kalian membaca ayat berikut ini:"
"Hai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu akan
memberi mudharat kepadamu ketika kamu telah mendapat petunjuk," (QS.
al-Maidah: 105)
Dan aku
mendengar Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya ketika masyarakat melihat
orang yang lalim dan mereka tidak menghentikannya, maka Allah SWT akan
menimpakan azab kepada mereka semua."
Penafsiran
Abu Bakar terhadap ayat tersebut sangat jelas artinya. Yakni bahwa pelaksanaan
ayat tersebut dapat diwujudkan dengan adanyajihad di jalan Allah SWT dengan
mengangkat senjata sebagai usaha untuk menghentikan orang-orang yang lalim.
Setelah itu, seorang Muslim dapat mengatakan: "Aku telah melaksanakan
tugasku dan tidak akan berdampak kepadaku orang yang sesat setelah aku
memberikan petunjuk."
Demikianlah
pemahaman orang-orang Islam yang pertama. Maka bandingkanlah pemahaman tersebut
dengan pemahaman kita saat ini di mana kita telah kchilangan keberanian, dan
rasa takut telah menghinggapi tubuh orang-orang Islam. Kaum Muslim lebih
mengutamakan keselamatan diri mcrcka daripada memerangi orang-orang yang lalim.
Muhammad bin
Abdillah datang dengan membawa risalah Islam yang di dalamnya terdapat perintah
Ilahi untuk rnemerangi orang-orang yang lalim dan mempertahankan kehormatan
orang-orang yang tertindas di muka bumi. Allah SWT berfirman:
"Karena
itu, harus orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat
berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur
atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang
besar. Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan (membela) orang-orang
yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa:
'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang lalim penduduknya dan
berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.
" (QS. an-Nisa ': 74-75)
Muhammad bin
Abdillah membacakan kepada kaumnya tentang penafsiran Allah SWT berkenaaan
dengan makna kesuksesan yang besar:
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil, dan Al -Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) dari Allah ?, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. " (QS.
at-Taubah: 111)
Bacalah ayat
tersebut dua kali dan renungkanlah tentang kedermawan Allah SWT. Betapa
tidak, Dia membeli jiwa orang-orang mukmin dan harta mereka, padahal jiwa
tersebut dan harta tersebut pada hakikatnya adalah milik-Nya
sendiri. Lihatlah bagaimana kemuliaan Allah SWT di mana Dia membeli harta
milik-Nya yang khusus dengan surga dan bagaimana Allah SWT menganjurkan orang-orang
Islam untuk berperang, dan Dia memberitahu mereka bahwa urusan memerangi
orang-orang lalim dan orang-orang yang tersesat bukanlah hal yang baru atas
orang-orang Islam. Allah SWT telah memerintahkan hal tersebut dalam Injil
dan Taurat. Sebagaimana Nabi Isa diutus dengan pedang, seperti yang
disebutkan dalam lembaran-lembaran atau buku-buku orang-orang Nasrani, maka
Nabi Musa pun diutus dengan membawa pedang. Dan ketika Bani Israil berkata
kepada Musa, "pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami
hanya di sini duduk-duduk saja,", maka kehendak Ilahi menetapkan agar
mereka mendapatkan kesesatan selama empat puluh tahun sebagai akibat dari
perbuatan mereka itu, agar generasi yang lemah dan hina itu hancur yang mereka
justru tidak memenuhi panggilan Allah SWT dan mereka membiarkan Nabi Musa
bersama Tuhannya berperang, padahal peperangan itu merupakan tanggung jawab
mereka dan tugas mereka yang harus mereka emban sebagai pengikut Nabi Musa.
Demikianlah
esensi dari ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh Muhammad bin Abdillah.
Yakni ajakan untuk membaca dan menggali ilmu serta mendapatkan kebebasan dan
yang terpenting adalah usaha melawan kekuatan-kekuatan lalim. Suatu ajakan yang
universal yang tidak dikhususkan untuk kalangan tertentu atau untuk waraa kulit
tertentu atau untuk kaum tertentu atau untuk tempat tertentu; suatu ajakan
kemanusiaan yang komprehensif yang universal yang ingin mengikat ilmu dan
kebebasan dan jihad dengan tujuan yang lebih tinggi, yaitu mencapai tauhid
kepada Allah SWT dan menyucikan-Nya serta keimanan terhadap hari kemudian dan
kebangkitan manusia semuanya di hadapan Allah SWT.
Adalah salah
jika ada orang yang menganggap bahwa Islam hanya memperhatikan aspek akhirat
dan melupakan aspek duniawi. Menurut Islam dunia adalah lembar-lembar jawaban
yang akan dikoreksi di hari akhir. Ia adalah ujian dan tempat percobaan bagi
manusia agar manusia mengetahui apakah ia layak untuk menda-patkan kemuliaan
dari Allah SWT yang telah diberikan kepada Adam. Atau apakah iajustru layak untuk
jadi bagian dari tanah neraka Jahim dan batunya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Yang
bahan bakarnya manusia dan batu. " (QS.
al-Baqarah: 24)
Rasulullah
saw telah menjelaskan hikmah dari penciptaan manusia, penciptaan kehidupan dan
kematian ketika ia menyampaikan firman Allah SWT dalam surah al-Mulk:
"Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amabiya." (QS. al-Mulk: 2)
Dunia adalah
rumah pergulatan. Dan Allah SWT telah menciptakan kehidupan dan kematian agar
manusia menyadari siapa di antara mereka yang terbai amalnya. Tentu pengetahuan
ini tidak akan menambah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan itu justru dibutuhkan
oleh manusia. Allah SWT menciptakan manusia agar menusia mengetahui,
danpengetahuan yang paling penting adalah pengetahuan atau pengenalan terhadap
diri. Dan pada hari kiamat manusia akan mengenal dirinya secara sempurna dan ia
akan mengenal balasan yang akan diterimanya secara sempurna.
Dan mungkin
awal untuk kami diekstrak dari akhir ini membutuhkan kehidupan di bumi penuh
dengan kemurnian dan kebersihan, yang ditutupi dengan kemanusiaan yang sempurna
di mana orang yang memenuhi syarat untuk hidup. Dengan demikian Islam yang
dibawa oleh Nabi Muhammad. Ini pada dasarnya adalah esensi. Ini adalah
dasar dan esensi tidak diciptakan oleh Muhammad dan tidak didahului oleh rasul
sebelumnya. Fakta risalah pertama semuanya persatuan dan membela kebenaran
dan iman sampai akhir dan memberi kehidupan dan anggota tubuh hanya untuk Allah
SWT. Baru dalam Islam adalah pengetahuan, kebebasan dan universalitas
ajaran Islam dan warna keadilan sangat tebal, sehingga sangat tepat untuk
mengatakan bahwa karakter Islam adalah keadilan. Mungkin bagian ini harus
dipertimbangkan.
Meskipun
agama-agama samawi pada esensinya satu, tetapi kehendak Allah menuntut turunnya
lebih dari agama dan lebih dari satu nabi. Kehendak tersebut menuntut agar
pada setiap agama terdapat karakter yang khusus yang menggambarkan bentuk yang
paling tepat sesuai dengan kebutuhan utama yang di situ agama itu diturunkan
dan sesuai dengan waktu saat itu. Orang-orang Yahudi misalnya, mereka
hidup di tengah-tengah suasana penyembahan berhala dikalangan orang-orang Mesir
kuno. Yahudisme diturunkan pada Bani Israil yang suka membangkang dan karena
itu, karakter utamanya adalah ketegasan ( as-Sharamah ) agar
mereka tidak terpengaruh dengan fenomena berhalaisme ala Mesir atau mereka
terkena pengaruh dari tindakan semena-mena Fir'aun. Dengan ketegasan
inilah agama Yahudi aman dan dapat menjadi risalah penyelamatan dan pembebasan.
Namun
Bani Israil yang memperbudak manusia dan mempunyai hati yang keras pada
saat yang sama mereka keluar dari Fir'aun untuk masuk ke cengkraman orang-orang
Romawi di mana orang-orang Romawi justru lebih lalim dan lebih kuat dari
orang-orang Mesir. Oleh karena itu, orang-orang Masehi bertanggung jawab untuk
melakukan pembebasan baru tetapi dengan cara yang berbeda sesuai dengan
perubahan keadaan. Cara tersebut adalah menjauhkan penggunaan kekuatan
bersenjata karena kekuatan orang-orang Romawi mengungguli kekuatan saat itu dan
menguasai bumi secara keseluruhan. Maka kemenangan yang mungkin dapat diperoleh
adalah dengan cara menghindari tindak kekerasan dan lebih mengutamakan
pendekatan cinta. Dan pada kali yang lain orang-orang Masehi memperoleh
kemenangan melalui cara kedamaian dan cinta yang disebarkannya atas
imperialisme Romawi dengan segala senjatanya dan kekuasaannya.
Adapun Islam
datang sebagai agama yang terakhir dan menyeluruh yang layak untuk diterapkan
di muka bumi, sehingga Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja yang ada di
dalamnya kepada orang-orang yang berhak mewarisinya. Oleh karena itu,
agama yang terakhir ini harus mempunyai karakter khusus dan karakter itu adalah
karakter keadilan.
Ketegasan
hanya cocok untuk zaman tertentu dan kelompok tertentu dan keadaan tertentu,
sedangkan cinta adalah contoh yang tertinggi, tetapi ia tidak dapat menjadi
sesuatu tolok ukur untuk dibandingkan dengan tindakan-tindakan tertentu atau
untuk dijadikan alat untuk melakukan sesuatu. Dan jika ia menjadi tolok ukur
bagi orang-orang yang memilki perasaan yang tinggi atau budaya yang tinggi,
maka ia tidak dijadikan tolok ukur umum dan universal. Adapun keadilan, maka ia
menjadi karakter Islam yang berarti keseimbangan dalam sifat-sifat keutamaan
dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Ini adalah tolok ukur yang
menyeluruh dan barometer yang akhir. Dan barangkali kebesaran keadilan dan
pengaruhnya dalam pengaturan alam bersandarkan kepada firman Allah SWT:
"Allah
menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan.
Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). " (QS.
Ali 'Imran: 18)
Apabila
Allah SWT dalam Islam merupakan cermin yang tertinggi, maka keadilan yang
disaksikan oleh Allah SWT terhadap diri-Nya sendiri harus menjadi karakter
Islam dan kaum Muslim.Keadilan dalam Islam bukan hanya keadilan ekonomi atau
keadilan hukum atau keadilan dalam balasan, tctapi ia mencakup
semuanya. Sebelum semua ini dan sesudahnya, kcadilan dalam Islam merupakan
suatu sistem dalam kehidupan dan metode utama dalam Islam.
Ketika Anda
memalingkan pandangan Anda dalam Islam, maka Anda akan menemukan keadilan
menghiasi seluruh wajah Islam. Di sana ada keadilan antara agama-agama
yang dulu, keadilan antara individu dan masyarakat, keadilan antara dunia dan
agama, keadilan antara pria dan wanita, keadilan untuk orang-orang yang fakir
dan orang-orang yang kaya, keadilan antara para penguasa dan rakyat, bahkan
dengan keadilan itu sendiri bumi dan langit ditegakkan dan Allah SWT menyebut
diri-Nya sebagai al-'Adl (Yang MahaAdil).
Selanjutnya,
Islam adalah agama yang sudah lama sebagaimana lamanya kedatangan para
nabi. Nuh as berkata dalam surah Yunus:
"Jika
kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun darimu.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka dan aku disuruh supaya aku
termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadanya). " (QS.
Yunus: 72)
Nabi Ibrahim
dan Nabi Ismail as berkata dalam surah al-Baqarah saat keduanya membangun
Ka'bah:
"Ya
Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang
yang tunduh patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat
ibadat haji hami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang. " (QS.
al-Baqarah: 127-128)
Nabi Ibrahim
tidak lupa untuk berwasiat kepada keturunannya dan di antara mereka adalah
Yakub agar mereka mati dalam keadaan Islam. Allah SWT berfirman:
"Dan
Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anaknya, demikian pula Yakub.
(Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini
bagimu, maka janganlah hamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'" (QS.
al- Baqarah: 132)
Ketika
kematian mendekati Yakub, ia mengumpulkan anak-anaknya di sekelilingnya dan
bertanya kepada mereka:
"Apa
yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu
dan Tuhan nenak moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan hhaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha
Esa dan kami hanya tunduk kepadanya.'" (QS.
al-Baqarah: 133)
Allah SWT
memberitahu kita dalam surah Yunus tentang kata Musa kepada kaumnya:
"Hai
kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja,
jika kamu benar-benar orang yang berserah diri. " (QS.
Yunus: 84)
Sementara
itu, Nabi Sulaiman adalah seorang Muslim sesuai dengan nas ayat-ayat yang
menceritakan tentang kisahnya bersama Ratu Saba 'ketika Ratu tersebut berkata:
"Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri
bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (QS.
an-Naml: 44)
Demikian
juga Nabi Yusuf, beliau berdoa kepada Allah SWT dan meminta kepadanya agar
mematikannya sebagai orang Muslim dan memasukannya dalam kelompok orang-orang
yang saleh. Allah SWT berfirman dan bercerita tentang Yusuf dalam surah
Yusuf:
"Ya
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagaian
pemerintah dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan)
Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat,
wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang
yang saleh. " (QS.Yusuf:
101)
Sementara
itu dalam surah al-Maidah, Allah SWT mewahyukan kepada kaum Hawariyin agar
mereka beriman kepadanya dan kepada rasul-Nya lalu mereka berkata:
"Kami
telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa Sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." (QS.
al-Maidah: 111)
Jadi, Nuh,
Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Yakub, Nabi Musa Harun, Nabi Sulaiman, Nabi
Yusuf, Nabi Isa adalah nabi-nabi yang Muslim sesuai dengan nas ayat-ayat
tersebut. Maka seluruh nabi adalah orang-orang Muslim, lalu bagaimana Nabi
Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir dikatakan sebagai orang Muslim yang
pertama?
Allah SWT
berfirman dalam surah al-An'am yang ditujukan kepada Nabi yang terakhir:
"Katakanlah:
'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah). '"( QS. al-An'am:
162-163)
Maka,
bagaimana ia menjadi orang Muslim yang pertama, padahal penamaan umat beliau
dengan sebutan al-Muslimin adalah penamaan yang sebenarnya
sudah dahulu dikenal di kalangan nabi-nabi yang terdahulu dan kedatangannya ke
alam wujud dan penamaan agamanya dengan sebutan al-Islam sebenarnya
berutang kepada kakeknya yang jauh, yaitu Nabi Ibrahim. Allah SWT
berfirman dalam surah al-Hajj:
"Dan
Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian
orang-orang Muslim dari dahulu." (QS.
al-Hajj: 78)
Tidak ada
pertentangan dalam pendahuluan para nabi dengan sebutan al-Muslimin dari
Rasulullah saw dan posisi beliau sebagai orang Muslim yang pertama. Tentu
kata al-Awwal (yang pertama) di sini tidak dipahami dari sisi
waktu atau masa kemunculan, tetapi yang dimaksud dengan orang Muslim di sini
adalah akmalul muslimin (orang yang paling sempurna di antara
orang-orang Muslim). Suatu kali Aisyah pernah ditanya tentang akhlaknya
Rasulullah saw lalu dia menjawab dengan kalimatnya yang singkat: "Akhlak
beliau adalah Al-Qur'an."
Kita
mengetahui bahwa Al-Qur'an al-Karim menetapkan akhlak yang mulia meskipun dalam
batasannya yang sederhana dan rendah, dan menyebutkan keutamaan akhlak dalam
tingkatannya yang tinggi. Oleh karena itu, akhlak seperti apa yang dimiliki
oleh Rasulullah saw: apakah beliau memiliki akhlak yang sifatnya tengah-tengah,
atau apakah beliau mendahului dalam kebaikan, atau apakah beliau termasuk ashabul
yamin (orang-orang yang berasal di sebelah kanan), atau apakah beliau
termasuk al-Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah
SWT)?
Rasulullah
saw tidak hanya memiliki semua karakter tersebut dan atribut tersebut, bahkan
kedudukan beliau lebih dari itu semua. Dia berada di puncak dari segala
puncak keutamaan akhlak, sehingga dia berhak untuk mendapatkan sebutan dari
Allah SWT:
"Dan
sungguh pada dirimu ada budi pekerti yang agung." (QS.
al-Qalam: 4)
Para Mufasir
berbeda pendapat tentang makna dari al-Huluqul 'adzim (budi
pekerti yang agung). Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah
Al-Qur'an. Sebagian yang lain mengatakan itu adalah Islam. Ada juga
yang mengatakan bahwa beliau tidak memiliki sesuatu kecuali keinginan untuk
menuju jalan Allah SWT.
Dalam
Al-Qur'an al-Karim ada penjelasan tentang derajat beliau yang tinggi dalam dua
ayat yang mulia. Ayat yang pertama adalah firman-Nya:
"Katakanlah:
'Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah).'" ( QS. al-An'am:
162-163)
Dia adalah
orang yang paling utama di antara manusia semuanya; beliau memiliki
keutamaan yang melebihi semua manusia; beliau memiliki rahmat dan
kemuliaan yang tidak dapat ditandingi oleh seseorang pun. Meskipun beliau
datang sebagai Nabi yang terakhir namun justru karena posisi beliau sebagai
Nabi yang terakhir, maka beliau menjadi bata yang terakhir dalam pembangunan
rumah kenabian yang tinggi, sehingga bata yang terakhir itu harus menjadi puncak
pembangunan manusia. Sedangkan ayat yang kedua adalah firman-Nya:
"Dan
Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta." (QS.
al-Anbiya ': 107)
Beliau bukan
hanya menjadi rahmat bagi orang-orang Arab saja; ia bukan hanya menjadi
rahmat bagi orang-orang Quraisy dan beliau bukan menjadi rahmat bagi zamannya
saja, begitu juga beliau tidak menjadi rahmat bagi jazirah Arab saja, tetapi
beliau menjadi rahmat bagi alam semesta; beliau senantiasa menjadi rahmat
bagi alam semesta: dimulai dari diturunkannya wahyu kepadanya dengan
kalimat iqra hingga Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja
yang ada di dalamnya kepada orang-orang yang berhak mewarisinya sampai hari
kiamat. Alhasil, ia adalah rahmat yang dihadiahkan kepada
manusia; beliau adalah rahmat yang tidak menonjolkan mukjizat yang
mengagumkan, tetapi ia adalah rahmat yang memulai dakwah dengan mengutamakan
fungsi akal atau pembacaan dua kitab: pertama, pembacaan kitab alam atau
Al-Qur'an yang diciptakan atau kalimat-kalimat Allah SWT yang terdiri dari jutaan
bentuk dan kedua pembacaan Al-Qur'an yang diturunkan melalui malaikat Jibril di
mana ia adalah kalamullah yang abadi. Dan kitab alam
dibaca dengan ribuan cara: dibaca melalui penelusuran dunia:
"Katakanlah:
'Berjalanlah kamu di mnka bumi dan amat-amatilah.'" (QS.
an-Naml: 69)
Atau dibaca
melalui usaha menyingkap misteri dan penggunaan akal:
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap
penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa
Al-Qur'an itu adalah benar." (QS.
Fushilat: 53)
Atau dibaca
melalui ilmu dan pengamatan:
"Atau
siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang telah
membuat sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang membuat gunung-gunung untuk
(mengokohkan) nya dan membuat suatu pemisah antara dua laut 1 Apakah di samping
Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak
mengetahui. " (QS.
An-Naml: 61)
Jika di sana
ada ribuan jalan atau cara untuk membaca kalimat-kalimat Allah SWT dan kitab
alam, maka di sana ada satu jalan untuk membaca kalamullah yang
abadi, yaitu harus Al-Qur'an dibaca dengan mata hati dan kecermelangan basirah,
sehingga Al-Qur 'an menjadi bagian akhlak dari yang membaca sesuai dengan
kemampuannya.
Sebelum
turunnya Al-Qur'an, dunia diliputi dengan kekurangan, baik secara materi,
ruhani, undang-undang maupun dari dimensi kehidupan yang biasa melekat pada
manusia saat itu. Dan sebelum diutusnya Rasul saw yang beliau adalah manusia
yang sempurna dan paling utama, alam belum mencapai puncak dari penyerahan diri
kepada Allah SWT atau puncak dari keutamaan akhlak. Ketika Rasulullah saw
diutus, maka manusia mengalami kesempurnaan dan mampu mencapai tingkat
kesempurnaannya. Dengan Kitab yang mulia ini dan Nabi yang pengasih, Allah SWT
yang menyempurnakan agama bagi manusia dan menyempurnakan nikmat-Nya atas
mereka, sebagaimana firman-Nya:
"Pada
hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itujadi agama bagimu." (QS.
al-Maidah: 3)
Namun semua
itu tidak terwujud begitu saja, Nabi yang mulia harus berjuang secara serius
dan sungguh-sungguh, sehingga ia menjadi manusia yang paling layak untuk
mendapatkan pujian pendduduk bumi dan penduduk langit. Dan Rasulullah saw
telah melakukan semua itu. Kita tidak mengenal seorang nabi yang
perasaannya dihina dan dicaci maki lebih dari apa diterima oleh Muhammad bin
Abdillah; kita tidak mengenal seorang nabi yang memikul berbagai
penderitaan, dan memiliki kesabaran yang mengagumkan di jalan Allah SWT
sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi kita.
Kemudian,
seorang yang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi alam semesta tidak akan
mengajak manusia menuju kebenaran kecuali jika manusia tersebut dari kalangan
orang-orang yang kafir dan membangkang. Dia berdakwah bagi orang yang
berhak mendapatkan dakwah; beliau siap memikul tanggung jawab dakwah
dengan berbagai tantangan dan cobaannya; beliau menunjukkan kesabaran yang
luar biasa. Setelah itu, ia datang kepada Allah SWT dengan hati yang puas
dan air mata yang bercucuran dan dengan suara berbisik berkata: "Ya Allah,
jika tidak ada kemurkaan pada diri-Mu, maka aku tidak akan peduli dengan
manusia." Segala sesuatu akan menjadi mudah jika di sana ada ridha
Allah SWT.
Setelah
turunnya wahyu kepada Rasul saw, beliau memulai tahapan dakwah dan mengajak
manusia untuk menyembah Allah SWT. Dimulailah dakwah secara rahasia yang
berlangsung selama tiga tahun dalam persembunyian.
Mula-mula
Ummul Mu'minin, Khadijah binti Khuwailid beriman kepadanya, lalu beriman juga
sahabatnya, Abu Bakar sebagaimana beriman kepadanya anak pamannya, Ali bin Abi
Thalib yang saat itu masih kecil dan hidup di bawah asuhan Muhammad, dan juga
beriman kepadanya Zaid bin Tsabit , seorang pembantunya. Kemudian Abu Bakar
juga ikut berdakwah, sehingga ia memasukkan dalam dakwah teman-temannya,
seperti Usman bin Affan, Thalha bin Ubaidilah, dan Sa'ad bin Abi
Waqas. Juga beriman seorang Masehi, yaitu Waraqah bin Nofel dan Rasulullah
saw melihatnya setelah kematiannya tanda kesenangan yang itu menunjukkan
ketinggian derajatnya di sisi Allah SWT. Setelah itu, Abu Dzar Al-Ghifari
juga masuk Islam, lalu disusul oleh Zubair bin Awam dan Umar bin 'Anbasah serta
Sa'id bin' Ash. Jadi, Islam mulai mengepakkan sayapnya secara rahasia di
Mekah.
Kemudian
berita tersebarnya akidah yang baru ini sampai kepada pembesar-pembesar
Quraisy, tetapi mereka tidak begitu peduli. Barangkali mereka membayangkan
bahwa Muhammad telah menjadi-karena uzlah yang dilakukannya di gua Hira-salah
seorang juru bicara tentang ketuhanan sebagaimana pernah dilakukan oleh Umayah
bin Shalt dan Qas bin Sa'adah.
Demikianlah
dakwah secara rahasia berhasil mengembangkan misinya dan dapat melindungi
akidah yang baru. Dan selama perjalanan tiga tahun yang dibutuhkan tahapan
dakwah secara rahasia keimanan telah tertanam dalam hati kaum Muslim yang
pertama. Rasulullah saw telah mendidik mereka dan telah menanamkan kepada diri
mereka sifat-sifat kemuliaan dan telah menciptakan mereka sebagai benih pertama
dari pasukan Islam. Pada suatu hari Jibril turun dengan membawa firman Allah
SWT:
"Dan
berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (QS.
asy-Syu'ara ': 214)
Demikianlah,
datanglah perintah Ilahi agar Rasulullah saw berdakwah secara
terang-terangan. Lalu berkumpullah di sekeliling Nabi sekelompok tentara
yang besar dan datanglah perintah Ilahi agar beliau menyampaikan dakwah secara
terang-terangan dan mengingatkan keluarga dekatnya. Ketika Nabi melakukan
hal tersebut, maka dakwah memasuki tahapan yang kedua. Dan tahapan dakwah
yang baru ini berakibat pada timbulnya penekanan terhadap para dai di mana
mereka mengalami penindasan, bahkan mereka didustakan oleh masyarakat serta
diboikot.
Orang-orang
Quraisy mengetahui bahwa Muhammad berbahaya bagi mereka. Beliau bukan
hanya berbicara tentang ketuhanan, tetapi beliau mengajak rnanusia untuk
mengikuti agama baru, yaitu agama yang mencoba untuk menyingkirkan
berhala-berhala dan patung-patung mereka serta tuhan-tuhan mereka yang mereka
yakini; agama yang mencoba menyingkirkan kedudukan sosial mereka dan
kepentingan-kepentingan ekonomi mereka; agama yang menyatakan bahwa tiada
tuhan lain selain Allah SWT, dan tiada hukum lain selain hukum-Nya, serta tiada
penguasa lain selain Dia. Kedatangan agama tersebut menyebabkan penduduk
kota Mekah membencinya dan orang-orang yang memegang kekuasaan di dalamnya
merasa gelisah.
Setelah
pengumuman dakwah secara terang-terangan, dimulailah dan ditabuhlah gendrang
perang. Kemudian peperangan yang dahsyat terjadi antara para pembesar
Quraisy dan para pengikut Rasulullah saw. Orang yang pertama kali
menyerang Islam adalah seorang tokoh Mekah yang bernama Abu Lahab.
Bukhari
meriwayatkan bahwa Rasulullah saw menaiki bukit Shafa dan beliau mulai
memanggil-manggil tokoh Quraisy dan para kabilah Mekah. Dan ketika semua
berkumpul, beliau bertanya kepada mereka: "Apakah kalian percaya jika aku
memberitahu kalian bahwa seekor kuda akan datang menyerang
kalian?" Mereka menjawab: "Tentu, kami belum pernah melihatmu
berbohong."Dia berkata: "Aku seorang yang diutus sebagai pemberi
peringatan terhadap kalian. Di hadapanku ada siksaan yang berat jika kalian
menentang." Abu Lahab berkata: "Sungguh celaka engkau, apakah
karena ini engkau mengumpulkan kami."
Dengan
penghinaan inilah, peperangan terhadap Islam dimulai. Ketika kaum Muslim
tidak mampu mempertahankan diri mereka, maka pertama Allah SWT membantu mereka
dan menolong mereka dengan menurunkan surah yang pendek yang mengecam tindakan
Abu Lahab:
"Binasalah
kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah bermanfaat
kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahahan. Kelak dia akan masuk ke
dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang
di lehernya ada tali dari sabut. " (QS.
Allahab: 1-5)
Dengan
ayat-ayat yang pendek dan tepat tersebut, Abu Lahab memasuki kancah sejarah
dari pintunya yang paling pendek. Penjelasan tentang kejahatan Abu Lahab
tertulis selamanya. Abu Lahab adalah seorang yang menentang dakwah
kebenaran karena ia mengkhawatirkan kedudukannya dan kekayaannya, padahal harta
yang dipertahankannya dan dijaganya tidak memiliki arti sama sekali di sisi
Allah SWT karena ia sekarang berada dan dijebloskan di tengah-tengah neraka
yang menyala-nyala, sedangkan isterinya membawa kayu bakar, sehingga menambah
nyala api itu sendiri. Dan di lehernya ada suatu belenggu sebagai simbol
keterikatannya dengan dunia binatang yang tidak berakal. Sebagian besar
orang-orang yang menentang dakwah adalah orang-orang yang berhubungan dengan
dunia binatang yang tidak sadar.
Allah SWT
berfirman:
"Atau
apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka
itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
jalannya (dari binatang ternak itu). " (QS.
al-Furqan: 44)
Seandainya hari
ini kita merenungkan reaksi orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, maka
kita akan terheran-heran.
Allah SWT
berfirman:
"Dan
mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari
kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: 'Ini adalah seorang ahli sihir
yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang Satu
saja? Sesungguhnya ini benar- benar suatu hal yang sangat mengherankan '.
" (QS. Shad: 4-5)
Coba
perhatikan bagaimana kebodohan kaum itu di mana mereka menganggap bahwa pada
hakikatnya ada multi tuhan dan mereka jutru merasa heran ketika ada hanya satu
tuhan atau tuhan yang esa. Mereka justru merasa heran ketika berhadapan
dengan masalah yang fitri dan jelas ini.
Allah SWT
berfirman:
"Dan
ketika mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanya membuat kamu sebagai ejekan
(dengan mengatakan): 'Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai rasul?
Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita,
seandainya kita tidak sabar (menyembah) nya. " (QS.
al-Furqan: 41-42)
Perhatikanlah
betapa nekatnya kaum itu di mana mereka mulai menghina dan mengejek Rasulullah
saw, padahal beliau telah datang di tengah-tengah mereka untuk menyelamatkan
mereka dari api neraka, dan coba perhatikan bagaimana pandangan mereka terhadap
tuhan-tuhan mereka. Mereka membayangkan bahwa mereka nyaris tersesat jika
mereka tidak bersabar dalam membela tuhan-tuhan tersebut. Demikianlah
kesesatan mengejek kebenaran dan kebodohan menghina ilmu. Mereka justru merasa
heran terhadap kepandaiannya yang dapat menyelamatkannya dari meninggalkan
tuhan-tuhannya yang terbuat dari batu dan kayu, bahkan terkadang mereka membuat
tuhan dari adonan roti di mana mereka menyembahnya kemudian
memakannya. Mereka mengatakan bahwa tuhan-tuhan kami menyelamatkan kami
dari rasa lapar atau mereka mengatakan bahwa kami menyembah mereka agar mereka
dapat mendekatkan kami pada Allah sedekat-dekatnya.
Meskipun
demikian, dakwah Nabi terus berlanjut dan tertanam di muka bumi. Mereka
orang-orang musyrik menuduh Nabi sebagai seorang dukun; mereka menuduhnya
juga sebagai seorang gila, bahkan mereka menuduhnya sebagai seorang
penyihir; mereka menuduh bahwa beliau berbohong atas nama kebenaran dan
beliau dibantu oleh kaum yang lain; mereka mengatakan ini adalah dongengan
orang-orang yang dahulu.
Mereka
meminta kepada beliau untuk mendatangkan mukjizat dengan bentuk
tertentu; mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan beriman kepadanya,
sehingga terdapat suatu mata air yang memancar dari bumi atau terwujud di depan
mereka suatu taman dari pohon kurma dan anggur yang memancar di
tengah-tengahnya sungai, atau langit akan runtuh sebagaimana yang beliau
sampaikan kepada mereka sebagai bentuk azab atau beliau datang dengan Allah SWT
dan para malaikat dan mereka semua menjamin kebenaran dakwah yang diserukannya,
atau beliau memiliki rumah dari emas atau beliau mampu mendaki langit dan
mereka masih belum beriman terhadap pendakian itu meskipun ia mendaki di
hadapan mata mereka dan kembali dengan selamat, kecuali jika ia menghadirkan
kitab kepada mereka yang dapat mereka baca dari langit.
Nabi tidak
peduli dengan usaha mereka untuk menyakiti hati beliau; Nabi tetap
memberitahu mereka dengan penuh kelembutan bahwa apa saja yang mereka minta itu
tidak sesuai dengan Islam. Sebab, Islam hanya menyeru akal dan berusaha
menciptakan kebebasan. Beliau menyampaikan kepada mereka bahwa ia hanya
sekadar manusia yang diutus oleh Tuhan; beliau datang kepada mereka untuk
mengingatkan mereka akan suatu hari di mana seorang tua tidak akan menyelamatkan
anaknya dan tidak bermanfaat di dalamnya harta dan anak-anak, dan mereka tidak
akan selamat di dalamnya dari siksaan. Orang-orang yang memiliki kedudukan
atau para tokoh mereka adalah para tiran-tiran di muka bumi di mana semua itu
tidak akan bermanfaat bagi mereka pada hari kiamat. Siksaan yang bakal
mereka terima tidak dapat mereka hindari dan mereka pun tidak dapat
meringankannya.
Demikianlah
Islam-sebagaimana agama-agama sebelumnya- mengumpulkan di sekelilingnya
orang-orang yang berakal dan orang-orang yang fakir serta orang-orang yang
menderita di muka bumi. Berimanlah sekelompok orang-orang fakir di mana
mereka menjadi kelompok sosial yang tertindas dan tersingkirkan di
Mekah. Mereka menjadi makanan empuk kelompok-kelompok yang lalim.
Islam bukan
hanya memberikan solusi ekonomi terhadap tragedi kehidupan atau masyarakat,
tetapi Islam memberikan solusi Ilahi terhadap keberadaan manusia secara umum;
Islam meyakini bahwa manusia bukan hanya sekadar perut yang harus dikenyangkan
dan naluri seksual yang harus dipuaskan, manusia bukan hanya dilihat dan
dinilai dari sisi ini, namun Islam justru meletakkan manusia pada tempatnya
yang hakiki, tanpa membesar-besarkan atau mengecilkannya. Dalam pandangan
Islam, manusia terdiri dari bangunan fisik dan ruhani, terdiri dari akal dan
ambisi dan terdiri dari celupan dari Allah SWT dalam ruhnya.
Islam tidak
mementingkan fisik saja dan meninggalkan ruhani, begitu juga sebaliknya.
Terkadang fisik boleh jadi mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan, tetapi
ruhani justru mengalami penderitaan yang luar biasa. Karena itu, pemuasan salah
satu dimensi dari dimensi manusia tidak akan membawa manusia kepada
kesempurnaan atau kebahagiaan. Maka, Islam datang untuk membawa suatu solusi
yang dapat menyelamatkan manusia dari dalam dirinya sendiri dan Islam
membebankan tugas ini, yakni tugas perubahan ini kepada Al-Qur'an.
Al-Qur'an
menjadi cermin dalam kehidupan di mana ayat-ayatnya diturunkan kepada Rasul
saw, lalu beliau mengajarkannya kepada kaum Muslim. Kemudian Al-Qur'an berubah
menjadi orang-orang yang berjalan di pasar-pasar dan mengancam singgasana
kebencian yang menguasai Mekah, sehingga orang-orang musyrik justni
meningkatkan usaha pengejekan dan penghinaan terhadap Rasul saw. Oleh
karena itu, beliau semakin sedih lalu Allah SWT menghiburnya. Allah SWT
memberitahu beliau bahwa mereka tidak mendustakannya, tetapi mereka justru
melalimi diri mereka sendiri. Mereka mulai menentang Nabi dan ayat-ayat
Allah SWT, padahal Nabi adalah salah satu dari ayat Allah SWT.
Allah SWT
berfirman:
"Sesungguhnya
Kami mengetahui bahwasannya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu,
(janganlah hamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan
kamu, akan tetapi orang-orang yang lalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. " (QS.
Al-An'am: 33)
Kemudian
kaum musyrik meningkatkan penindasan kepada Rasul saw dan para
pengikutnya. Peperangan dimulai: dari peperangan urat saraf sampai
peperangan fisik. Mereka mulai menyiksa para pengikut Rasul saw, bahkan
membunuhnya. Pada saat itu, musuh-musuh Islam membayangkan bahwa dengan
cara menindas kaum Muslim dan menekan mereka dakwah Islam akan berhenti dan
kaum Muslin akan enggan untuk berdakwah. Mereka menganggap bahwa kaum
Muslim justru memilih untuk menyelamatkan diri mereka. Namun para tokoh-tokoh
Quraisy dan para tokoh-tokoh Mekah dikagetkan ketika melihat penekanan yang
mereka lakukan justru semakin membakar semangat kaum Muslim untuk
berdakwah. Saat itu kaum Muslim merasa yakin bahwa benih yang telah
ditanam Rasulullah saw dalam diri mereka membuat mereka tetap bersemangat untuk
menyebarkan risalah Allah SWT di muka bumi, yaitu suatu risalah yang
mengembalikan bumi menuju kematangan (kesempurnaan) yang telah hilang darinya
dan kema-nusiaan yang telah disia-siakan serta kehormatan yang telah
ditumpahkan dan kebebasan yang telah hilang.
Kaum Muslim
yakin bahwa mereka bukan hanya membangun suatu negeri yang kecil di Mekah, dan
mereka bukan hanya memperbaiki masyarakat yang rusak, yaitu masyarakat jazirah
Arab, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka akan membangun suatu manusia yang
baru. Mereka akan menciptakan manusia seutuhnya; mereka akan
menghadirkan dunia dalam bentuk yang baru dan dalam gambar yang baru yang
merupakan cermin dari gambar kebesaran sang Pencipta.
Sebelum
kedatangan Islam, orang-orang Arab tidak dikenal. Dibandingkan dengan peradaban
yang dahulu dan modern, orang-orang Arab tidak memiliki apa-apa. Mereka tidak
memberikan kontribusi kepada dunia dalam bentuk ilmu, seni, atau peninggalan
apa pun yang dapat dijadikan sebagai kebanggaan. Namun ketika Islam turun
kepada mereka, mereka menjadi cermin kejayaan manusia di mana mereka dapat
memberikan sumbangan nyata pada umat manusia. Bahkan orang-orang Barat banyak
berhutang kepada mereka dalam kemajuan yang mereka capai saat ini. Sebaliknya,
ketika mereka berpaling dari Islam di mana Islam hanya menjadi lembaran
cerita-cerita dan kertas-kertas yang tidak berguna, maka saat itulah
orang-orang Barat dapat menguasai kaum Muslim karena mereka justru mendapatkan
ilmu dari Kaum Muslim itu sendiri. Mereka justru mencapai kemajuan ketika kaum
Muslim meninggalkan agama mereka. Jadi, ketika kaum Muslim memahami Islam
secara benar dan berusaha untuk memnghidupkan ajaran-ajarannya niscaya mereka
akan mencapai puncak keilmuan.
Pada
awal-awal masa tersebarnya Islam, kaum Muslim menyadari bahwa mereka menghadapi
peperangan yang tidak akan berhenti. Selama kehidupan ada, maka
pertentangan pun tetap ada. Oleh karena itu, ketika mereka mendapatkan
penganiayaan dan siksaan, maka keimanan mereka justru semakin meningkat, dan
setiap penganiayaan yang dilakukan oleh kaum Quraisy, maka mereka tetap
bertahan untuk mempertahankan kebenaran. Sebagai contoh, Amar bin Yasir
mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah seorang budak yang
menjadi korban dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu, yaitu ekonomi yang
berdasarkan kepada sistem perbudakan. Seorang yang beriman tersebut
disiksa di Mekah di mana ia tidak memperoleh kebebasannya yang hakiki kecuali
setelah ia memeluk Islam. Mereka mengeluarkannya ke gurun dan menyiksanya
beserta ibunya. Bahkan siksaan semakin meningkat atas ibunya agar ia
kembali menjadi musyrik. Ketika ia tetap mempertahankan keimanannya dan
dengan tegas menolak ajakan untuk menentang Islam, maka Abu Jahal menikamnya
dengan belati yang ada di dua tangannya.Ia pun meninggal. Dan Islam
mengorbankan syahidnya yang pertama. Wanita mulia itu bernama Sumayah, ibu
dari Amar bin Yasir.
Banyak
kalangan orang-orang bodoh mengatakan tentang persetujuan Islam terhadap sistem
perbudakan, atau Islam mendiamkan sistem perbudakan. Mereka lupa bahwa
Islam dibangun berdasarkan suatu prinsip yang ingin membebaskan perbudakan
dengan segala bentuknya; Islam ingin mengeluarkan manusia dari kepemilikan
sesama manusia menuju kepemilikan kepada Allah SWT.
Jika Islam
tidak turun dengan nas-nas yang terperinci yang mengharamkan sistem perbudakan,
maka dasar-dasarnya secara umum dan prinsip-prinsip utamanya menghentikan-baik
dalam tindakan maupun ucapan-sumber sistem ini. Allah SWT sebagai pemilik
syariat mengetahui bahwa sistem perbudakan adalah sistem ekonomi yang sementara
yang akan berubah dengan perubahan waktu, dan karena Islam tidak turun pada
waktu yang ada perbudakan saja, tetapi ia turun secara umum dan menyeluruh
untuk setiap zaman, maka Islam sengaja melewati bentuk- bentuk yang temporal
ini dari bentuk-bentuk eksploitasi menuju unsur yang pertama atau dasar pertama
yang menimbulkan bentuk-bentuk eksploitasi tersebut, sehingga Islam
mengharamkannya.Dengan cara demikian, Islam mengharamkan sistem perbudakan
secara bertahap, seperti proses pengharaman khamer. Jadi, keseriusan Islam
sangat menonjol dalam usaha menghapus dan melarang perbudakan.
Jika
dikatakan kepada kita bahwa Islam memungkinkan para tentaranya untuk
memperbudak para tawanan perang, maka kita akan mengatakan bahwa Islam
menerapkan sistem ini sebagai bentuk pembalasan terhadap perlakuan yang sama di
mana musuh-musuh Islam membuat kaum Muslim sebagai budak-budak mereka ketika
mereka menawannya. Oleh karena itu, secara alami orang-orang Islam pun
menawan mereka sebagai budak-budak. Jika Islam tidak melakukan yang
demikian, maka bisa jadi Islam akan dimain-mainkan dan ada kesempatan besar
bagi orang-orang musyrik untuk memperdaya Islam.
Demikianlah
bahwa dakwah Islam mengalami berbagai macam hambatan dan penindasan. Dan ketika
orang-orang yang tersiksa mengadu kepada Rasulullah saw atas penindasan yang
mereka terima, maka Rasulullah saw memberitahu mereka dengan pembicaraan yang
jelas bahwa para dai di jalan Allah SWT harus mengorbankan kesenangan mereka,
kedamaian mereka, dan darah mereka sebagai harga yang pantas untuk tersebarnya
dakwah Islam. Kebebasan bukan diperoleh dengan cuma-cuma. Sejarah kehidupan
menceritakan kepada kita bahwa ia dipenuhi dengan gumpalan darah yang harus
dibayar oleh masyarakat untuk memerangi musuh-musuhnya dari luar dan dari
dalam. Jika ini dialami setiap orang yang menuntut kebebasan pada zaman dan
tempat tertentu, maka bagaimana dengan orang-orang yang menuntut kebebasan
manusia secara keseluruhan.
Seorang
Muslim harus sadar bahwa dengan mengumumkan dakwahnya, maka ia pasti akan
menerima pengusiran, penindasan, penjara, pengepungan dan pembunuhan. Ini
adalah harga yang pantas yang harus dibayar ketika berdakwah di jalan Allah
SWT; inilah harga kebebasan. Bahkan terkadang kaum yang batil pun
membayamya dengan senang hati, maka bagaimana mungkin orang-orang yang bersama
kebenaran ragu untuk melakukannya.
Pada
hakikatnya, manusia cinta kepada keabadian. Secara naluri manusia merasa
takut pada azab dan kematian. Dan barangkali yang membedakan orang-orang
Islam yang hakiki dengan yang lainnya adalah bahwa mereka terbebas dari rasa
ketakutan dan cinta keabadian. Ini adalah tolok ukur yang pasti untuk
membedakan antara seorang Muslim yang hakiki dan seorang Muslim yang hanya namanya
atau Muslim warisan atau hanya klaim semata.
Seorang
Muslim yang hakiki menyadari bahwa ajal di tangan Allah SWT, rezeki adajuga di
tangan-Nya, begitu juga keamanan semua ada di tangan-Nya. Dengan keimanan
seperti ini, ia memulai pergulatannya untuk menyebarkan dakwah. Ia siap untuk
menerima penyiksaan dan penderitaan di jalan Allah SWT; ia pun siap meneteskan
darahnya sebagai harga yang pantas yang diberikannya dalam rangka memperoleh
kebebasan. Ini semua dilakukanya dengan begitu sederhana dan tidak ada rasa
takut karena Islam membebaskannya dari rasa ketakutan. Dahulu para pembangkang
menggergaji orang-orang yang menyeru di jalan Allah SWT dengan menggergaji saat
mereka dalam keadaan hidup-hidup.
Khabab bin
Irit pergi menemui Rasulullah saw dan meminta tolong kepada beliau dari
penyiksaan orang-orang Quraisy, sambil berkata: "Tidakkah engkau menolong
kami, wahai Rasulullah? Tidakkah engkau berdoa kepada kami, ya
Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab: "Sungguh sebelum kalian
ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah SWT lalu mereka dimasukkan dalam
suatu galian tanah lalu mereka digergaji di mana tubuh mereka dipisah menjadi
dua, namun mereka tetap mempertahankan agamanya. Demi Allah, sungguh Allah SWT
akan menolong masalah ini tetapi kalian terlalu terburu-buru. "
Dengan
kalimat-kalimat yang penuh kesabaran dan keberanian ini, Rasulullah saw ingin
memahamkan kepada orang tersebut bahwa termasuk dari kesempurnaan iman adalah
membayar harga kebebasan. Jelas sekali bahwa Islam tidak memberikan
keuntungan bagi orang yang memeluknya. Orang-orang Islam yang pertama
tidak bertanya dan mengatakan: "Apa yang kita peroleh dari agama
ini?" Sebaliknya, mereka bertanya: "Apa yang kita bayar untuk
Islam?" Jawabannya adalah: "Segala sesuatu dimulai dari
suapan-suapan roti sampai darah yang tertumpah." Jadi, kaum Muslim
yang pertama telah membayar ongkos kebebasan. Mereka merasakan kedamaian
yang luar biasa untuk mempertahankan agama Allah SWT; mereka mendapatkan
kepercayaan yang tinggi tentang kemenangan kebenaran yang datang kepada
mereka; mereka justru memberitahu orang-orang musyrik bahwa mereka akan
dapat mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar.Dengan dakwah yang mereka lakukan,
mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin di muka bumi. Kaum musyrik justru memanfaatkan
kepercayaan ini untuk mengejek mereka dan menertawakan mereka.
Ketika Aswad
Ibnu Matlab dan orang-orang yang bersamanya melihat sahabat-sahabat Nabi, maka
mereka mengejek dan mengatakan: "Telah datang kepada kalian para pemimpin
bumi yang esok akan mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar, kemudian mereka
bersiul dan bertepuk tangan." Namun kaum mukmin tidak peduli dengan
ejekan tersebut. Demikianlah bahwa ejekan demi ejekan terus menyertai
dakwah kaum Muslim. Kemudian kaum Quraisy mengadakan pertemuan yang bersejarah
untuk menyatukan pandangan dalam rangka menyerang Rasulullah saw.Kaum musyrik
menuduhnya bahwa beliau adalah seorang ahli sihir, dan pada kali yang lain
mereka menuduhnya bahwa beliau adalah dukun, dan pada kali yang lain lagi
mereka menuduhnya bahwa beliau adalah penyair, bahkan pada kali yang lain
mereka menuduhnya bahwa beliau adalah seorang yang gila. Kemudian mereka
semua sepakat untuk menuduh bahwa beliau adalah seorang penyihir.
Walid bin
Mughirah yang terkenal sebagai orang yang terpandang di kalangan mereka menuduh
Rasulullah saw sebagai penyihir yang dapat memisahkan antara sesama saudara dan
antara seseorang dengan isterinya. Kemudian mereka membikin
kelompok-kelompok yang mengingatkan para pendatang di Mekah bahwa Muhammad
adalah seorang penyihir. Meskipun demikian, dakwah Islam tetap
bertahan. Ia tetap tersebar dengan pelan namun pasti dan kalimat-kalimat
yang diutarakan Nabi justru mengingatkan perjanjian yang pernah dilakukan oleh
manusia, yaitu perjanjian saat Allah SWT menyaksikannya ketika mereka masih di
alam atom di punggung Adam:
"Bukankah
aku Tuhan kalian? Mereka menjawab: 'Benar.'" (QS.
al-A'raf: 172)
Bertambahlah
jumlah kaum Muslim sampai kaum Quraisy merasakan ketakutan. Mereka mulai
melihat bahwa penggunaan cara-cara kekerasan tidak selalu
berhasil. Kemudian mereka memilih untuk menggunakan cara baru, yaitu
bagaimana seandainya mereka menggunakan perdamaian dan
negosiasi. Orang-orang Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang pria
yang terkenal dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding.
'Utbah
berkata kepada Rasul saw: "Wahai anak saudaraku, kami mengetahui
kedudukanmu di sisi kami dari sisi nasab. Engkau datang kepada kaummu dengan
suatu hal yang besar di mana engkau memisahkan kelompok-kelompok mereka. Maka dengarkanlah
aku karena aku ingin berbicara tentang beberapa hal . Barangkali engkau akan
menerima sebagiannya. " Rasul saw berkata: "Silakan berbicara
wahai 'Utbah." 'Utbah berkata: "Jika engkau menginginkan harta
niscaya kami akan mengumpulkan harta bagimu, sehingga engkau akan menjadi orang
yang paling kaya di antara kami, dan jika engkau menginginkan kehormatan, maka
kami akan memberi kehormatan itu bagimu dan jika engkau menginginkan kekuasaan,
maka kami akan menyerahkan kekuasaan padamu dan jika engkau terkena penyakit
yang engkau tidak mampu menolaknya dari dirimu, maka kami akan mencarikan tabib
bagimu dan kami akan mengeluarkan harta kami sehingga engkau sembuh. "
Demikianlah
'Utbah mengakhiri pembicarannya. Kemudian ia menunggu reaksi
Nabi. Lalu Rasulullah saw berkata:
"Dengan
nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa miim. Diturunkan dari
Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha penyanyang. Kitab yang dijelaskan
ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang
membawa berita gembira dan yang membawa peringatan , tetapi kebanyakan mereka
berpaling (darinya) ;, maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata:
'Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami
kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding
, maka bekerjalah kamu; Sesungguhnya kami bekerja (pula). ' Katakanlah:
'Bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku
bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan
yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan
besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan- (Nya), ( yaitu) orang-orangyang
tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (hehidupan) akhirat.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka
mendapat pahala yang tiada putus-putusnya. ' Katakanlah: 'Sesungguhnya
patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan
sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam. Dan
dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya
dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang
bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih
merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 'Datanglah kamu
keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya
menjawab: 'Kami datang dengan suka hati.' Maha Dia menjadikannya tujuh
langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan
Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perhasa
lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling , maka katakanlah: 'Aku telah
memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum' Ad dan kaum
Tsamud. " (QS. Fushilat: 1-13)
Rasulullah
saw telah menjawab tawaran 'Utbah di mana beliau memilih untuk menghadapi
tawaran dan iming-iming tersebut dengan membaca sebagian dari surah Fhusilat
yang merupakan salah satu surah Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT
melalui malaikat Jibril. 'Utbah bangkit dari tempatnya ketika Rasulullah
saw sampai pada firman-Nya:
"Jika
mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir,
seperti petir yang menimpa kaum" Ad dan kaum Tsamud. "(QS.
Fushilat: 13)
'Utbah
berdiri dalam keadaan takut dan segera menuju kaum Quraisy. Bayangan azab
dunia terngiang di telinganya. Dan ketika ia sampai ke orang Quraisy, ia
mengusulkan agar orang-orang Quraisy membiarkan apa saja yang dilakukan
Muhammad. Gagallah konsultasi dengan seorang Muslim yang pertama, yaitu
Rasulullah saw. Gagalnya perundingan tersebut sebagai bentuk pemberitahuan
tentang kembalinya tindak kekerasan dan penyiksaan terhadap sahabat-sahabat
Rasul saw. Kemudian kaum musyrik semakin meningkatkan penindasan terhadap
kaum Muslim.Rasulullah saw sangat menderita melihat hal yang dirasakan para
sahabatnya. Ketika kaum Muslim membayar harga yang paling mahal sebagai
konsekuensi dari akidah yang mereka anut dan mereka dengan sabar memikul
penderitaan di jalan Allah SWT, maka Rasulullah saw mengisyaratkan mereka untuk
berhijrah. Dia memberikan izin untuk berhijrah bagi orang yang ingin
hijrah.
Kemudian
Dimulailah gelombang hijrah. Itu terjadi pada lima tahun dari turunnya wahyu
setelah dua tahun diumumkannya dakwah. Maka berhijrahlah ke Habasyah enam belas
orang Muslim. Mereka keluar secara rahasia dan mereka menuju ke laut. Mereka
berlayar meskipun orang-orang yang tinggal di gurun sebenarnya tidak ingin
berlayar karena mereka takut dari laut dan mereka yakin bahwa manusia yang
berlayar di laut akan menjadi ulat di atas kayu-kayu yang berenang.
Selanjutnya,
gelombang hijrah yang kedua pun dimulai. Kali ini diikuti oleh delapan puluh
tiga orang laki-laki dan sembilan belas perempuan. Kemudian orang-orang Quraisy
berusaha untuk mengirim beberapa orang dan tetap berusaha menyiksa dan menyakiti
orang-orang yang berhijrah. Mereka mengutus ke Najasyi, Raja Habasyah,
orang-orang yang dapat mempengaruhinya untuk menentang orang-orang yang
berhijrah. Mereka menuduh kaum Muslim meninggalkan agama nenek moyang mereka di
Mekah dan mereka juga tidak menganut agama Najasyi, yaitu agama Kristen.
Kemudian orang-orang Quraisy tidak lupa mengirim hadiah kepada Najasyi sebagai
bentuk suapan kepadanya. Tampaknya Najasyi seorang yang berakal lalu ia
mengutus seseorang kepada kaum muhajirin dan bertanya kepada mereka tentang
agama baru yang mereka anut. Kemudian kaum muhajirin menceritakan kepadanya
tentang Islam.
Najasyi
bertanya tentang Isa lalu mereka menjawab: "Ia adalah hamba Allah SWT dan
rasul-Nya dan ruh-Nya serta kalimat-Nya yang diletakkan kepada Maryam, wanita
yang perawan yang suci." Kemudian Najasyi mengambil satu kayu kecil
dari bumi dan mengatakan: "Penjelasan tentang Isa yang kalian katakan
tidak lebih dari kayu kecil ini. Pergilah kalian dan kalian akan
aman."Najasyi mengembalikan hadiah kaum Quraisy dan mengatakan:
"Allah tidak mengambil suap dariku sehingga aku tidak mungkin mengambilnya
dari kalian."
Demikianlah
kaum muhajirin tinggal di negeri yang damai, yaitu Habasyah negeri yang
dipimpin oleh seorang laki-laki yang diberi kematangan berpikir di mana ia
cenderung mengimani karakter al-Masih sebagai seorang manusia. Dan salah
satu keajaiban kekuasaan Ilahi adalah bahwa masyarakat Islam yang berhijrah
tersebut tidak mengalami kelemahan dalam akidahnya, namun mereka justru
merasakan kekuatan.
Allah SWT
memperkuat dakwah Islam dengan masuknya dua pria besar dalam Islam, yaitu
Hamzah, paman Nabi dan Umar bin Khatab. Kedua orang itu memiliki
kepribadian yang tangguh di Mekah di mana masing-masing dari mereka terkenal di
tengah-tengah kaumnya. Allah SWT berkehendak untuk memberi Islam dua orang
pria yang tangguh di Mekah dan Allah SWT telah menempatkan rahmat yang
terpancar dalam hati mereka. Hamzah masuk Islam karena dorongan emosi,
fanatisme, dan rahmat terhadaporang-orang yang tidak memberikan pembelaan
kepada Muhammad saw.
Salah
seorang perempuan berkata kepada Hamzah: "Seandainya engkau melihat apa
yang diperoleh oleh anak dari saudaramu, Muhammad dari Abil Hakam bin Hisyam
(Abu Jahal). Sungguh Abu Jahal telah mencelanya dan menyakitinya, sedangkan
Muhammad hanya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa." Mendengar
pengaduan itu, darah mendidih berkobar dalam urat-urat Hamzah. Dengan
kemarahan yang sangat, Hamzah mencari-cari Abu Jahal lalu ia melihatnya sedang
duduk-duduk di tengah-tengah kaumnya. Hamzah mengangkat tangannya lalu
memukulkannya ke kepala Abu Jahal sambil berteriak: "Apakah engkau akan
mengejek Muhammad, padahal aku berada di atas agamanya."
Demikianlah
awal keislaman Hamzah. Hamzah adalah seorang yang mulia di mana
perasaannya berkobar ketika ia melihat anak saudaranya disiksa dan dianiaya dan
dia tidak menemukan seorang pun yang membelanya. Beginilah alasan pertama
dari keislaman Hamzah, namun alasan yang paling dalam dan yang paling
menentukan adalah rahmat Allah SWT yang telah diberikan kepadanya, meskipun
Hamzah tidak mengetahuinya, yaitu rahmat yang mendorongnya untuk tidak
membiarkan seseorang pun menyakiti pria yang berdakwah di jalan Allah SWT hanya
karena ia seorang yang lemah dan tidak memiliki penolong. Jadi, Hamzah
adalah penolongnya.
Sedangkan
Umar bin Khatab terkenal dengan ketangguhan sikap dan kekerasan perilaku.
Seringkali kaum Muslim mendapat siksaan darinya ketika ia masih menganut
jahiliah. Dan salah seorang yang mendapatkan siksaan ciarinya adalah Amir bin
Rabi'ah dan isterinya. Amir beserta istcrinya menetapkan untuk berhijrah ke
Habasyah. Umar bin Khatab menemuinya lalu ia mendapati isteri Amir dan tidak
mencmukan suaminya. Umar melihat wanita itu sedang bersiap-siap untuk berhijrah
lalu Umar berkata (saat itu sumber rahmat telah memancar pada dirinya):
"Apakah engkau akan pergi wahai Ummu Abdillah?" Dengan nada jengkel,
wanita itu berkata: "Benar, demi Allah kami akan keluar dan menuju tanah
Allah SWT. Engkau telah menyiksa kami dan telah memaksa kami untuk berhijrah. Kami
akan pergi sehingga Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada kami."
Umar berkata: "Mudah-mudahan Allah SWTmenemanimu."
Wanita itu
melihat tanda-tanda kelembutan dan kesedihan pada wajah Umar. Dan ketika
suaminya kembali, ia menceritakan kepadanya bahwa ia sangat berharap kepada
keislaman Umar.Lalu suaminya menjawab: "Ini tidak mungkin masuk Islam
sampai keledai Umar masuk Islam." Ia mengatkan demikian karena ia
melihat betapa bengisnya dan kejamnya Umar. Namun perasaan lembut wanita
itu lebih kuat dari pandangan pikiran pria itu dan keputusannya yang terlalu
cepat kepada Umar.
Belum lama
mereka bermigrasi sehingga Umar masuk Islam. Orang-orang muhajirin
mengeluarkan penutup sumur rahmat dalam dirinya. Dan barangkali Umar
merasa kebingungan lalu ia menetapkan untuk membunuh Rasul saw. Dengan
menghunuskan pedangnya, ia pergi menuju Rasul saw. Kemudian ia bertemu
dengan orang-orang yang memergokinya dalam keadaan kebingungan, lalu mereka
bertanya kepadanya, hendak kemana ia akan pergi? Umar menjawab: "Aku
hendak ke Muhammad aku akan membunuhnya sehingga orang-orang Arab merasa
tenteram." Dengan nada mengejek, seseorang berkata: "Tidakkah
engkau memulai dari keluargamu sebelum engkau membunuh
Muhammad." Dengan nada jengkel, Umar berkata: "Apa yang terjadi pada
keluargaku?" Lelaki itu menjawab: "Saudara perempuanmu dan
suaminya telah masuk Islam, sedangkan engkau tidak
mengetahuinya." Umar segera mencari saudara perempuannya dan suaminya
di mana saat itu keduanya sedang membaca Al-Qur'an.
Ketika
melihat Umar, mereka menyembunyikan Al-Qur'an. Umar bertanya: "Sepertinya
aku mendengar suara bisikan dari luar." Tetapi saudara perempuannya
mengatakan: "Tidak." Kemudian suaminya ikut campur dan Umar pun
tampak marah kepadanya. Wanita itu bangkit untuk membela suaminya lalu Umar
memukulnya sehingga darah segar mengucur darinya. Darah itu justru
membangkitkan sumber rahmat dari diri Umar. Akhirnya, Umar mengambil air wudhu
agar mereka mengizinkan untuk membaca Al-Qur'an. Umar pun membacanya. Belum
lama Umar membacanya sehingga ia pergi menemui Rasul saw.
Tanpa ragu,
Umar memilih untuk masuk Islam. Dan pedang yang dibawanya itu menjadi
pedang yang paling kuat yang dengannya ia mempertahankan agama Muhammad
saw. Kemudian ia mengetuk pintu untuk menemui Rasul saw di mana saat itu
beliau bersama sahabatnya. Dari celah-celah pintu, sahabat Nabi melihat
Umar bin Khatab sedang menghunuskan pedang. Kemudian sahabat itu kembali
kepada Nabi dengan membawa berita yang sangat mengejutkan ini. Ia menduga
bahwa Umar datang dengan maksud jahat.
Rasulullah
saw bangkit dan memerintahkan para sahabatnya agar membiarkan
Umar. Rasulullah saw membukakan pintu Kemudian ia menyambut Umar bin
Khatab dan bertanya kepadanya apa yang diinginkannya. Umar menjawab bahwa
ia datang untuk mengucapkan dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah utusan-Nya.
Orang-orang
Quraisy mulai merasa bahaya akan mereka temui setelah keislaman Umar dan
Hamzah. Para tokoh-tokoh Mekah dan orang-orang yang dihormati telah masuk
Islam. Sebelum Umar masuk Islam, kaum Muslim bertawaf di Ka'bah secara
rahasia dan dengan malu-malu, namun ketika Umar masuk Islam ia menampakkan
keislamannya dan ia menantang orang yang mencegahnya untuk bertawaf, bahkan
banyak orang-orang memberikan jalan padanya saat tawaf. Mekah mengetahui
bahwa ia menghadapi suatu dakwah yang akan dapat mengubah jazirah Arab.
Rasa
ketakutan mulai menghantui para pemuka Quraisy dan mereka menetapkan metode
baru untuk menghadapi kaum Muslim. Mereka yang sebelumnya menggunakan
metode penghinaan dan pengejekan kini mulai mencoba untuk memblokade kaum
Muslim secara ekonomi dan kemanusiaan. Kaum musyrik mengadakan perkumpulan
dan pertemuan untuk memboikot kaum Muslim.Mereka mengadakan pertemuan itu di
Ka'bah, sebagai penghormatan kepadanya. Orang-orang musyrik menghormati
Ka'bah meskipun mereka memenuhinya dengan berbagai macam patung yang mereka
sembah dalam rangka mendekatkan mereka kepada Allah. Pasal kesepakatan itu
mengatur, harus penduduk Mekah tidak menjual barang apapun kepada kaum Muslim dan
hendaklah mereka tidak menikah dengan kaum Muslim. Dengan ketetapan yang
kejam tersebut, mereka ingin menghancurkan kaum Muslim dan membunuh
perekonomian mereka. Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman kepadanya
terpaksa berlindung di dusun Bani Hasyim. Mereka dilindungi oleh keturunan
Bani Muthalib, baik mereka orang-orang kafir maupun orang-orang beriman kecuali
musuh Allah SWT, Abu Jahal di rnana ia bersama orang-orang Quraisy menentang
kaummnya.
Kemudian
Dimulailah blokade ekonomi terhadap kaum Muslim di mana tidak ada makanan dan
minuman yang datang kepada mereka, sehingga penderitaan yang sulit kini dialami
oleh sahabat-sahabat Nabi. Ketika kafllah perdagangan datang ke Mekah dan salah
seorang dari sahabat Nabi menemui mereka di pasar untuk membeli makanan untuk
keluarganya, maka Abu Lahab berdiri dan berkata kepada para penjual, wahai para
pedagang, mahalkanlah dagangan kalian terhadap sahabat-sahabat Muhammad,
sehingga mereka tidak mampu membelinya dan aku menjamin kerugian yang kalian
alami, bahkan aku akan membeli apa saja yang ingin mereka beli dari kalian.
Mendengar
hal tersebut, para pedagang pun menjual barang dagangannya dengan harga yang
tidak wajar, sehingga seorang Muslim kembali ke rumah keluarganya tanpa membawa
sedikit pun makanan. Kemudian padagang itu pergi ke Abu Lahab dan memin-ta
kepadanya agar membeli barang yang ingin dibeli orang Muslim. Demikianlah
peperangan tersebut terus terjadi sehingga kaum Muslim merasakan penderitaan
yang sangat luar biasa di mana mereka dalam keadaan kelaparan dan kekurangan
pakaian yang layak. Peperangan ekonomi ini terjadi selama tiga tahun penuh.
Saking menderitanya para sahabat sampai-sampai Sa'ad bin Abi Waqas pernah
keluar pada suatu hari untuk memenuhi hajatnya, lalu ia mendengar suara gemerincing
di bawah air kencing. Tiba-tiba ia menemukan sepotong kulit unta yang kering
lalu ia mengambilnya dan membasuhnya. Kemudian ia membakarnya dan mencucinya
dengan air sampai bersih lalu ia menjadikannya makanan selama tiga hari.
Selama tiga
tahun tersebut wahyu tetap turun kepada Rasul saw dan seakan-akan ia melupakan
bencana yang keras ini. Allah SWT ingin mendidik para pengikut agama-Nya
agar mereka mampu memikul segala penderitaan.
Meskipun
kaum Muslim mendapatkan berbagai ujian selama tiga tahun tersebut, tetapi
aktifitas dakwah Islam tidak pernah padam dan tidak pernah surut. Kaum Muslim
bertemu orang-orang selain mereka pada musim haji lalu mereka berbicara kepada
orang-orang tersebut tentang keberadaan Allah SWT dan mereka meminta kepada
para pengujung itu untuk mencari rahmat Allah SWT dan ampunan-Nya. Keteguhan
kaum Muslim dan keberanian mereka telah memikat banyak orang sehingga mereka
masuk Islam. Bahkan orang-orang musyrik mulai bertanya kepada diri mereka dan
mempertanyakan kebenaran apa tindakan mereka. Lalu kecemburuan kepada kebenaran
mulai menyerang hati.
Kemudian
Selesailah peperangan ekonomi terhadap kaum Muslim di mana kaum musyrik melihat
itu tidak berdampak terlalu besar bagi kaum Muslim. Meskipun kaum Muslim
menerima penderitaan dan kerugian namun jumlah mereka tetap bertambah dan
keimanan mereka semakin kuat serta kepercaayaan kepada Allah SWT pun semakin
meningkat. Lalu datanglah tahun kesedihan kepada Nabi. Belum lama
Rasulullah saw merasakan dan menghirup udara segar setelah tiga tahun masa
blokade dan ia ingin memulai kehidupan barunya dan dakwahnya, sehingga ia
dikagetkan dengan kematian istri tercintanya Ummul Mukminin Khadijah dan
kematian pamannya yang tercita Abu Thalib.
Abu Thalib
adalah seorang yang besar yang memiliki kewibawaan di tengah-tengah kaum
Quraisy, sehingga usaha kaum Quraisy untuk menyakiti Nabi menjadi terbatas
ketika mereka berhadapan dengan "tembok perlindungan" Abu Thalib
kepada kemenakannya. Sedangkan Khadijah adalah tempat perlindungan dan kedamaian
bagi Nabi. Ia adalah hati yang sangat penyayang yang banyak menghibur Nabi
saat beliau berdakwah. Khadiijah adalah sebaik-baik teman dan sebaik-baik
istri. Begitu juga, bagi Khadijah Rasulullah saw adalah sebaik-baik teman,
sebaik-baik suami, sebaik-baik pembantu, dan sebaik-baik sahabat.
Rasulullah
saw sangat sedih ketika kehilangan dua orang yang sangat berpengaruh dalam
kehidupannya itu, bahkan para sejarawan menamakan tahun tersebut dengan tahun
kesedihan. Sebaliknya, orangorang musyrik justru bergembira dengan kesedihan
Rasul saw itu. Mereka menganggap bahwa Rasul saw tidak lagi memiliki seorang
tua yang mampu melindunginya dan tidak lagi memiliki seorang isteri yang dapat
meringankan beban penderitaannya.
Setelah
kematian dua orang tcrscbut, penindasan dan penganiayaan kaum Quraisy kepada
Nabi semakin meningkat dan orang-orang musyrik memilih waktu yang tepat untuk
menyembelih binatang di Mekah lalu mereka membawa usus-usus atau jeroan dari
unta dan mereka melemparkannya dan meletakkannya di atas punggung Nabi saat
beliau sujud. Kemudian berita memilukan itu sampai kepada putri
tercintanya, Fatimah az-Zahrah, sehingga ia segera datang dan berusaha membela
ayahnya dan membersihkan kotoran yang ada di pundak ayahnya
itu. Demikianlah kemuliaan Siti Fatimah az-Zahra yang senantiasa
melindungi ayahnya.
Betapa
sedihnya Nabi saw ketika beliau melihat bahwa keadaan beliau sampai pada batas
di mana anak perempuan beliau pun turut membelanya. Namun beliau tetap
bersabar dalam berdakwah di jalan Allah SWT. Pada suatu hari ia berpikir
untuk pergi ke Tha'if di mana di sana dihuni oleh kaum Tha'if. Barangkali
ia berkata dalam dirinya: jika di sini aku menemukan hati-hati yang telah
membeku dan telah berhubungan mesra dengan kebatilan Ialu mengapa aku tidak
pergi ke Tsaqif. Barangkali Allah SWT akan membukakan pintu dakwah di
sana. Mungkin di sana masih ada hati yang akan terbuka guna menerima
kebenaran.
Saat itu
kaum musyrik memberlakukan blokade umum atas dakwah yang dipimpin oleh
Rasulullah saw sehingga tekanan kepada beliau semakin meningkat sampai pada
batas di mana pergerakan dakwah tidak dapat bergerak satu langkah
pun. Kondisi demikian ini sangat menggelisahkan Nabi. Dia ingin untuk
melepaskan belenggu yang mengikatnya. Lalu ia memutuskan untuk pergi ke Tha'if. Jarak
antara Mekah dan Tha'if lebih dari tujuh puluh kilo meter. Nabi menempuh
perjalanan itu dengan jalan kaki, pergi dan pulang.
Kita tidak
mengetahui pemikiran-pemikiran apa yang terlintas dalam benak Rasulullah saw
saat beliau pergi dan menemui kabilah yang kafir kepada Allah SWT
ini. Yang kita ketahui adalah bahwa beliau pergi ke sana dengan membawa
rahmat dunia dan akhirat. Tetapi mereka justru membalas sikap baik
Rasulullah saw itu dengan tindakan jahiliyah. Mereka bersikap buruk kepada
beliau dan mendustakannya. Rasulullah saw tinggal di sana selama sepuluh
hari. Dia mondar-mandir dari satu rumah ke rumah yang lain dan dari pasar
ke pasar yang lain dan dari satu jalan ke jalan yang lain. Tak seorang pun
yang mendengar kedatangan beliau di sana; tak seorang pun yang mau
mendengar dakwah beliau dan tak seorang pun yang mau beriman kepada
ajakannya.Bahkan masyarakat di situ semakin menjadijadi dalam menyerang
Rasulullah saw dan mengejeknya.
Pada hari
yang terakhir yang mana ia telah mengatur untuk kembali ke Mekah. Rasulullah
saw berdiri di Tha'if dan mengharap kepada masyarakat di sana agar merahasiakan
kunjungannya kepada mereka sehingga pencelaan yang ia terima di Mekah terhadap
agama yang dibawanya tidak semakin menjadi-jadi. Tetapi penduduk Tha'if menolak
permohonan yang terakhir ini. Mereka tidak cukup melakukan hal itu tetapi
mereka melakukan perbuatan terburuk yang dilakukan manusia terhadap sesama
manusia. Mereka menahan keluarga orang-orang yang bodoh dan orang-orang
biasa untuk membentuk dua barisan dan memerintahkan mereka untuk melempari
Rasulullah saw dengan batu dan mengejeknya. Nabi keluar dari Tha'if dan
beliau mendapatkan lemparan bertubi-tubi dari keluarga Tha'if bahkan beliau
merasakan kepedihan saat kakinya terkena lemparan batu itu sehingga darah suci
mengucur dari kaki beliau.
Kemudian
Rasulullah saw diusir sehingga beliau sampai di suatu kebun yang dimiliki oleh
dua orang dari orang-orang kaya Tha'if. Di sana beliau duduk di bawah naungan
pohon anggur. Dua orang pemilik kebun itu merasa kasihan melihat keadaan orang
yang terusir dan terluka itu. Mereka membawa kepadanya setangkai anggur dengan
seorang pembantu. Pembantu mereka adalah seorang Nasrani yang bernama Adas. Si
pembantu meletakkan setangkai anggur itu depan Rasul saw lalu beliau mengulurkan
tangannya kepadanya sambil berkata: "Bismillahirahmanirrahim (Dengan nama
Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Adas berkata kepada Nabi,
perkataan ini tidak begitu dikenal oleh penduduk negeri ini. Nabi berkata:
"Anda dari daerah mana?" Adas menjawab: "Aku adalah seorang
Nasrani dari Nainawa." Nabi berkata: "Apakah engkau dari desa lelaki
saleh Yunus bin Mata?" "Bagaimana engkau tahu tentang Yunus?, sambung
lelaki itu. Nabi berkata: "Itu adalah saudaraku. Ia adalah seorang Nabi
aku pun seorang Nabi."
Mendengar
jawaban Rasul saw, Adas segera merobohkan tubuhnya di depan kedua kaki Rasul
saw lalu ia menciuminya sambil menangis. Akhirnya, pembantu Nasrani itu masuk
Islam sehingga ia menambah barisan kaum Muslim. Ia adalah seorang yang menjadi
Muslim ketika Rasulullah saw berhijrah ke Tha'if. Inilah harga yang harus
dibayar Rasulullah saw sclania dua minggu saat beliau berada di Tha'if, dan
kemudian bcliau terkena cobaan dengan mengucurnya darah dari kaki beliau akibat
lemparan batu penghuni Tha'if.
Kemudian
Rasulullah saw kcmbali ke Mekah ia kembali dalam keadaan ditolak oleh pcnduduk
Tha'if dan kini ia kembali menerima penolakan itu di Mekah. Meskipun
demikian, beliau merasakan kesedihan yang mendalam melihat sikap
kaumnya. Namun ketika kebencian semakin deras mengalir kepada beliau, hati
beliau justru semakin bersemangat dan semakin dipenuhi dengan rahmat kemudian
datanglah kepada Nabi masa di mana tampak di dalamnya Islam asing, dan tampak
di dalamnya Nabi seorang diri, tanpa penolong.
Pada saat demikian
ini ketika manusia mulai meninggalkan Rasulullah saw lalu langit turut campur
dan terjadilah peristiwa besar dan mukjizat terbesar pada diri Nabi, yaitu Isra
'dan Mi'raj. Ini adalah mukjizat yang tidak berhubungan dengan dakwah
Islam; ia tidak datang untuk memperkuat dakwah ini atau mengaturnya tetapi
ia datang semata-mata untuk memperkuat keteguhan Nabi dan sebagai penghormatan
kepadanya. Seakan-akan Allah SWT ingin berkata kepada Nabi, jika saja
penduduk bumi tidak memujimu, maka penduduk langit mengenal kedudukanmu dan
memberikan pujian yang layak kepadamu dan jika manusia menolak dakwahmu dan
menolak keberadaanmu, maka sesungguhnya Allah SWT memilihmu dan memuliakanmu.
Untuk
melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, munculnya mukjizat Isra 'dan Mi'raj dalam
sejarah para nabi sebagai mukjizat satu-satunya yang tiada tandingannya
dibandingkan dengan kisah nabi yang lain. Kita mengetahui bahwa di deretan
para nabi ada nabi-nabi yang dinamakan oleh Allah SWT sebagai para kekasih-Nya
dan sebagai para pendamping-Nya, seperti Nabi Ibrahim. Kita juga melihat
bahwa di antara para nabi ada seseorang yang diajak bicara oleh Allah SWT tanpa
perantara, seperti Nabi Musa. Kita juga melihat di antara para nabi ada
yang didukung oleh Allah SWT dengan ruhul kudus, seperti Nabi
Isa. Tapi untuk pertama kalinya kita berada di hadapan seorang nabi yang
diajak dan dipanggil oleh Allah SWT untuk menuju ke sisi-Nya.
Dia naik
bersama Jibril dengan jasadnya dan ruhaninya sehingga Jibril berdiri di
suatu tempat dan Nabi maju sendirian. Itu adalah tingkat dari tingkat
kehormatan di mana pena terasa keluh untuk mengungkapkannya dan sejarawan tidak
dapat menulis apa yang terjadi saat itu. Kita telah melihat dalam kisah
para nabi seorang nabi yang meminta kepada Tuhannya agar memperlihatkan
kepadanya bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang mati. Allah SWT
bertanya kepadanya, apakah ia belum beriman akan hal itu? Ibrahim
menjawab: Bahwa ia beriman tetapi ia ingin menenangkan hatinya.
Kita juga
melihat dalam kisah para nabi seorang nabi yang cintanya kepada Allah SWT
memancar dalam kalbunya sehingga ia meminta:
"Ya
Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada
Engkau". (QS. al-A'raf: 143)
Namun Allah
SWT menjawab kepada Musa tentang absurditas melihat Allah SWT atas
manusia. Nabi Musa memahami bahwa makhluk manapun tidak akan mampu menahan
beban penampakan dari Zat sang Pencipta.
Adapun
Muhammad bin Abdillah ia tidak bertanya kepada Tuhannya dan meminta kepadanya
untuk diberi mukjizat atau kejadian yang luar biasa; ia tidak meminta
kepada Tuhannya agar dapat melihat Zat-Nya dan ia tidak berusaha mencari
ketenangan dalam hatinya. Cintanya kepada Allah SWT termasuk bentuk cinta
yang sulit untuk dipahami atau diselami kedalamannya oleh para tokoh pecinta
dan cintanya tersebut bukan termasuk bentuk yang menimbulkan berbagai
pertanyaan. Cinta beliau melampaui tingkat permintaan menuju ketingkat
penyerahan dan kepuasan atau ridha. Segala sesuatu yang menggelisahkan
Nabi adalah ridha Allah SWT.
Rasulullah
saw berkata saat ia dalam kondisi ditolak dan diusir dan terluka akibat
perbuatan kaum Tha'if: "Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak
peduli dengan mereka."
Lihatlah
tingkat cinta yang tinggi itu: bagaimana tingkat tersebut menyebabkan beliau
merasa rendah diri sehingga beliau berkata, "jika Engkau tidak murka
kepadaku ..." Seakan-akan beliau tidak menginginkan selain ridha Allah SWT
dan yang beliau khawatirkan adalah kemarahan Allah SWT.
Sungguh adab
yang diterapkan Rasulullah saw kepada Tuhannya adalah adab yang paling layak
dan paling tinggi yang sesuai dengan posisi beliau sebagai orang Muslim yang
paling sempurna.
Demikianlah
mukjizat Isra 'dan Mi'raj. Mukjizatyang tujuannya adalah menghormati
kepribadian Rasulullah saw; mukjizat yang membangkitkan peran akal dan
hati secara bersama. Para nabi tanpa terkecuali didukung oleh bcrbagai
macam mukjizat yang terjadi di muka bumi bahkan para nabi yang diangkat ke
langit seperti Nabi Idris dan Nabi Isa, maka pengangkatan mereka sebagai bentuk
menyelamatkan mereka dari usaha pembunuhan atau penyaliban. Mukjizat
mereka saat mereka diangkat ke langit adalah bentuk akhir dari aktifitas mereka
di muka bumi.
Ini adalah
kali pertama ketika kita mendapati suatu mukjizat yang tempat utamanya di
langit; suatu mukjizat yang terwujud bersama seorang Nabi yang diangkat ke
langit dengan jasadnya dan ruhaninya saat beliau masih hidup. Di sana Allah SWT
memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kemudian beliau kembali ke
bumi di mana beliau akan mendapatkan berbagai macam tantangan dan cobaan yang
biasa diterima oleh penduduk bumi. Muhammad bin Abdillah adalah manusia yang
pertama melewati planet bumi dan beliau menembus bulan dan matahari dan
bintang-bintang. Kita menyaksikan di zaman kita manusia pertama atau astronot pertama
yang mampu menembus ruang angkasa. Ruang angkasa itu baru dapat ditembus oleh
manusia setelah empat belas abad dari turunnya risalah Muhammad saw, namun
sejak empat belas abad yang lalu Nabi Islam telah dapat menembus ruang angkasa
itu, bahkan beliau mencapai Sidratul Muntaha dan puncak al-Muntaha.
Beliau
sampai pada batas yang di situlah alam makhluk diakhiri dan beliau menembus
alam gaib. Bukankah surga bagian dari alam gaib? Beliau sampai di surga. Allah
SWT menamakannya dengan Jannatul Ma'wah. Beliau sampai pada batas terputusnya
ilmu manusia dan tiada yang mengetahui hakikat ilmu tersebut kecuali Allah SWT.
Mukjizat Isra' bukanlah mukjizat Mi'raj, meskipun kedua-duanya terjadi di satu
malam. Peristiwa Isra' dan Mi'raj dikutip oleh dua surah yang berbeda dalam
Al-Qur'an al-Karim. Allah SWT berfirman tentang mukjizat Isra':
"Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. " (QS.
Al-Isra ': 1)
Sedangkan
terkait dengan mukjizat Mi'raj, Allah SWT berfirman:
"Dan
sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat
tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh
sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad ) tidak berpaling dari yang
dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauiya. Sesungguhnya dia telah melihat
sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. " (QS.
an-Najm: 13-18)
Pada malam
Isra 'dan Mi'raj, Nabi Muhammad berkeliling di sekitar Ka'bah dan berdoa kepada
Allah SWT. Dia dalam kondisi pucat wajahnya dan kedua air matanya
mengucur; beliau tidak bertawaf bersama seseorang pun; beliau tawaf
sendirian lalu orang-orang kafir dan orang-orang musyrik memandang beliau
dengan pandangan kebencian saat beliau bertawaf dan berdoa. Allah SWT
melihat hamba-Nya yang khusuk itu lalu Allah SWT menurunkan perintah-Nya
kepada Ruhul Amin yaitu malaikat Jibril agar menemani
hamba-Nya dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha Kemudian membawanya naik ke
langit agar dia dapat melihat tanda-tanda kebesaran Tuhannya.
Di suatu
rumah yang mulia dan sederhana dari rumah-rumah yang ada di Mekah, Nabi saw
sedang tidur dan datanglah waktu pertengahan malam. Jibril turun dan memasuki
rumah sang Rasul saw. Jibril as berdiri di sisi kepala sang Nabi dan ia melihat
kepadanya dengan pandangan cinta. Pandangan Jibril itu membangunkan Rasul saw
kemudian beliau membuka kedua matanya dan bangkit dari tempat tidurnya.
Jibril
berkata kepada Nabi saw, salam kepadamu wahai Nabi yang mulia. Allah SWT
ingin agar engkau melihat sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya di
alam. Kemudian Jibril berjalan bersama Nabi saw. Mereka keluar dari
rumah dan ia menyaksikan Buraq yaitu makhluk yang menyerupai burung dan
memiliki sayap seperti burung garuda; makhluk yang terbuat dari
kilat. Karena itu, ia dinamakan dengan Buraq. Kilat adalah listrik
dan listrik adalah cahaya. Cahaya adalah makhluk yang tercepat yang kita
kenal di bumi. Kilauan cahaya pada satu detik saja mencapai 186 ribu
mil. Kita tidak akan terlibat terlalu jauh tentang kendaraan luar angkasa
yang digunakan dalam perjalanan itu; kita tidak akan bertanya bagaimana
Nabi saw menembus alam ruang angkasa tanpa ada latihan sebelumnya dan berapa
lama waktu yang ia gunakan untuk pulang pergi; kami juga tidak akan
bertanya tentang kecepatan Buraq; kami tidak heran dengan usaha penembusan
luar angkasa ini; kita tidak akan bertanya tentang semua itu karena kita
memiliki satu jawaban dari semuanya: Allah SWT berkehendak agar hal itu terjadi
dan untuk itu Allah SWT mengatakan kunjadilah, maka jadilah.
Para ulama
beselisih pendapat tentang apakah Isra' dan Mi'raj terjadi dengan ruh saja atau
dengan ruhani dan jasad sekaligus. Ahli hakikat mengatakan bahwa itu terjadi
dengan ruh dan jasad. Tentu perselisihan itu berakibat pada perselisihan akal
dan terjerumus dalam perangkap kaifa (bagaimana) dan bertanya
tentang kekuasaan Allah SWT dan usaha untuk menundukkan masalah ini terhadap
sebab-sebab yang biasa atau hukum-hukum kita yang alami atau logika
kemanusiaan. Allah Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua itu. Apakah seseorang
akan bertanya, bagaimana Rasulullah saw naik berserta ruh dan fisiknya ke
puncak segala puncak di langit kemudian beliau kembali sebelum tempat tidurnya
dingin? Mukjizat apa yang terjadi di sini yang melebihi mukjizat berubahnya air
mani menjadi manusia dan berubahnya benih menjadi pohon atau mukjizat air yang
menghidupkan tanah, atau ia mampu memuaskan kehausan si dahaga atau mukjizat
cinta yang mengikat dua hati yang belum pernah mengenal?
Sementara
itu, Buraq menundukkan badannya kepada Nabi saw kemudian Nabi saw
menungganginya bersama Jibril dan Buraq pergi bagaikan anak panah dari cahaya
di atas gunung Mekah dan pasir-pasir menuju ke utara. Jibril
mengisyaratkan agar menuju arah gunung Saina 'lalu Buraq itu berhenti. Jibril
mengatakan di tempat yang diberkati ini, Allah SWT berdialog dengan Musa
as. Kemudian Buraq kembali pergi ke Baitul Maqdis, Nabi saw turun dari
pesawat ini yang berjalan lebih cepat dari cahaya dan jutaan kali lebih cepat
darinya dan ia tidak berubah dari cahaya.
Nabi
berjalan bersama Jibril dan memasuki Baitul Maqdis. Dia memasuki masjid
dan ia menemukan semua nabi sedang menunggunya di sana. Allah SWT
membangkitkan gambar para nabi-Nya dari kematian dan mengumpulkan mereka di
Mesjid Aqsha. Para malaikat memberinya suatu bejana yang di dalamnya
terdapat susu dan bejana yang lain yang di dalamnya ada khamer.Lalu beliau
memilih susu dan meminumnya. Dikatakan pada beliau, sesungguhnya engkau
telah memilih fltrah dan umatmu akan memilih fitrah.
Para nabi
mengitari Rasul saw dan datanglah waktu salat. Para nabi bertanya di
antara sesama mereka, siapa di antara mereka yang menjadi imam salat, apakah
itu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa atau Isa? Jibril berkata kepada Muhammad saw,
sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu untuk salat bersama para
nabi. Rasulullah saw berdiri dan salat bersama para nabi. Mereka
semua adalah orang-orang Muslim dan beliau adalah orang-orang Muslim yang
pertama. Secara logis bahwa beliau layak menjadi imam dari para nabi
sebagaimana kitabnya dijadikan kitab yang terbaik dari kitab-kitab yang
mendahuluinya. Beliau membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan beliau
menangis saat membacanya. Kekhusukan beliau saat membacanya membuat para
nabi pun menangis. Dan ketika para nabi sujud di belakang imam mereka,
pohon-pohon dan bintang-bintang pun turut bersujud.
Selesailah
waktu salat dan para nabi membubarkan diri. Setiap nabi kembali ke langit
yang mereka tinggal di dalamnya. Nabi keluar dari masjid bersama Jibril
dan mereka kembali menunggang Buraq seperti panah dari cahaya. Buraq
semakin meninggi dan ia melewati langit pertama lalu ia menyaksikan Nabi
Adam. Kemudian ada panggilan dari Allah SWT: "Hendaklah hamba-Ku
semakin meninggi dan menjauh." Kemudian hamba Allah SWT Muhammad bin
Abdillah semakin terbang menjauh ia melampaui langit demi langit. Beliau
melampaui tempat materi dan mulai menjangkau tempat ruhani dan
melewatinya. Beliau bersiap berdiri di haribaan Ilahi; beliau semakin
tinggi dan jauh di tingkat dan dipuncak ruhani dalam kecepatan yang tidak
kurang dari kecepatan kilat.
Dia
melampaui posisi Nabi Adam di langit pertama dan melampaui posisi Nabi Yahya
dan Nabi Isa di langit kedua. Lalu Tuhan pemilik kemuliaan memanggil,
"harus hamba-Ku lebih tinggi lagi." Kemudian hamba Allah SWT dan
Nabi-Nya yang mulia mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi. Dia melampaui
langit yang ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh. Dia melampaui
alam materi semuanya dan melampaui alam ruhani. Akhirnya, beliau sampai ke
Sidratul Muntaha. Dia sampai di tempat yang suci yang Allah SWT
menamakannya dengan sebutan Sidratul Muntaha dan di sana Nabi melihat dan
menyaksikan Jannatul Ma'wa. Dia menyaksikan yang kita tidak mampu
mengetahuinya dan memahaminya bahkan membayangkannya:
"(Muhammad
melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidnk
(pula) melampauinya. " (QS.
An-Najm: 16-17)
Sungguh
terjadilah pada tempat itu apa yang terjadi dengannya. Dengan kebesaran
yang misteri ini, Allah SWT memberitahu kita bahwa terjadilah hal penting di
sana meskipun hakikat hal tersebut tersembunyi dari kita. Sesuatu yang
Allah SWT sembunyikan dari kita tersebut disaksikan oleh Rasul saw. Itu
adalah mukjizat yang khusus baginya; itu adalah tingkat cinta yang tidak
tersingkap tabirnya karena ketinggiannya yang tidak mampu ditangkap oleh
pengetahuan manusia biasa.
Kemudian
Tuhan pemilik surga dan neraka memanggil, "harus hamba-Ku lebih tinggi
lagi." Hamba Allah SWT Muhammad bin Abdillah menaik ke tempat yang
tinggi. Kali ini ia melihat Jibril yang berada di belakangnya lalu ia
mendapatinya dalam keadaan bertasbih kepada Allah SWT. Jibril tidak berada
dalam wujud manusia seperti yang Nabi saksikan ketika berada di dunia. Jibril
as kembali ke dalam wujud malaikatnya. Nabi melihat Jibril dan itu
merupakan tanda kebesaran Allah SWT yang Allah SWT janjikan untuk diperlihatkan
kepadanya:
Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula)
melampauinya. " (QS. an-Najm: 17)
Pemandangan
itu terjadi dengan hati dan mata serta panca indera yang dikenal dan yang tidak
dikenal. Pemandangan itu benar-benar jelas. Di sana bukan mimpi, bukan
khayalan, dan bukan gambaran. Rasul saw melihat semua itu dengan jasadnya dan
ruhaninya:
"Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula)
melampauinya. " (QS.
An-Najm: 17)
Kemudian
Rasulullah saw menuju ke tempat yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Beliau
semakin naik ke tingkat yang makin tinggi sampai beliau berdiri di hadapan
Tuhan Pencipta langit dan bumi dan Penebar kasih sayang di dunia dan di
akhirat. Orang Muslim yang paling sempurna itu bersujud di hadapan Tuhan Sang
Pencipta sambil berkata: "Sungguh penghormatan dan keberkatan serta shalawat
yang baik tertuju hanya kepada Allah SWT." Allah SWT membalasnya:
"Salam kepadamu wahai Nabi dan rahmat Allah SWT serta berkat-Nya juga
tercurah kepadamu." Para malaikat pun ketika mendengar ucapan itu
bertasbih dan mengatakan: "Salam kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah
SWT yang saleh."
Ungkapan-ungkapan
tersebut merupakan permulaan tahiyat (penghormatan) yang
diucapkan orang-orang Muslim saat mereka melaksanakan salat pada setiap
hari. Salat telah diwajibkan atas kaum Muslim pada kesempatan yang besar ini. Hal
populer di kalangan umumnya kaum Muslim adalah, bahwa Allah SWT mewajibkan atas
Nabi mula-mula lima puluh salat sehari. Kemudian Nabi turun dari langit
lalu beliau menemui Nabi Musa. Selanjutnya Musa bertanya kepadanya tentang
jumlah salat yang diwajibkan Allah SWT kepada umatnya. Nabi menceritakan
bahwa Allah SWT telah menentukan lima puluh kali salat. Nabi Musa berkata
sungguh umatmu tidak akan kuat untuk melakukan salat itu, maka kembalilah
kepada Tuhanmu dan mohonlah kepadanya agar Dia meringankan bagi
umatmu. Lalu Nabi kembali kepada Tuhan-Nya sehingga Allah SWT meringankan
salat sampai sepuluh kali. Setelah itu, Nabi kembali bertemu dengan Nabi
Musa. Lagi-lagi Nabi Musa memperingatkannya. Kemudian Nabi kembali
lagi kepada Allah SWT sehingga sampai diturunkan salat dari lima puluh kali
menjadi lima kali sehari. Namun salat yang lima kali itu pahalanya sama
dengan salat yang lima puluh kali.
Menurut
hemat kami, kisah tersebut tidak memiliki sandaran dalam kitab-kitab ulama yang
benar-benar teliti. Kami kira, kisah itu tersebut merupakan rekayasa
orang-orang Yahudi di mana mereka masuk Islam dan mereka memenuhi kitab-kitab
dengan dongeng-dongeng khurafat dan mereka menisbatkannya kepada Rasul.
Prasangka tersebut didukung oleh pemilihan Musa sebagai seorang Nabi yang
mengusulkan kepada Rasul saw agar meminta keringanan atas umatnya sehingga
terkesan Nabi Musa menjadi seseorang yang lebih mengetahui sesuatu yang tidak
diketahui oleh Nabi Muhammad. Kami sendiri cenderung untuk menolak kisah
tersebut dengan keyakinan bahwa pertemuan Nabi dengan Allah SWT menimbulkan
rasa kebesaran dan kewibawaan yang luar biasa sehingga ketika Nabi telah pergi,
maka sangat berat baginya untuk kembali lagi.
Nabi
menyaksikan dan melihat hal-hal yang tidak mampu diungkap oleh lisan dan tidak
mampu ditulis dengan pena. Beliau berada di suatu keadaan yang tidak dapat
dipahami oleh manusia biasa. Al-Qur'an al-Karim sengaja tidak mcnyebutkan apa
saja yang dilihat oleh Nabi karena itu mernpakan rahasia antara Nabi dan
Tuhannya dan mukjizat yang khusus yang diperuntukkan baginya sebagai bentuk
penghormatan kcpadanya. Jadi Al-Qur'an sengaja tidak menyebutkan itu semua
untuk menegaskan bahwa beliau melihat tanda dari tanda-tanda kebesaran
Tuhannya.
Kami tidak
mengetahui apa yang dilihat oleh Nabi. Hal yang dapat kami bayangkan
adalah, bahwa Nabi bersujud dengan khusuk di hadapan Tuhannya dan beliau
menangis karena gembira.Kesedihan hatinya telah hilang selamanya. Setelah
Nabi melihat rahasia dan setelah penghormatan yang besar ini, beliau kembali
menemani Buraq dan pergi bersama Jibril untuk kembali ke bumi. Dia kembali
dan mendapati tempat tidurnya masih dingin. Bagaimana beliau pergi dan
kembali sementara tempat tidumya belum dingin? Berapa lama waktu yang
diperlukannya saat melakukan perjalanan tersebut? Hanya Allah SWT semata
yang mengetahui. Yang kita ketahui adalah, bahwa Rasulullah saw kembali ke
tempat tidurnya setelah Isra 'dan Mi'raj dan hatinya dipenuhi dengan
kegembiraan serta dadanya dipenuhi dengan ketenangan dan kepuasan serta
kefanaan dalam cinta kepada Allah SWT.
Kemudian
datanglah waktu pagi. Nabi menceritakan perjalanan dan pengalaman tersebut
kepada sahabat-sahabatnya dan orang-orang Musyrik sehingga berimanlah
orang-orang yang beriman padanya dan mendustakan kepadanya orang-orang yang
mendustakan. Namun beliau tidak peduli dengan semua itu. Nabi terus
melangsungkan perjuangannya dengan penuh kesabaran.
Akhirnya,
datanglah suatu masa di mana Nabi saw mengetahui bahwa dakwah Islam di Mekah
telah mengalami penekanan yang luar biasa sehingga keadaan sangat tidak
mendukung bagi kaum Muslim. Rasulullah saw bergerak dengan
dakwahnya. Lalu Allah SWT mewahyukan kepadanya agar ia
berhijrah. Kemudian mulAllah Nabi berhijrah di jalan Allah SWT setelah
tiga belas tahun beliau di Mekah. Islam ingin membangun negaranya dan
ingin menghilangkan pengepungan dan serangan kaum musyrik. Mula-mula
terjadilah perubahan sedikit dalam kondisi kaum Muslim.
Rasulullah
saw keluar pada musim haji untuk menunjukkan dirinya pada kabilah-kabilah Arab
sebagaimana yang ia lakukan pada setiap musim. Dia berada di tempat yang
bernama 'Aqabah, lalu beliau bertemu dengan jamaah dari
Khazraj. Rasulullah saw berkata kepada mereka, "siapa
kalian?" Mereka menjawab: "Kami berasal dari kelompok
Khazraj." Dia berkata. "Apakah kalian termasuk pembantu
kaum Yahudi?" Mereka menjawab, "benar." Beliau
berkata, "maukah kalian duduk bersama aku karena aku ingin sedikit
berbicara dengan kalian." Mereka menjawab: "Bisa."Kemudian
mereka duduk bersama Nabi lalu beliau mengajak mereka untuk mengikuti agama
Allah SWT.
Rasulullah
saw sedikit menceritakan Islam kepada mereka dan membacakan
Al-Qur'an. Enam orang mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi
saw. Setelah ia selesai dari pembicaraannya, mereka membenarkannya dan
beriman kepadanya. Kemudian mereka menceritakan kepada Nabi saw bahwa
mereka meninggalkan kaumnya karena kaum mereka terlibat peperangan dan
kebencian. Mudah-mudahan Allah SWT mengumpulkan mereka dengan kedatangan
Nabi saw yang mulia ini. Mereka memberitahu Nabi saw bahwa mereka akan
menceritakan kepada kaumnya apa yang mereka dengar dari Nabi saw dan akan
mengajak mereka untuk memenuhi dakwah Nabi.
Keenam pria
itu kembali ke kota Madinah yang berubah namanya menjadi Madinah Munawarah yang
sebelumnya ia bernama Yatsrib di zaman jahiliah. Allah SWT berkehendak
untuk meneranginya dengan Islam. Para lelaki itu kembali ke Madinah dan
mereka membawa Islam di hati mereka sehingga banyak orang yang masuk Islam.
Kemudian
datanglah musim haji dan keluarlah dari Madinah dua belas orang pria dari
orang-orang yang beriman yang di antara mereka ada enam orang yang Rasulullah
saw telah berdakwah kepada mereka pada musim yang dulu dan Nabi saw menemui
mereka di 'Aqabah. Kemudian Nabi melakukan baiat pada mereka agar mereka mempertahankan
keimanan dan membela dakwah kebenaran serta kemanusiaan.
Kaum lelaki
itu kembali ke Madinah disertai salah seorang yang terpercaya dari tokoh Islam
yaitu Mus'ab bin Umair di mana ia menjadi utusan Rasulullah saw di Madinah dan
ia mengajari manusia tentang agama mereka dan membacakan kepada mereka
Al-Qur'an dan menyerukan kebenaran kepada manusia sehingga tersebarlah Islam di
Madinah. Penduduk Madinah mulai bertanya-tanya, mengapa saudara-saudara
kita kaum Muslim Mekah ditindas? Mengapa Rasul saw keluar untuk berdakwah
dan menebarkan rahmat tapi ia justru mendapatkan angin kebencian?Sampai kapan
kita akan membiarkan Rasulullah saw teraniaya dan terusir di Mekah?
Demikianlah,
pergilah tujuh puluh orang ke Mekah, tujuh puluh orang dari penduduk Madinah Munawarah. Mereka
pergi ke 'Aqabah dalam keadaan sendirian dan berkelompok-kelompok.Islam telah
menghasilkan buah pertamanya dalam hati mereka sehingga hati mereka dipenuhi
cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta kaum Muslim. Penderitaan yang
dialami kaum Muslim mempengaruhi jiwa mereka dan mencegah mereka dari
mendapatkan kenikmatan tidur dan nikmatnya memakan dan nikmatnya
kehidupan. Orang-orang yang baik itu datang dan berbaiat kepada Rasul saw
untuk membela beliau menolongnya dan melindunginya serta siap untuk mati di
jalannya. Mereka datang setelah hati mereka diliputi oleh Islam dan mereka
memberikan segala sesuatu untuk dakwah yang baru; mereka datang sebagai
pecinta-pecinta kebenaran.
Kitab-kitab
hadis yang suci meriwayatkan apa yang terjadi pada baiat 'Aqabah
al-Kubra. Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa Abbas Ibnu Abdul Muthalib
datang bersama Nabi dan saat itu ia masih berada dalam agama kaumnya. Ia
ingin menyelesaikan urusan anak pamannya. Ketika ia duduk dan berbicara,
ia mengatakan suatu pernyataan yang mengisyaratkan bahwa Muhammad saw
mendapatkan kemuliaan dari kaumnya dan kekuatan di negerinya tetapi ia menolak
dan memilih untuk bergabung bersama kalian wahai penduduk Madinah. Jika
kalian memenuhi janjinya dan melindunginya, maka ambillah ia, namun jika kalian
khawatir jika suatu saat nanti akan mengkhianatinya, maka mulai dari sekarang
biarkanlah ia di negerinya.
Kata-kata
Abbas tersebut berasal dari fanatisme kesukuan dan ikatan darah keluarga namun
penduduk Madinah tidak begitu peduli dengan kalimat Abbas itu karena ia bukan
termasuk dari agama mereka dan ia tidak mengetahui tingkat cinta kepada Rasul
saw yang mereka capai. Abbas bin Abdul Muthalib menunggu jawaban dari penduduk
Madinah. Lalu mereka berkata kepadanya, "Kami telah mendengar apa yang
engkau katakan, maka berbicaralah ya Rasulullah, ambilah untuk dirimu dan
Tuhanmu apa saja yang engkau sukai."
Kita ingin
mengamati jawaban sekelompok orang yang mukmin dari penduduk Madinah ini
sehingga Rasulullah saw berbicara. Jawaban yang dicari oleh Abbas bin Abu
Muthalib tersembunyi dalam pernyataan Nabi. Demikianlah setelah Rasulullah saw
mengucapkan kalimatnya, maka tidak keluar pemyataan apa pun. Cukup hanya Nabi
yang berbicara dan mereka hanya menaatinya. Mereka meminta kepada beliau agar
mengambil pada dirinya dan Tuhannya apa saja yang beliau sukai; mereka merasa
tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki keputusan. Nabi berbicara lalu beliau
membaca Al-Qur'an dan mengajak ke jalan Allah SWT. Kemudian beliau bebicara
tentang Islam dan beliau membaiat mereka agar membantu beliau sehingga mereka
pun membaiat kepadanya. Demikianlah terjadinya baiat 'Aqabah al-Kubra.
Orang-orang
yang terpilih oleh Allah SWT itu mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan
diajak untuk mengangkat senjata: mereka diajak untuk mendapatkan kematian di
bawah naungan pedang. Mereka menenangkan Rasulullah saw bahwa beliau akan
mendapati orang-orang yang sudah terlatih dalam peperangan karena mereka
mewarisi dari kakek-kakek mereka.
Salah
seorang dari tujuh puluh orang itu menyebutkan masalah yang penting. Abul
Haitsyam berkata: "sesungguhnya di antara orang-orang Madinah dan Yahudi
terdapat suatu tali ikatan, maka mereka bisa jadi akan memutuskannya lalu,
apakah sikap yang harus kita ambil jika mereka lakukan hal itu dan memusuhi
orang-orang Yahudi," kemudian Allah SWT menolong Nabi dan memenangkan atas
kaumnya, lalu ia kembali kepada mereka dan meninggalkan mereka di bawah kasih
sayang orang-orang Yahudi.
Perhatikanlah
bahwa pertanyaan tersebut berkisar pada kecintaan kepada Nabi dan keinginan
agar Nabi tetap bersama mereka selama perjalanan hari dan bulan. Masalah
yang dituntut oleh Abbas bin Abdul Muthalib secara jelas adalah masalah
perlindungan mereka kepada Nabi, di mana hal tersebut tidak lagi diperdebatkan oleh
orang-orang yang terpilih dari penduduk Madinah.Namun masalah yang mereka
inginkan adalah masalah perlindungan Nabi dan keberadaan Nabi bersama mereka di
Madinah.
Nabi
tersenyum dan beliau mengatakan kalimat-kalimat yang justru menekankan bahwa
ikatan akidah lebih kuat daripada ikatan darah. Beliau berkata:
"Tetapi darah adalah darah dan kehancuran adalah kehancuran. Aku dari
kalian dan kalian dariku aku akan memerangi orang-orang yang kalian perangi dan
aku akan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengan mereka."
Akhirnya,
penduduk Madinah pergi dan kembali ke negeri mereka. Kemudian berita tentang
baiat ini sampai ketelinga orang-orang Mekah dan para tokoh musyrik, lalu
mereka justru menambah penekanan kepada Rasulullah saw dan kaum Muslim.
Para preman
Mekah berkumpul di Darul Nadwah. Mereka menetapkan akan mengambil sesuatu
keputusan penting terkait dengan Nabi. Salah seorang dari mereka
mengusulkan agar ia dibelenggu dengan besi lalu dibuang di penjara sehingga ia
mati kelaparan. Sebagian lagi mengusulkan agar beliau dibuang dari Mekah
dan diusir. Abu Jahal mengusulkan agar mereka mengambil dari setiap
keluarga dari keluarga-keluarga Quraisy seorang pemuda yang kuat, kemudian
setiap dari mereka diberi pedang yang terhunus dan hendaklah mereka memukulkan
pedang itu ke tubuh Nabi. Jika mereka berhasil membunuhnya niscaya semua
kabilah bertanggung jawab terhadap darah sang Nabi dan Bani Hasyim tidak akan
mampu menuntut dan memerangi orang Arab semuanya dan mereka akan menerima diat
sebagai tebusan dari pembunuhan itu. Demikianlah persekongkolan itu
digelar dan mereka sepakat untuk melaksanakan hal itu. Namun Al-Qur'an
al-Karim menyingkap persekongkolan yang dilakukan orang-orang kafir itu dalam
firman-Nya:
"Dan
(ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk
menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka
memikirkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baih Pembalas tipu daya. " (QS.
Al-Anfal: 30)
Allah SWT
mewahyukan kepada Nabi-Nya agar ia berhijrah. Lalu Nabi mulai menyiapkan
sarana-sarana untuk hijrahnya. Dia menyembunyikan urusan tersebut bahkan
beliau tidak memberitahu sahabat yang akan menemaninya. Rasulullah menyewa
seorang penunjuk jalan yang pengalaman yang mengenal padang gurun seperti mengenal
garis-garis tangannya. Yang mengherankan penunjuk jalan itu adalah seorang
musyrik. Demikianlah Nabi memita bantuan kepada orang yang ahli tanpa
memperhatikan keyakinannya.
Kemudian
datanglah malam pelaksanaan kejahatan itu. Rasulullah saw memerintahkan
Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidumya di malam
tersebut. Datanglah pertengahan malam dan Rasulullah saw pun keluar dari
rumahnya. Para pemuda Mekah mengepung rumah. Mereka menghunuskan
pedangnya. Nabi menggenggam tanah lalu ia melemparkannya ke arah kaum
sehingga mereka pun merasa kantuk sehingga Nabi saw dapat menembus kepungan
mereka. Beliau keluar dari Mekah dan berhijrah.
Dengan
langkah yang diberkati ini, kaum Muslim menanggali tahun-tahun
mereka. Tahun dalam Islam adalah tahun Hijiriah, sedangkan kaum Masehi
menanggali tahun mereka dengan kelahiran Isa dan ini disebut dengan tahun
Masehi. Adapun tahun-tahun Islam, maka ia ditanggali pertama kalinya saat
Rasulullah saw keluar berhijrah di jalan Allah SWT. Hijrah Rasul bukan
hanya lari dari penindasan tetapi lari dari kebekuan; hijrah tersebut
bukan keluar dari keamanan tetapi keluar dari bahaya. Islam di Mekah hanya
dapat mempertahankan dirinya tetapi ketika ia keluar ke Madinah ia membela
dirinya ketika menyerang. Dan selama beberapa tahun waktu yang dihabiskan
di Mekah, tak seorang dari kaum Muslim yang mengangkat senjata. Ketika
mereka keluar ke Madinah, mereka mulai membawa senjata dan mulai menyalakan
obor peperangan. Islam mulai membawa senjata sebagaimana luka akan sembuh
dengan syarat jika diobati. Nabi saw mengetahui bahwa Islam tidak akan
menghabiskan usianya hanya untuk melawan serangan pada dirinya; Islam
ingin tersebar; Islam ingin mendirikan negaranya yang pertama yaitu suatu
negara yang belum pernah dikenal di muka bumi negara seperti itu. Negara
yang mencapai keadilan, kasih sayang, dan idealisme yang begitu luar biasa di
mana hukum Allah SWT ditegakkan dan kehormatan manusia benar-benar dijaga.
Inilah
kedalaman hijrah yang mengesankan yaitu pendirian negara Islam setelah
sebelumnya membangun individu masyarakat Muslim. Setelah Rasul saw membangun
masyarakat Muslim dan membangun masjid, maka beliau membangun suatu negara
Islam. Selanjutnya, sayap-sayap dakwah mengepak.
Kami kira
pembaca tidak akan bertanya, apa gunanya pembangunan masjid ditingkatkan
sementara Islam masih mengalami penindasan di muka bumi. Kami kira pembaca
lebih pintar dari orang yang tidak mengetahui bahwa masjid yang dibangun
Rasulullah saw di Madinah bukan tempat peristirahatan dari kelelahan, tetapi
masjid merupakan pusat dari kepemimpinan gerakan Islam dan kepemimpinan menuju
peperangan Islam.
Manusia
mandi di masjid dengan cahaya Allah SWT setelah itu mereka mandi di kancah
peperangan dengan darah mereka. Pertanyaannya adalah, siapakah di antara
mereka yang akan terbunuh di jalan Allah SWT sebelum
saudaranya? Demikianlah perlombaan dalam perbaikan terjadi di antara
mereka. Dengan cara demikianlah Islam tersebar.
Sementara
itu, Nabi berlindung di suatu gua; di gunung yang bernama Tsur. Dia
masuk ke gua itu bersama sahabatnya Abu Bakar. Dan orang-orang musyrik
pergi menyusul beliau dengan membawa pedang mereka. Lalu mereka sampai ke
gunung itu. Abu Bakar berkata kepada Rasul saw dengan kondisi gelisah,
"seandainya salah seorang mereka melihat di bawah kakinya niscaya mereka
akan melihat kita."
Dengan
tenang, Rasulullah saw menepis kegelisahan Abu Bakar dan berkata: "Wahai
Abu Bakar apa yang kamu kira dengan dua orang yang ada di tempat yang sepi
sementara Allah SWT menjadi ketiga di antara mereka?" Sebelum
Rasulullah saw mengakhiri kalimatnya, ada laba-laba yang selesai dari menenun
rumahnya di atas pintu gua. Kitab-kitab sejarah mengatakan bahwa kaum
musyrik mengikuti jejak sang Nabi sehingga mereka sampai di gunung Tsur lalu di
situlah mereka mengalami kebingungan. Mereka mendaki gunung dan mendaki
gua itu. Lalu mereka melihat di atas pintu gua itu ada tenunan
laba-laba. Mereka mengatakan, seandainya seseorang masuk di dalamnya
niscaya tidak akan ada tenunan laba-laba di atas pintunya. Dia tinggal di
gua itu selama tiga malam.
Demikianlah
keimanan tenunan laba-laba yang lembut dimenangkan atas ketajaman pedang kaum
musyrik sehingga Nabi bersama sahabatnya pun selamat. Kini, kedua orang
itu menuju Madinah. Dan Madinah pun menyambut mereka. Ketika
Rasulullah saw dan sahabatnya memasuki Madinah, pertama masyarakat tidak
mengenal siapa di antara mereka yang menjadi Rasul karena saking baiknya sikap
Rasul terhadap sahabatnya. Akhirnya, Nabi menerangi kota Madinah. Ia
membangun masjid dan mendirikan negaranya serta memerangi musuh-musuhnya dan
tersebarlah Islam dan Mekah pun ditaklukkan dan Baitul Haram disucikan.
Dia
menanamkan dalam akal dan hati suatu cahaya yang tidak akan pernah
padam. Kemudian berlangsunglah sepuluh tahun yang dilewatinya di Madinah
di mana beliau tidak menggunakannya untuk berleha-leha. Demikian juga
selama waktu tiga belas tahun yang ia lalui di Mekah, ia pun tidak mendapatkan
istirahat yang cukup. Semua kehidupan beliau hanya untuk Allah SWT dan
hanya untuk Islam. Beban berat yang dipikul oleh punggung beliau yang
mulia lebih berat dari beban yang dipikul oleh gunung. Meskipun ia seorang
diri, tetapi ia mampu memikul amanat yang pernah Allah SWT tawarkan kepada
langit dan bumi serta gunung namun mereka pun enggan untuk
memikulnya. karena mereka menyadari bahwa mereka tidak akan mampu
memikulnya. Lalu datanglah beliau dan beliau pun mampu memikul amanat itu
dan melaksanakannya secara sempurna. Yaitu amanat untuk menyampaikan agama
Allah SWT; amanat untuk menyucikan akal manusia dari polusi khayalisme dan
khurafatisme: amanat yang mewarnai kehidupan dengan hanya sujud kepada Allah
SWT.
Kemudian
mengalirlah dalam memori Nabi saw suatu arus dari gambar-gambar hidup:
bagaimana saat beliau memasuki Madinah. Lewatlah di hadapan akal beberapa
memori dan nostalgia: bagaimana wahyu yang turun kepadanya dengan membawa
risalah di gua Hira, kemudian berubahlah pandangan dan bertiuplah angin
kebencian kepadanya, bahkan angin itu membawa pasir-pasir tuduhan-tuduhan yang
dilemparkan ke wajah suci beliau. Dia berdiri sambil tersenyum dan hatinya
dipenuhi dengan kesedihan di hadapan gelombang gurun dan kesendirian serta
badai kesengsaraan. "Wahai manusia, tiada Tuhan selain Allah SWT.
Demikianlah kalimat yang beliau katakan. Meskipun kalimat itu tampak sederhana
namun ia mampu membangkitkan dunia. Dan bergeraklah patung-patung yang begitu
banyak yang memenuhi kehidupan dan mereka membekali dirinya dengan kegelapan
dan kebencian yang dialamatkan kepada sang Nabi. Para pembesar. para penguasa,
uang, emas, serta kebencian dan kedengkian setan yang klasik dan banyaknya
orang-orang munafik, semua ini menjadi musuh nyata sang Nabi pada saat beliau
mengatakan "tiada Tuhan selain Allah SWT." Nabi mengingat kembali
Waraqah bin Nofel ketika menceritakan kepadanya apa yang terjadi dan apa yang
dialami beliau di gua Hira. Tidakkah ia mengatakan kepadanya bahwa kaumnya akan
mengusirnya?
Hari-hari
hijrah sangat panjang dan berat. Matahari sangat dekat dengan kepala dan rasa
panas sangat mencekik tenggorokan dan rasa pusing-pusing pun semakin meningkat.
Setelah hijrah, Nabi memasuki Madinah. Beliau disambut oleh kaum Anshar dengan
sambutan luar biasa. Beliau datang sendirian lalu mereka menolongnya; beliau
datang dalam keadaan takut lalu mereka mengamankannya; beliau datang dalam
keadaan lapar lalu mereka memberinya makanan; beliau datang dalam keadaan
terusir lalu mereka memberikan perlindungan.
Bangunan
Islam mulai ditancapkan di Madinah. Beliau mulai membangun negaranya setelah
beliau membangun sumber daya manusia Islam yang tangguh. Yang pertama kali
dibangunnya adalah sumber daya Islam, setelah itu beliau baru membangun negara.
Tidak ada nilai yang berarti dari satu sistem yang hanya berdasarkan
prinsip-prinsip besar yang tidak lebih dari sekadar tinta di atas kertas.
Penerapan prinsip-prinsip adalah tolok ukur final dari nilai apa pun yang
diberlakukan di dunia. Dan Islam telah berhasil menerapkan pada masa-masa
pertamanya suatu sistem yang belum pernah dikenal dalam kehidupan manusia suatu
sistem seperti itu. Yaitu sitem yang menunjukkan keadilan, persaudaraan, dan
kasih sayang yang mengagumkan. Hal yang pertama kali dilakukan Rasulullah saw
adalah membangun masjid di mana di situlah unta yang ditungganinya berhenti.
Mesjid itu tampak sederhana. Tikarnya terdiri dari pasir-pasir dan batu-batu.
Tiangnya terbuat dari batang-batang kurma. Barangkali ketika turun hujan, maka
tanahnya akan menjadi lumpur karena mendapat siraman air hujan. Mungkin ketika
angin bertiup dengan kecang, maka ia akan mencabut sebagian dari atapnya.
Di bangunan
yang sederhana ini, Rasulullah saw mendidik generasi Islam yang tangguh yang
dapat menghancurkan orang-orang yang lalim dan para penguasa yang bejat dan
mereka mampu mengembalikan kebenaran ke singgasananya yang terusir dan
terampas. Mereka mampu menyebarkan Islam di muka bumi. Mesjid itu tampak kecil
dan sederhana sekali tetapi ia dipenuhi dengan kebesaran; masjid itu tidak
menunjukkan kemewahan sama sekali. Di dalamnya Al-Qur'an dibaca lalu
orang-orang yang mendengarnya menganggap bahwa mereka benar dan mendapatkan
perintah harian untuk menerapkan dan melaksanakan apa-apa yang mereka dengar.
Al-Qur'an
dibaca di masjid bukan seperti nyanyian yang orang-orang duduk akan merasa
terpengaruh dengan keindahan nyanyian dan suara pembaca. Dan masjid di
dalam Islam bukanlah tempat satu-satunya untuk ibadah. Menurut kaum Muslim
semua burni adalah masjid namun masjid adalah simbol peradaban yang beriman
kepada Allah SWT dan hari akhir, sebagaimana ia menyuarakan ilmu, kebebasan dan
persaudaraan.
Semua Nabi
berbicara tentang persaudaraan dan mengajak kepadanya dengan ribuan
kata-kata. Sedangkan Rasulullah saw telah mewujudkan persaudaraan itu
secara praktis, yakni ketika karakter masyarakat saat itu mencerminkan
Al-Qur'an. Nabi mulai mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar di mana
sahabat Anshar Sa'ad bin Rabi ', seorang kaya dari Madinah dipersaudarakan
dengan Abdul Rahman bin' Auf, seorang yang berhijrah dari Mekah. Sa'ad
berkata kepada Abdul Rahman: "Sesungguhnya, tanpa bermaksud sombong, aku
memang memiliki harta yang banyak dari kamu. Aku telah membagi hartaku menjadi
dua bagian dan sebagiannya aku peruntukkan bagimu. Lalu aku memiliki dua orang
wanita, maka lihatlah siapa di antara mereka yang mampu memikatmu sehingga aku
menceraikannya lalu engkau dapat menikahinya. " Abdul Rahman bin 'Auf
menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu, keluargamu, dan hartamu.
Dimana pasar yang engkau berdagang di dalamnya?"
Abdul Rahman
bin 'Auf keluar menuju ke pasar untuk berkerja. Ia kembali dan membawa
sesuatu yang bisa dimakannya. Ia menolak dengan lembut sikap baik Sa'ad
dan kedermawanannya.Ia bersandar pada keimanan kepada Allah SWT dan lebih
memilih untuk bekerja dan membanting tulang. Tidak berlalu hari demi hari
kecuali ia tetap bekerja sehingga ia mampu untuk membekali dirinya dan
melaksanakan pernikahan.
Demikianlah
masyarakat Islam terbentuk dan menampakkan identitasnya berdasarkan cinta,
kebebasan, musyawarah, dan jihad. Pekerjaan menurut Islam bukan suatu
penderitaan untuk mendapatkan roti atau potongan daging sebagaimana dikatakan
peradaban kita masa kini, tetapi pekerjaan dalam Islam melebihi ruang lingkup
materi ini dan menuju puncak yang lebih tinggi:
"Dan
katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang muhmin
akan melihat pekerjaanmu itu. " (QS.
At-Taubah: 105)
Kesadaran
bahwa apa yang kita kerjakan akan dilihat oleh Allah SWT menjadikan perkerjaan
itu mendapatkan cita rasa yang lain. Yaitu suatu rasa yang melampaui
nikmatnya memakan roti dan daging. Setelah bekerja, datanglah
cinta. Cinta dalam Islam bukan hanya perasaan yang menetap dalam hati dan
tidak dibuat oleh suatu perbuatan; cinta dalam Islam merupakan langkah
harian yang akan mengubah bentuk kehidupan di sekitar manusia menuju yang lebih
tinggi dan mulia.
Seorang
Muslim mencintai Tuhannya Pencipta alam semesta dan mencintai Rasulullah saw
dan mencintai kaum Muslim dan orang-orang yang berdamai dengan orang-orang
Muslim, meskipun keyakinan mereka berbeda dengannya. Bahkan seorang Muslim
mencintai makhluk secara keseluruhan: ia mencintai anak-anak, hewan, bunga,
pasir dan gunung bahkan benda-benda mati pun mendapat cinta dari seorang
Muslim. Seorang Muslim jika dia benar-benar seorang Muslim akan merasakan
dnta yang dialami oleh Nabi Daud terhadap alam dan lingkungan di sekitarnya. Ini
adalah perasaan sufi yang tinggi. Seorang Muslim akan mewarisi cinta yang
sebenarnya seperti yang diwarisi Nabi Isa terhadap lingkungan yang baik yang
ada di sekitarnya di mana ketika Nabi Isa melihat tubuh anjing yang mati, maka
Nabi Isa tidak melihat selain keputihan giginya.
Demikianlah
cinta yang tersebar dalam kehidupan kaum Muslim di mana cinta itu pun tertuju
kepada binatang dan benda-benda mati. Cinta demikian ini tidak akan
terwujud dengan suatu keputusan dan tidak diatur dengan suatu undang-undang,
tetapi cinta itu datang biasanya akibat dari kepuasaan akal dan hati dengan
adanya kepemimpinan besar yang hati cenderung kepadanya dan akal mengambil
darinya. Dan yang dimaksud dengan kepemimpinan besar tersebut adalah
keberadaan sang Nabi. Beliau adalah cermin terbesar dari tingkat cinta
yang tertinggi.Beliau adalah seorang yang paling banyak berbuat demi Islam dan
paling banyak sedikit mengharapkan balasan darinya. Meskipun beliau
seorang pemimpin namun beliau hidup dalam kesederhanaan. Beliau adalah
seorang tentara yang paling sederhana. Tempat tidurnya bersih tetapi
kasar, dan rumahnya tidak menampakkan kesibukan yang di dalamnya memasak
berbagai macam hidangan. Beliau justru menyiapkan hidangan yang sangat
sederhana. Makanan utamanya adalah roti kering yang dicampur dengan
minyak. Keinginan besar beliau adalah tersebarnya dakwah Islam.
Kaum Muslim
menyadari bahwa kesempurnaan Islam tidak akan terwujud kecuali ketika cinta
Allah SWT dan Rasul-Nya lebih didahulukan dari cinta diri sendiri, cinta kepada
wanita, cinta kepada anak, kepentingan, kekuasaan, kehidupan, dan apa saja yang
tidak ada hubungannya dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Demikianlah kaum
Muslim sangat mencintai pemimpin mereka lebih dari kehidupan pribadi
mereka. Di samping pekerjaan dan cinta tersebut, didirikanlah pemerintahan
Islam yang berdasarkan kaidah-kaidah kebebasan, musyawarah dan jihad.
Kebebasan
dalam Islam bukan sekedar perhiasan yang dilekatkan ke tubuh Islam tetapi ia
adalah tenunan dari sel-sel yang hidup itu. Allah SWT telah membebaskan
kaum Muslim dari penyembahan selain dari-Nya. Dengan demikian, runtuhlah
semua belenggu yang hinggap di atas akal, hati, dan masyarakat. Seorang
Muslim memiliki-dalam Islam-suatu kebebasan yang diberikan kepadanya agar ia
melihat sesuatu dengan akalnya dan mendebat segala sesuatu dengan
akalnya. Dan hendaklah ia merasa puas dengan sesuatu yang dapat
menenteramkan hatinya.Kebebasan dalam Islam bukan kebebasan mutlak yang
menjurus ke anarkisme dan diskriminasi tetapi kebebasan dalam Islam adalah
kebebasan yang bertanggung jawab.
Dalam ruang
lingkup nas-nas yang pasti yang ada dalam Al-Qur'an atau sunah tidak ada
kebebasan di hadapan orang Muslim selain kebebasan untuk berlomba-lomba untuk
menerapkan apa yang mereka pahami. Selain itu, seorang bebas sampai tidak
terbatas, dan pintu ijtihad tetap terbuka sampai tidak ada batasnya, karena
pintu ijtihad adalah akal dan menutup pintu ijtihad yakni menutup akal dan itu
berarti akan membawa kematian baginya. Islam tidak menerima orang-orang
yang mati akalnya atau menga-lami kemunduran; Islam pada hakikatnya
memperlakukan manusia dari sisi akal dan hati.
"Adalah
untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan
senjatalah yang untukmu, dan Allah meng-hendaki untuk membenarkan yang benar
dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir." (QS.
al-Anfal: 7)
Orang-orang
Islam karena kekafiran mereka dan kebutuhan mereka serta situasi ekonomi yang
memburuk, mereka ingin bertemu dengan pasukan yang tidak bersenjata; mereka
ingin bertemu dengan kafilah yang kaya, bukan pasukan yang bersenjata; mereka
membutuhkan harta untuk menyebarkan dakwah. Namun Allah SWT menginginkan mereka
dengan keadaan seperti itu agar mereka berhadapan dengan pasukan kafir dan agar
mereka mampu memutus tali kekuatan orang-orang kafir sehingga kebenaran akan
menang.
Keluarlah
orang-orang Muslim dalam peperangan Badar dengan membayangkan bahwa mereka akan
mendapatkan keuntungan dan kesenangan dengan banyak mengambil
ganimah. Namun Allah SWT menginginkan terjadinya peperangan yang berat, di
mana itu berakibat pada jatuhnya tokoh-tokoh kaum kafir Mekah sebagai korban
darinya dan agar Madinah dapat menahan penderitaan dan kefakiran yang
dialaminya. Seharusnya pengikut Islam tidak membayangkan untuk mengambil
keuntungan tetapi ia justru harus memberi kepadanya.
Nabi
mengetahui sebagai pemimpin pasukan ia harus mengingatkan pasukannya bahwa
mereka akan menemui kesulitan dan penderitaan, dan bukan masalah sepele seperti
yang mereka bayangkan. Nabi bermusyawarah dengan sahabat-sahabat. Ia
berbincang-bincang dengan Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, dan Miqdad bin
Amr. Lalu mereka semua sepakat untuk terus melakukan peperangan apa pun
hasilnya dan apa pun pengorbanan yang harus dilakukan.
Kemudian
Rasulullah saw berkata: "Wahai para sahabat, tunjukkanlah diri
kalian." Rasulullah saw mengisyaratkan kepada kaum
Anshar. Rasulullah saw khawatir jika mereka memahami bahwa baiat yang
terjadi di antara mereka yang berisi agar mereka melindungi beliau jika beliau
diserang di Madinah saja, dan memang pasal-pasal dari baiat itu mendukung hal
itu. Tidakkah mereka mengatakan kepada beliau: "Ya Rasulullah, kami
tidak akan bertanggung jawab kepadamu sehingga engkau sampai di negeri kami.
Jika engkau sampai di negeri kami, maka kami akan bertanggung jawab untuk
melindungimu."
Mayoritas
tim terdiri dari orang-prang Anshar, maka Rasulullah saw ingin mengetahui
keputusan mayoritas tentara sebelum dimulainya perang. Kaum Anshar
mengetahui bahwa Rasul saw ingin mengetahui pendapat kaum Anshar. Oleh
karena itu, Sa'ad bin 'Auf berkata: "Demi Allah, seakan-akan engkau
menginginkan kami ya Rasulullah." Nabi menjawab,
"benar." Kemudian kaum Anshar menyatakan apa yang mereka
rasakan.
Mendengar
pernyataan kaum Anshar itu hilanglah kekhawatiran dan ketakutan Nabi, bahkan
beliau bergembira dan wajahnya berseri-seri. Rasulullah saw telah mendidik
mereka berdasarkan Islam dan Islam tidak mengenal pasal-pasal perjanjian namun
ia justru tenggelam dalam esensinya dan kedalamannya yang jauh. Kaum
Anshar meyakinkan Nabi bahwa mereka benar-benar beriman kepadanya, mencintainya
dan akan mendengarkan apa saja yang beliau katakan serta akan benar-benar
menaati beliau.
Sa'ad bin
Mu'ad berkata: "Ya Rasulullah, lakukanlah apa yang engkau inginkan dan
kami akan bersamamu. Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya
engkau membelah lautan lalu engkau menyelam di dalamnya niscaya kami akan
menyelam bersamamu dan tidak ada seseorang pun di antara kami yang akan
meninggalkanmu. " Demikianlah keteguhan kaum Anshar. Kalimat
tersebut mengatur peperangan paling penting dan paling berbahaya dalam sejarah
Islam.
Perasaan
kaum Anshar dan Muhajirin dalam tim Rasul saw sangat berbeda dengan perasaan
Musa ketika mereka mengatakan kepadanya, "pergilah engkau wahai Musa
bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami di sini hanya duduk-duduk
saja." Namun kaum Muslim menyatakan bahwa seandainya Rasul saw
memerintahkan mereka untuk melalui lautan dengan berjalan kaki di atas ombaknya
niscaya mereka akan melakukan hal itu walaupun berakibat pada tenggelamnya
mereka dan kematian mereka dan tak seorang pun yang akan menentang perintah
Rasul saw tersebut.
Akhirnya,
kaum Muslim bersiap-siap untuk memasuki kancah peperangan lalu mereka membuat
kemah-kemah yang di situ ditentukan tempat peristirahatan dan pergerakan
tentara Islam. Tempat itu ditentukan oleh Rasul saw. Allah SWT membiarkan
Rasul-Nya melakukan kesalahan dalam memilih tempat sehingga itu akan dapat
menjadi pelajaran bagi kaum Muslim dalam kaidah umum dari kaidah-kaidah
peperangan yaitu sikap pemimpin pasukan untuk mengambil suatu kebijakan yang
penting yang berdasarkan pengalaman. Kemudian datanglah Habab bin Mundzir
kepada Rasulullah saw dan bertanya kepadanya, "apakah tempat yang kita
jadikan sebagai pusat pergerakan tentara kita merupakan pilihan dari Allah SWT
dan Rasul-Nya hingga kita tidak dapat mendahuluinya dan mengakhirinya yakni
kita tidak dapat memberikan pendapat kita ataukah itu hanya masalah yang
bersifat tehnik yakni itu terserah pada pendapat kita dan sesuai kebijakan saat
perang dan ia merupakan tipu daya semata?"
Rasulullah
saw berkata: "Tetapi itu adalah pendapat pribadi, peperangan, dan tipu
daya." Habab berkata: "Ya Rasulullah ini adalah tempat yang
tidak tepat." Sahabat yang sarat pengalaman ini memilih tempat di mana
tim Madinah dapat minum darinya sedangkan tim Mekah tidak dapat mengambil
darinya. Kemudian berpindahlah pasukan Muslim menuju tempat yang telah
ditentukan oleh pengalaman militer.
Sampailah
pasukan Mekah di mana jumlah mereka mendekati seribu tentara dan mereka akan
berhadapan dengan tiga ratus tujuh belas pasukan Muslim. Pasukan Quraisy
berada di tempat yang jauh dari lembah.
Pasukan
kafir terdiri dalam perang Badar dari pemuka-pemuka Quraisy dan
pahlawan-pahlawan mereka, sedangkan pasukan Muslim terdiri dari
keluarga-keluarga, ipar-ipar dan keluarga dekat dari pasukan kafir. Allah
SWT telah menentukan agar seorang anak bertemu dengan ayahnya, saudara bertemu
dengan sesama saudara dan sesama ipar bertemu di medan peperangan.Mereka semua
dipisahkan dengan suatu prinsip di mana mereka ditentukan oleh
pedang. Akhirnya, perang Badar pun terjadi dan kaidah utama adalah kaidah
persaudaraan sesama Muslim. Dan ketika pasukan Muslim berpegang teguh di
atas dasar Islam, maka pasukan kafir mulai terpecah belah namun kondisi
tersebut mereka sembunyikan.
Lalu 'Utbah
bin Rabi'ah berbicara di tengah-tengah pasukan Mekah dan mengajak mereka untuk
menarik kembali dari peperangan. 'Utbah memberikan pernyataan sesuai
dengan tuntutan akal sehat, "wahai orang-orang Quraisy demi Allah, jika
kalian harus memerangi Muhammad, maka kalian akan menyesal karena kita
berhadapan dengan saudara-saudara kita sendiri. Bisa jadi kita akan membunuh
anak paman kita, atau salah seorang dari kerabat kita. Mengapa kalian tidak
membiarkannya saja? "
Kalimat yang
rasional tersebut cukup menggoncangkan pasukan Mekah. Sebagian tentara
merasa puas dengan pernyataan tersebut karena mereka melihat bahwa tidak ada
gunanya peperangan itu. Namun kebohohan justru memadamkan kalimat yang
rasional itu. Abu Jahal menuduh bahwa yang mengucapkan kata-kata adalah
orang yang penakut. Kemudian Abu Jahal lebih memilih pendapatnya untuk
mengatur terus memerangi kaum Muslim.
Pemimpin
pasukan kafir yaitu Abu Jahal mengetahui bahwa Muhammad tidak pernah
berbohong. Kitab-kitab sejarah menceritakan bahwa Akhnas bin Syuraif
menyendiri dalam perang Badar bersama Abu Jahal sebelum terjadinya peperangan
tersebut dan bertanya kepadanya, "wahai Abul Hakam, tidakkah engkau
melihat bahwa Muhammad pernah berbohong? Abul Hakam menjawab:" Bagaimana
mungkin ia berbohong atas Allah, sedangkan kami telah menamainya al-Amin (orang
yang dapat dipercaya). "Peperangan tersebut bukan sebagai usaha untuk
mendustakan Rasul saw tetapi itu hanya semata-mata untuk menjaga kepentingan-kepentingan
sesaat dan keadaan ekonomi. Demikianlah orang-orang kafir mempertahankan nilai
yang paling rendah yang ada di muka bumi yang juga dipertahankan oleh binatang,
sementara kaum Muslim justru mempertahankan nilai yang paling tinggi di bumi
dan di langit yang ikut serta di dalamnya para malaikat.
Kemudian
datanglah waktu malam menyelimuti dua kubu. Tiga ratus tentara yang mukmin
sudah bersiap-siap dan mendekati seribu tentara musyrik. Orang-orang
musyrik datang dengan menunggangi tunggangan mereka dan tampak mereka memiliki
persenjataan yang lengkap, sedangkan setiap orang Muslim datang di atas satu
kendaraan. Pakaian yang dipakai orang-orang musyrik tampak masih baru dan
pedang-pedang mereka tampak mengkilat serta baju besi yang mereka gunakan
sangat unggul dan kuat. Alhasil, mereka memiliki persiapan yang sangat
mengagumkan sedangkan pakaian yang dipakai orang-orang Muslim tampak sudah
usang dan pedang-pedang kuno pun mereka gunakan dan baju besi yang mereka
gunakan tampak tidak sempurna. Nabi melihat kondisi timnya lalu hati ia
tampak sedih melihat tim tersebut. Beliau berdoa kepada Tuhannya: "Ya
Allah, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah
mereka. Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tanpa alas kaki, maka
tolonglah mereka. Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak
berpakaian, maka berilah mereka pakaian. "
Kemudian
rasa kantuk menghinggapi poin kedua tim lalu mereka beristirahat di
tengah-tengah malam. Jatuhlah hujan kecil yang membuat tempat itu basah
sehingga kelembaban mengitari kaum Muslim. Hujan tersebut membasuh tanah
perjalanan dan menghilangkan debu-debu kepayahan serta menyucikan hati dan
membangkitkan kepercayaan atas kemenangan dari Allah SWT.
Allah SWT
berfirman:
"(Ingatlah),
ketika Allah membuat kamu mengantuk sebagai suatu penentram dari-Nya, dan Allah
menurunkan hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan
menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan
memperteguh dengannya telapak kaki (mu). " (QS.
al-Anfal: 11)
Datanglah
waktu pagi di Badar lalu kaum Quraisy mulai menyerang, lalu Nabi memerintahkan
pasukan Muslim untuk bertahan. Rasulullah saw bersabda: "Jika musuh
mengepung kalian, maka usirlah mereka dengan panah dan janganlah kalian
menyerang mereka sehingga kalian diperintahkan."
Demikianlah
ketetapan militer yang sangat jitu yang berarti hendaklah kaum Muslim
membentengi mereka di tempat-tempat mereka agar orang-orang musyrik mendapatkan
kerugian dari serangan yang mereka lakukan. Kita mengetahui dari ilmu
militer saat ini bahwa seorang yang menyerang memerlukan tiga atau tiga kali
lipat dari jumlah yang biasa dilakukan sehingga serangannya betul-betul
efektif; kita mengetahui bahwa jumlah pasukan musyrik tiga kali lipat
dibandingkan dengan tentara Muslim. Kaum musyrik dilihat dari segi jumlah
sangat memadai untuk memenangkan peperangan, dan persenjataan mereka lebih
lengkap dari persenjataan kaum Muslim. Jumlah hewan yang mereka miliki pun
sama dengan jumlah mereka, sedangkan tiap tiga orang Muslim berperang di atas
satu tunggangan.
Keadaan saat
itu sangat menguntungkan kaum musyrik. Tanda-tanda kemenangan tampak
bergabung bendera kaum musyrik, tetapi kemenangan perang bukan karena kebesaran
jumlah pasukan dan persenjataan yang lengkap. Terkadang peperangan justru
dimenangkan oleh unsur spiritual yang tidak terlihat. Spiritualitas
tentara dan keimanannya tentang persoalan yang dipertahankannya serta
keinginannya untuk mendapatkan dua kebaikan: kemenangan atau kematian dan
hasratnya yang tinggi untuk meneguk madu syahadah, semua itu dapat mengubah
seorang tentara menjadi makhluk yang tidak terkalahkan. Bisa jadi ia akan
merasakan kematian tetapi jauh dari kekalahan. Demikianlah kondisi pasukan
Muslim.
Sementara
itu debu-debu beterbangan di atas kepala pasukan yang bertempur dan kaum Muslim
mencurahkan energi yang keras dalam peperangan itu. Ketika dua tim saling
bertemu dan bertempur, Nabi saw melihat mereka, lalu Nabi saw menyaksikan
timnya terjepit. Tim yang berjumlah sedikit dengan persenjataan yang tidak
lengkap itu kini ditekan oleh orang kafir. Dalam kondisi demikian, Nabi
saw meminta pertolongan kepada Tuhannya: 'Ya Allah, kirimkanlah bantuan dan
pertolongan-Mu. Ya Allah, wujudkanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika
kelompok ini dihancurkan, maka Engkau tidak akan disembah setelahnya di muka
bumi. "Renungkanlah, bagaimana kesedihan Nabi saat terjadi peperangan itu.
Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa Nabi saw meminta agar pasukannya
dimenangkan.
Pemimpin
pasukan tertinggi Muhammad bin Abdillah keluar berperang di jalan Allah SWT dan
saat ini kematian sedang mengitari kaum Muslim, lalu apa yang dipikirkan oleh
Nabi saw pada keadaan yang sulit tersebut? Pemikiran Nabi saw melebihi hal
yang sekarang dan menuju pada hal yang akan datang, dan yang menjadi fokus Nabi
adalah penyembahan Allah SWT di muka bumi: "Ya Allah, jika kelompok ini
dihancurkan, maka Engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumi."
Nabi tidak
terlalu mengkhawatirkan kehancuran kaum Muslim karena Nabi justru
mengkhawatirkan sesuatu yang lebih besar dari itu. Yang beliau khawatirkan
adalah penyembahan kepada Allah SWT akan berhenti di muka bumi. Oleh karena
itu, Nabi meminta tolong kepada Tuhannya dan mengingatkan kembali kepada
Tuhannya dan Allah SWT lebih tahu dari hal itu. Kemudian turunlah bala tentara
malaikat yang dipimpin oleh Jibril.
Allah SWT
berfirman:
"(Ingatlah),
ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankankan-Nya
bagimu: 'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan
seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya
(mengirim bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi
tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (QS.
al-Anfal: 9-10)
Setelah itu
Nabi saw menghampiri sahabat Abu Bakar dan berkata: "Sampaikan berita
gembira wahai Abu Bakar, sesungguhnya telah datang kepadamu bantuan dari Allah
SWT."
Turunnya
para malaikat adalah cara untuk meneguhkan kaum Muslim dan berita gembira
kepada mereka. Mukjizat itu bukan terletak pada penyertaan para malaikat
dalam peperangan, namun melalui nas-nas ditegaskan bahwa peranan malaikat tidak
lebih dari sekadar membawa berita gembira dan memberikan dukungan moril serta
memenuhi hati dengan ketenangan. Kami kira bahwa Allah SWT ingin agar para
malaikat menyaksikan manusia-manusia malaikat yang mempertahankan akidah
tauhid.
Demikianlah
Allah SWT mewahyukan kepada malaikat bahwa Dia bersama mereka. Oleh karena
itu, hendaklah orang-orang yang beriman merasa tenang dan kebenaran akan
tertancap pada hati mereka sedangkan orang-orang kafir pasti akan merasakan
ketakutan.
Allah SWT
berfirman:
"(Ingatlah),
ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:" Sesungguhnya Aku bersama
kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. ' Kelak
akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka
penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.
(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah
dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul -nya, maka
sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan
atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir
itu ada (lagi) azab neraka. " (QS.
al-Anfal: 12 -14)
Lalu
orang-orang kafir pun mengalami kekalahan. Setelah peperangan itu,
terbunuhlah tujuh puluh kafir dan tujuh puluh tawanan dari mereka dan sebagian
pasukan melarikan diri. Runtuhlah tokoh-tokoh kebencian dan kelaliman di
peperangan tersebut. Hancurlahlah Abu Jahal, pemimpin tim, dan
pahlawan-pahlawan Mekah kini terkapar.
Rasulullah
saw berdiri di depan bangkai-bangkai orang-orang kafir dan berkata: "Wahai
Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah, wahai Umayah bin Khalf, wahai Abu
Jahal bin Hisam, apakah kalian menemukan apa yang dijanjikan oleh tuhan kalian
kepada kalian. Sungguh aku telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku.
" Orang-orang Muslim berkata: "Ya Rasulullah, apakah engkau
memanggil kaum yang sudah mati?" Rasulullah berkata: "Kalian
tidak tahu apa yang aku katakan kepada mereka, tetapi mereka tidak mampu
menjawab perkataanku." Rasulullah saw tinggal tiga malam di Badar
kemudian beliau kembali ke Madinah. Di depan dia ada tawanan-tawanan
perang dan ganimah.
Kaum Muslim
sangat menanggung beban berat dengan banyaknya tawanan perang. Mula-mula
Rasulullah saw bermusyawarah dengan sahabat Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar
berkata: "Ya Rasulullah, mereka adalah keturunan dari saudara-saudara dan
keluarga, dan aku melihat lebih baik engkau mengambil fidyah (tebusan) dari
mereka sehingga apa yang engkau ambil tersebut merupakan kekuatan bagi kita
terhadap orang-orang kafir, dan mudah- mudahan Allah SWT memberi petunjuk kepada
mereka sehingga mereka menjadi tulang punggung kita. "
Kemudian
Rasulullah saw menoleh kepada Umar bin Khattab sambil berkata, "bagaimana
pendapatmu wahai Ibnul Khattab?" Pria itu berkata: "Demi Allah,
aku tidak sependapat dengan apa yang dikatakan Abu Bakar tetapi aku
berpendapat, seandainya aku mampu untuk bertemu dengan salah seorang kerabatku,
maka aku akan memukul lehernya, dan seandainya Ali mampu bertemu dengan
keluarganya, maka ia pun akan memukul lehernya begitu Hamzah sehingga Allah SWT
mengetahui bahwa tidak ada di hati kita kelembutan kepada kaum musyrik. "
Tim Madinah
dan pasukan Mekah terdiri dari keluarga-keluarga yang terikat hubungan
kekerabatan, namun kehendak Allah SWT menetapkan terjadinya peperangan sesama
keluarga: antara anak dan orang tuanya. Umar menginginkan agar keadaan
demikian terus berlanjut sehingga orang-orang musyrik mengetahui bahwa Islam
tidak ingin berdamai. Kemudian Selesailah urusan itu dan terjadi
peperangan di jalan Allah SWT dan mengangkat senjata dan berperang adalah suatu
kewajiban yang tidak ada keraguan di dalamnya. Nabi saw menoleh kepada
kaum Muslim dan menemukan sebagian besar mereka cenderung kepada pendapat Abu
Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat mayoritas saat itu. Pendapat
mayoritas salah dan hanya Umar yang benar.
Ini adalah
perang pertama yang dilalui oleh Islam. Hendaklah kaum Muslim harus
meninggalkan dorongan kemanusiaan mereka, yakni orang-orang kafir harus dibunuh
agar musuh-musuh Allah SWT mengetahui bahwa Islam telah memilih
darah. Allah SWT telah mendukung Umar bin Khattab dalam Al-Qur'an sehingga
Nabi saw dan Abu Bakar menangis ketika keduanya menyadari kesalahan mereka pada
hari berikutnya, lalu Umar memergoki mereka dalam keadaan menangis dan ia
bertanya, "apa yang menyebabkan Rasulullah saw dan temannya di gua
menangis? "Kemudian Rasulullah saw membaca Al-Qur'an:
"Tidak
patut bagi seorang Nabi memiliki tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya
di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki
(pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau
sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu
ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang hamu ambil. " (QS.
al-Anfal: 67-68)
Kedua ayat
itu mengatakan bahwa ini bukan saatnya melindungi para tawanan dan berusaha
untuk menebus mereka. Waktu Demikian belum saatnya. Nabi tidak berhak memiliki
tawanan kecuali jika ia telah melakukan banyak peperangan dan banyak berjihad
dan telah banyak membunuh dan dakwahnya telah mapan.
Kedua ayat
tersebut menyingkap tujuan di balik penebusan tawanan: "Kamu
menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat
(untukmu)."
Demikianlah
pemikiran yang mempertimbangkan keadaan-keadaan aktual yang sulit. Itu
adalah pemikiran yang bersifat taktik sebagaimana yang kita ungkapkan dalam
istilah modern dan bukan pemikiran yang bersifat strategis. Kemudian para
tawanan tersebut bukan tawanan biasa tetapi menurut istilah modern mereka
adalah penjahat-penjahat perang. Oleh karena itu, nyawa mereka harus
ditumpahkan saat mereka dapat ditangkap, meskipun mereka memiliki kekayaan yang
banyak atau kedudukan yang tinggi. Islam tidak mengakui kekayaan atau
posisi, yang diakuinya adalah keimanan, sedangkan pertimbangan-pertimbangan duniawi
lainnya tidak dihiraukan oleh Islam.
Nas
Al-Qur'an memperingatkan orang-orang yang menang bahwa kesalahan mereka bisa
berakibat pada datangnya siksaan yang bakal mereka terima tetapi Allah SWT
mengampuni mereka dan menurunkan rahmat-Nya: "Kalau sekiranya
tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa
siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil."
Siksaan
tersebut memang lebih dekat daripada pohon yang dekat ini, kemudian Allah SWT
mengampuni mereka dan Allah SWT mengampuni sahabat-sahabat yang terjun di
perang Badar, baik dosa yang lalu maupun dosa mereka yang akan
datang. Demikianlah Al-Qur'an ingin mendidik kaum Muslim agar mereka tidak
banyak mempertimbangkan urusan manusiawi saat berperang.Jadi, Islam memulai
peperangannya yaitu peperangan yang hanya ditujukan kepada Allah SWT dan harus
peperangan tersebut dihilangkan dari pertimbangan-pertimbangan yang sulit
sehingga sahabat-sahabat Nabi mengetahui bahwa kecenderungan untuk kesenangan
duniawi akan berakibat pada kekalahan mereka.
Dalam
peperangan Uhud jumlah kaum musyrik tiga ribu sedangkan jumlah kaum Muslim tiga
ratus pasukan setelah pemimpin orang-orang munafik Abdullah bin Saba
'mengundurkan diri tim.Kaum Muslim diletakkan di gunung dan Rasulullah saw
membuat rencana yang jitu untuk memenangkan pertempuran di mana beliau membagi
pasukan pemanah di puncak gunung untuk melindungi punggung kaum Muslim dan
melinduingi mereka dari serangan dari arah belakang. Rasulullah saw
memberi pengertian kepada tim panah itu agar mereka tetap di tempatnya baik
kaum Muslim menang maupun kalah. Yakni bahwa pasukan pemanah tidak bisa
turun dari gunung dan meski berusaha untuk melindungi kaum
Muslim. Rasulullah saw berkata kepada mereka."Lindungilah
punggung-punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian
tidak usah turun darinya dan tidak usah menolong kami, dan jika kalian melihat
kami memperoleh kemenangan dan mengambil ganimah, maka kalian tidak bisa ikut
serta bersama kami."
Setelah
membuat keputusan tersebut, Rasulullah saw kembali ke tim yang lain, lalu
beliau membikin suatu rencana untuk menyerang. Dan Dimulailah peperangan
kemudian pasukan Islam mendorong pasukan musyrik laksana angin yang kencang
yang memporak-porandakan ribuan kaum musyrik. Pada tahapan pertama pasukan
Islam tampak menguasai medan dan berhasil menyapu kaum musyrik sehingga pasukan
Mekah tampak berputus asa meskipun mereka unggul secara jumlah dan meskipun
mereka memiliki kuatan persenjataan yang lengkap, tim Mekah justru dikagetkan
dengan ketangguhan pasukan Muslim yang dapat memukul mundur mereka sampai
mereka membayangkan balwa mereka tidak dapat memenangkan peperangan atau dapat
bertahan di hadapan pasukan Muslim.
Debu-debu
peperangan mulai berterbangan yang menyertai tanda-tanda kekalahan tim
Mekah. Sementara itu, para pemanah yang ditempatkan Rasulullah saw di
suatu tempat yang strategis berpikir untuk memperoleh ganimah. Tim Mekah
telah kalah dan mereka telah melarikan diri dari pasukan Muslim, maka bagaimana
seandainya para pemanah turun dari tempat mereka untuk mengumpulkan harta
rampasan dan ganimah. Rasulullah saw telah mengingatkan mereka agar jangan
meninggalkan tempat mereka, apa pun yang terjadi tetapi pasukan pemanah itu
justru berkhianat dan menentang perintah Nabi saw setelah mereka membayangkan
bahwa peperangan telah selesai dan keuntungan akan diperoleh tim Madinah yang
beriman.
Pasukan
pemanah mengira bahwa Allah SWT akan menutupi kesalahan mereka dan akan
melindungi mereka sehingga mereka berhasil mengambil harta rampasan dan
ganimah. Sungguh keikhlasan telah tercabut dari hati sebagian
tim. Belum lama hal tersebut berlangsung sehingga terjadilah perubahan
yang drastis pada peperangan. Pemimpin kavaleri musyirik dalam peperangan
Uhud yaitu Khalid bin Walid yang kemudian ia menjadi tokoh Muslim adalah orang
yang sangat jenius dalam peperangan. Begitu ia melihat pasukan pemanah
lari dari tempat mereka, maka ia melihat celah yang terbuka di tengah-tengah
kaum Muslim, sehingga ia segera memutar kudanya dan disertai tim yang mengikutinya. Kemudian
ia menyerang kaum Muslim dari belakang.Serangan yang dilakukan Khalid itu
sangat cepat dan sangat mengejutkan. Orang-orang musyrik mengambil
kesempatan emas. Mereka yang tadinya lari, kini mereka menarik diri dan
justru menyerang kembali.
Pasukan
Muslim dikepung dari dua arah oleh kavaleri: satu dari belakang dan yang lain
dari depan. Kemudian berjatuhanlah korban-korban dari pasukan Muhammad bin
Abdillah. Banyak di antara mereka yang mati sebagai syahid saat
mempertahankan dan melindungi Rasulullah saw, bahkan sang Nabi pun hidungnya
terluka dan giginya pun runtuh dan kepala beliau yang mulia terluka sehingga
beliau mengucurkan darah.
Kemudian
tersebarlah isu bahwa Muhammad saw telah meninggal. Ketika mendengar itu,
kaum Muslim sangat terpukul dan sangat sedih sehingga kaum Muslim pun
terpecah-pecah.Sebagian mereka kembali ke Mekah dan sekelompok yang lain ke
atas gunung dan mereka tetap menjaga Nabi saw yang mulia. Ketika mendengar
kematian Nabi, Anas bin Nadhir berkata kepada kaumnya: "Bangkitlah kalian
dan matilah seperti kematiannya. Apa yang kalian lakukan setelah kalian hidup
sesudahnya."
Pasukan
Muslim tetap bertahan dan melakukan peperangan, lalu tekanan kaum musyrik
semakin berat kepada Nabi saw dan para sahabatnya. Kemudian terjadilah
kejadian yang paling sulit dalam sejarah umat Islam. Nabi saw berteriak
saat melihat kaum musyrik menekannya dan berusaha membunuhnya:
"Barangsiapa yang dapat mengusir mereka dariku, maka baginya surga."
Mendengar
perkataan itu, kaum Muslim segera mengitari Nabi saw dan melindungi beliau
sehingga banyak dari mereka berguguran sebagai syahid. Bahkan
sahabat-sahabat Abu Juanah melindungi Nabi saw sampai-sampai punggungnya
dipenuhi dengan anak-anak panah. Ia bagaikan baju besi yang dipakai kepada
Nabi saw dan ia tetap kokoh melindungi sang Nabi saw.Kemudian berubahlah
kondisi karena keteguhan dan keberanian yang diperlihatkan oleh kaum
Muslim. Pasukan Mekah merasa puas dan mereka memilih untuk menarik
diri. Saat itu orang-orang Quraisy tidak lebih sedikit penderitaannya
daripada orang-orang Muslim.
Setelah
peperangan yang dahsyat itu, kaum musyrik menarik diri setelah mereka berhasil
membunuh beberapa orang Muslim, bahkan mereka berhasil melukai pemimpin pasukan
yaitu sang Nabi saw. Semua itu terjadi karena satu kesalahan yaitu kesalahan
terletak pada penentangan dan pembangkangan para pemanah terhadap perintah sang
Rasul saw dan usaha mereka untuk meninggalkan tempat mereka.
Ketika
sebagian kelompok dari sahabat kehilangan pengorbanan dan kehilangan sikap ikhlas
dalam hati mereka, maka kesalahan tersebut harus dibayar oleh tentara yang
paling berani dan mulia di antara mereka yaitu sang Nabi saw. Langit tidak
ikut campur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu. Kesalahan kaum Muslim
itu harus dibayar oleh Rasul saw di mana wajah beliau pun terluka bahkan keluar
darah yang cukup deras dari luka beliau sehingga setiap kali dituangkan air di
atas luka itu, maka darah pun semakin deras mengucur. Darah itu tidak
berhenti kecuali setelah dibakarkan potongan tembikar lalu dilekatkan di
atasnya.
Luka beliau
bukan hanya bersifat materi tetapi luka spiritual beliau dan ruhani beliau pun
semakin bertambah. Ini beliau rasakan ketika mendengar bahwa pamannya
Hamzah gugur sebagai syahid dan tidak cukup dengan itu, bahkan istri Abu Sofyan
yaitu Hindun membelah perutnya dan mengeluarkan jantungnya serta mengunyahnya
dengan mulutnya. Semua itu semakin menambah kesedihan sang Nabi.
Kaum Quraisy
menguasi pasukan Muslim dan mereka memberlakukan dan menekan kaum Muslim secara
aniaya. Seandainya bukan karena rahmat Allah SWT niscaya kaum Muslim akan
mengalami kekalahan yang telak. Kemudian turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim
ayat-ayat yang mendidik kaum Muslim agar mereka benar-benar ikhlas dan
memahamkan mereka bahwa kekalahan mereka sebagai akibat dari adanya pasukan di
antara mereka yang menginginkan dunia meskipun di antara mereka ada sebagian
yang menginginkan akhirat . Jika terjadi demikian, maka tidak adajalan
untuk memperoleh kemenangan. Ini bukanlah hal yang diinginkan oleh pasukan
Muslim, yang diharapkan adalah harus semua tim tertuju untuk mencapai ridha
Allah SWT dan hanya mengharapkan akhirat. Jika demikian halnya, maka Allah
SWT akan memberi mereka dunia dan akhirat.
Allah SWT
berfirman dan menceritakan peperangan Uhud dalam surah Ali 'Imran:
"Di
antaramu ada orang yang menghendahi dunia dan di antara kamu ada orangyang
menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji
kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah memiliki karunia (yang
dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman." (QS.
Ali 'Imran :: 152)
Allah SWT
memaafkan hal itu. Orang-orang Muslim kini menghitung jumlah korban mereka dan
mengobati orang-orang yang terluka. Rasulullah saw bertanya tentang pamannya
Hamzah, dan ketika beliau mendapatinya di tengah-tengah sahabat yang gugur, dan
orang-orang kafir telah merusak jasadnya, maka beliau berkata dalam keadaan
menangis: "Tidak akan ada orang yang akan tertimpa sepertimu
selama-lamanya."
Kemudian
Nabi saw berdiri dan memuji Allah SWT lalu beliau memerintahkan untuk
mengembalikan orang-orang yang terbunuh dari kaum Muslim ke tempat asal mereka
di mana mereka terbunuh. Saat itu keluarga mereka telah membawanya ke
kuburan kemudian Nabi saw mengumpulkan kedua orang laki-laki dari pahlawan-pahlawan
Uhud dalam satu pakaian dan beliau bertanya siapa di antara keduanya yang
paling banyak mengambil manfaat dari Al-Qur'an. Jika diisyaratkan kepada
salah satunya, maka ia akan mendahulukannya untuk dimasukan dalam liang lahat.
Rasulullah saw
juga memerintahkan agar mereka dikebumikan dengan darah mereka dan beliau pun
tidak mensalati mereka, serta tidak memandikan mereka. Allah SWT ingin
memperlihatkan bagaimana mereka dibangkitkan pada hari kiamat lalu beliau
bersabda: "Tidak ada seorang pun yang terluka di jalan Allah SWT kecuali
Allah SWT membangkitkannya di hari kiamat dalam keadaan di mana Iukanya akan
mengucur darah. Warna itu adalah warna darah dan baunya seperti minyak misik .
"
Bukanlah
penderitaan yang dalam yang merupakan pelajaran yang harus dimengerti kaum
Muslim dari perang Uhud sebagai akibat dari pembangkangan mereka dari perintah
Rasul saw dan ketidaktaatan mereka kepadanya, tetapi wahyu juga menurunkan
berbagai pelajaran yang lain yang dapat dimanfaatkan. Pelajaran yang terpenting
setelah pelajaran kesetiaan adalah penjelasan tentang central utama yang di
situ kaum Muslim berkumpul. Pribadi Rasulullah saw bukanlah markas yang di
situ kaum Muslim berkumpul yang ketika pribadi Rasulullah saw yang mulia pergi
karena satu dan lain hal, maka orang-orang Muslim akan pergi dan meninggalkan
beliau. Tidak seharusnya pribadi Rasul saw menjadi markas atau central
tetapi yang menjadi central dari semuanya adalah pemikiran beliau. Itulah
yang paling penting.
Demikianlah
bahwa Al-Qur'an al-Karim mencela orang-orang yang meletakkan senjatanya ketika
tersebar isu terbunuhnya Nabi saw. Islam tidak akan mencapai puncaknya
ketika kaum Muslim berkumpul di sisi Rasulullah saw saat beliau masih hidup
namun ketika ia terbunuh atau mati, maka mereka murtad di mana mereka membuang
senjatanya dan pergi mengurusi diri mereka sendiri. Orang-orang Islam
adalah orang-orang yang mengikuti prinsip bukan mengikuti
pribadi. Muhammad bin Abdillah memang seorang pemimpin manusia dan Imam
para rasul dan penutup para nabi, dan sebagai makhluk Allah SWT yang paling
mulia, namun ini semua tidak membenarkan bahwa seorang Muslim diperbolehkan
untuk meletakkan senjatanya ketika Rasul saw wahfat atau terbunuh. Harus
seorang Muslim memanggul senjatanya dan tidak membuang dari tangannya kecuali
dalam dua kondisi: pertama ketika ia telah memperoleh kemenangan dan kedua
ketika ia telah mati.
Nas
Al-Qur'an menjelaskan secara gamblang hubungan kaum Muslim dengan akidah Islam,
bukan dengan pribadi sang Rasul saw. Allah SWT berfirman:
"Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul. Apakahjika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (tnurtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maha ia tidak dapat
merugikan Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada
orang-orangyang bersyukur. " (QS.
Ali 'Imran: 144)
Demikianlah
bahwa peperangan Uhud telah membawa dampak yang luar biasa terhadap kaum
Muslim, utamanya terhadap Nabi saw. Orang-orang yang terbunuh di perang
Uhud adalah sahabat-sahabat yang paling mulia dan paling banyak
imannya. Mereka adalah pilihan dari orang-orang Muslim yang
pertama; mereka memikul beban dakwah di saat-saat yang sulit bahkan mereka
harus berhadapan dan memusuhi kerabat mereka dan teman-teman
mereka; mereka menjadi terasing saat menyatakan keislaman mereka sebelum
hijrah dan sesudahnya; mereka telah menginfakkan harta; mereka
berjuang di jalan Allah SWT; mereka telah bersabar dalam menanggung
berbagai macam penderitaan, dan ketika datang saat yang paling berbahaya dan
pasukan Islam telah terkepung di mana jiwa Rasul saw telah terancam, mereka
justru mencurahkan darah mereka bagaikan lautan yang menenggelamkan orang-orang
kafir dan mereka mampu melindungi sang Rasul saw dan mengubah jalan perang
serta menyelamatkan akidah tauhid.
Peperangan
Uhud bukanlah pengorbanan pertama yang dilakukan oleh kaum Muslim dan bukanlah
merupakan peperangan yang terakhir. Ia adalah satu peperangan di antara
cukup banyak peperangan yang dilalui oleh Islam untuk menyebarkan kalimat Allah
SWT di muka bumi dan membimbing hamba-hamba-Nya. Begitu juga pengorbanan
Rasul saw, dan peperangan Uhud bukanlah pengorbanan yang pertama terhadap Islam
dan bukan juga yang terakhir. Rasulullah saw telah hidup setelah diutusnya
ke manusia di mana beliau telah memberikan semuanya untuk kehidupan dan untuk
dakwah; beliau tidak memiliki dirinya sendiri; beliau tidak
memboroskan waktunya dengan sia-sia bahkan beliau beristirahat sedikit
saja. Semua kehidupan beliau diberikan kepada dakwah dan untuk
Islam. Beliau menjalani berbagai macam peperangan dan beliau memikul
berbagai macam penderitaan dan belum lama beliau lari dari suatu problem
kecuali beliau berhadapan dengan problem yang baru dan lain; belum lama ia
menyelesaikan suatu krisis kecuali beliau menghadapi krisis yang
lain. Demikianlah kehidupan sang Nabi saw di mana beliau selalu memberikan
kontribusi dan sumbangannya demi kepentingan agama Allah SWT.
Silakan Anda
mengamati kehidupan sang Rasul saw dari sudut manapun yang Anda inginkan
niscaya Anda tidak akan menemukan sudut dari sudut-suduut kehidupan beliau
kecuali dimulai dan dipenuhi dengan pergulatan yang hebat.
Rasulullah
saw telah melalui pergulatan militer dalam berbagai macam pertempuran yang
silih berganti yang beliau lakukan. Beliau memulai pergulatan politiknya
yang terwujud dalam perundingan-perundingan dan surat-surat yang ia kirimkan
kepada penguasa dan para raja di berbagai negara agar mereka memeluk Islam,
bahkan beliau melakukan pergulatannya dalam masalah pribadi di rumah
tangga. Rumah tangga beliau pun tidak kosong dari pergulatan. Dia
adalah pejuang sejati dalam setiap waktu. Kalau kita mengenal Nabi Ibrahim
sebagai seorang musafir di jalan Allah SWT, maka Muhammad bin Abdillah adalah
seorang pejuang di jalan Allah SWT. Belum lama peperangan Uhud berakhir
sehingga pengaruh-pengaruh buruknya berbekas pada kaum Muslim. Orang-orang
Arab Badui mulai berani bersikap kurang ajar kepada mereka, demikianjuga
orang-orang Yahudi, apalagi orang-orang munafik dan tidak ketinggalan
orang-orang Quraisy pun mulai menyudutkan kaum Muslim.
Kemudian
datanglah utusan dari kabilah Arab kepada Rasul saw dan mereka mengatakan
kepada beliau bahwa mereka mendengar tentang Islam dan mereka ingin memeluknya,
maka hendaklah beliau mengutus kepada mereka beberapa dai dan mubalig untuk
mengajari mereka tentang dasar-dasar agama. Nabi saw mengutus bersama
mereka sekelompok para dai yang dipimpin oleh 'Ashim bin Tsabit. Temyata
orang-orang itu berkhianat atas para sahabat-sahabat yang berdakwah itu dan
mereka pun dibunuh. Bahkan tiga di antara mereka ditawan dan dijual di
Mekah. Dijualnya mereka di Mekah berarti mereka diserahkan pada kelompok
orang-orang Quraisy yang telah lama menunggu untuk menangkap kaum
Muslim. Kaum Quraisy Mekah membunuh tiga tawanan kaum Muslim
itu. Orang-orang Muslim sangat sedih mendengar dai-dai Allah SWT itu
terbunuh dengan cara yang begitu tragis.
Ketika
datang kepada Nabi saw orang-orang yang minta pada beliau agar dikirim utusan
dari kalangan misionaris untuk menyebarkan Islam untuk para kabilah kaum Najd,
maka Nabi kali ini betul-betul mempertimbangkan antara kepentingan menyebarkan
Islam dan perlindungan terhadap kehormatan manusia. Lalu beliau memilih
untuk kepentingan dakwah Islam. Beliau menyadari bahwa beliau mengutus
para sahabatnya dalam bahaya; ia memberitahu mereka bahwa mereka akan
menghadapi suatu kondisi yang misterius yang tidak mengetahuinya kecuali Allah
SWT.Namun bahaya tersebut sudah menjadi bagian dari cita rasa kehidupan yang
selalu meliputi dakwah Islam.
Ketika Nabi
saw mengutarakan kekhawatirannya terhadap para sahabatnya yang bakal diutusnya
di tengah kabilah itu, orang-orang yang meminta beliau untuk mengutus para
sahabatnya menyakinkan beliau bahwa mereka akan melindungi sahabat
beliau. Kemudian Nabi saw memerintahkan tujuh puluh orang pilihan dari
sahabatnya untuk pergi dan berjihad di jalan Allah SWT serta mengajak manusia
untuk mengikuti Islam. Lalu pergilah para sahabat yang kemudian dikenal
dengan sebutan al-Qurra ' (yaitu orang-orang yang pandai
membaca Al-Qur'an dan menghapalnya).Mereka adalah para dai yang terbaik yang
diutus Nabi di mana pada siang hari mereka memikul kayu bakar dan pada malam
hari mereka sibuk dalam keadaan salat. Ketika datang perintah Rasulullah
saw kepada mereka untuk pergi dan berdakwah mereka pun pergi dalam keadaan
senang karena mereka diajak untuk berjihad di jalan Allah SWT. Mereka
melangkahkan kaki dengan mantap di tanah orang-orang munafik dan para
penghianat sehingga mereka sampai di suatu sumur yang bemama sumur
Ma'unah. Kemudian mereka mengutus salah seorang di antara mereka untuk
menemui pemimpin orang-orang kafir di negeri itu. Mubalig dari sahabat
Rasulullah saw itu menyampaikan surat Nabi yang dibawanya di mana beliau
mengharapkan agar masyarakat di situ masuk Islam, tetapi ia dikagetkan dengan
adanya pisau yang menembus punggungnya. Mubaligh itu berteriak saat ia
tersungkur: "sungguh aku beruntung demi Tuhan pemelihara Ka'bah."
Kemudian
pemimpin orang-orang kafir itu mengangkat senjata dan mengumpulkan para kabilah
untuk memerangi para mubaligh di jalan Allah SWT itu sehingga sahabat-sahabat
terbaik yang berdakwah di jalan Allah SWT itu pun gugur di sumur
Ma'unah. Jasad-jasad mereka menjadi makanan dari burung nasar dan
burung-burung yang lain. Dari tujuh puluh orang yang dikirim itu hanya
seorang yang selamat yang kembali kepada Nabi saw. Ia menceritakan apa
yang dialami oleh fuqaha-fuqaha Muslimin di mana mereka dikhianati. Ketika
mendengar berita tentang tragedi itu, Nabi sangat terpukul dan sedih. Kemudian
beliau mengangkat kepalanya dan berkata kepada sahabat-sahabatnya:
"Sungguh sahabat-sahabat kalian telah terbunuh dan mereka telah meminta
kepada Tuhan mereka. Mereka mengatakan, Tuhan kami, berikanlah kami tes sesuai
dengan kehendak-Mu dan ridha-Mu. Apa saja yang menjadi kepuasan-Mu kami pun
akan merasakan kepuasan. "
Sungguh
penderitaan yang dialami oleh Islam sangat berat, terutama yang menimpa para
sahabat yang gugur sebagai syahid di sumur Ma'unah. Nabi saw sangat sedih
mendengar sikap orang-orang Arab dan orang-orang kafir terhadap
Islam. Mereka telah mengejek dan merendahkan kaum mukmin sampai pada batas
ini. Kemudian beliau menetapkan akan kembali mengangkat kewibawaan Islam
dengan tindak kekerasan.
Dalam
kondisi seperti ini, bergeraklah orang-orang Yahudi untuk membunuh Rasulullah
saw. Pada suatu hari ia pergi ke Bani Nadhir untuk menyelesaikan suatu
urusan. Kemudian pertama mereka menampakkan persetujuan atas apa yang
diucapkan beliau. Mereka mendudukkan Nabi di bawah naungan benteng-benteng
mereka, lalu mereka bersekongkol untuk melenyapkan beliau;mereka menetapkan
untuk melemparkan batu yang berat dari atas benteng itu saat beliau duduk dan
tidak membayangkan akan terjadinya kejahatan yang direncanakan
padanya. Namun Allah SWT mengilhami Rasul-Nya akan datangnya bahaya kepada
beliau, lalu beliau bangun sebelum pelaksanaan tipu daya itu. Lalu beliau
segera pergi menuju rumahnya. Beliau berpikir saat beliau kembali ke
rumahnya dengan membawa penderitaan yang baru. Pembangkangan dan
pengkhianatan tersebut tidak akan dapat berhenti kecuali setelah Islam
menunjukkan taringnya. Islam ingin mengembalikan kewibawaannya dengan cara
mengangkat senjata.
Rasul saw
mengutus utusan ke Bani Nadhir dan memerintahkan mereka untuk keluar dari
Madinah, bahkan Rasul saw memberi waktu kepada mereka hanya sepuluh
hari. Kemudian orang-orang munafik yang ada di Madinah bersatu bersama
orang-orang Yahudi dan mereka sepakat untuk memerangi Islam. Namun ketika
berhadapan dengan Islam, orang-orang Yahudi menelan kekalahan. Kemudian
turunlah surah al-Hasyr yang menyebutkan pengusiran orang-orang Yahudi dan
menyingkap kedok orang-orang munafik. Setelah kemenangan yang meyakinkan
ini, Rasul saw keluar bersama sahabatnya untuk membalas kejadian yang menimpa
sahabat-sahabatnya yang dikenal dengan al-Qurra ' itu. Rasul
saw ingin mengembalikan kewibawaan Islam. Kemudian tim Rasul saw itu mampu
membuat para pengkhianat dari orang-orang Arab ketakutan. Hanya sekadar
mendengar nama pasukan Muslim, maka serigala-serigala gurun yang dulu bengis
itu pun ketakutan laksana tikus-tikus yang panik yang bersembunyi di bawah
lobang-lobang gunung. Orang-orang Quraisy mendengar kegiatan pasukan
Islam. Pasukan Quraisy menarik diri saat mereka mendekati Dahran,
sementara pasukan Muslim berada di Badar. Mereka menunggu pertemuan yang
disepakati di Uhud. Orang-orang Muslim menyala-kan api selama delapan hari
sebagai bentuk tantangan dan menunggu kedatangan kaum kafir sehingga ketika
mereka (kaum kafir) telah pergi, maka citra kaum Muslim pun terangkat setelah
mereka menerima kepahitan dalam perang Uhud.
Kaum Muslim
menoleh ke arah utara jazirah Arab setelah menetapkan kewibawaan mereka di
selatan. Kabilah di sekitar Daumatul Jandal dekat dengan Syam merampok di
tengah jalan dan merampas kafilah yang berlalu di situ, bahkan kenekatan mereka
sampai pada batas di mana mereka berpikir untuk menyerbu Madinah. Oleh
karena itu, Rasulullah saw keluar bersama seribu orang Muslim yang mereka
bersembunyi di waktu siang dan berjalan di waktu malam, sehingga setelah lima
belas malam beliau sampai ke tempat yang dekat dengan tempat tinggal
musuh-musuh mereka lalu mereka menggerebek tempat itu. Pasukan kafir itu
dikagetkan dengan kedatangan kaum Muslim yang begitu cepat.
Kita akan
mengetahui bahwa alat komunikasi yang dimiliki oleh Rasulullah saw sangat
unggul sebagaimana alat pertahanan beliau pun sangat unggul. Serangan
mendadak yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah saw menunjukkan bahwa mereka
memiliki pertahanan yang luar biasa. Sistem pertahanan yang luar biasa
sebagaimana kedatangan tim yang secara tiba-tiba itu menunjukkan kemampuan
pasukan Islam untuk menyusup.
Demikianlah,
terjadilah hari-hari pertempuran militer. Belum lama Nabi saw meletakkan
baju besinya, dan beliau kembali membangun pribadi kaum Muslim sehingga beliau
terpaksa kembali memakai baju besinya dan kembali berperang. Ketika
musuh-musuh Islam yang berada di sekelilingnya melihat bahwa kemampuan militer
mereka tidak dapat menandingi kemampuan kaum Muslim, maka mereka sengaja
melakukan cara-cara baru untuk memerangi Islam. Yaitu perang psikologis
atau perang urat syaraf dengan cara menyebarkan berbagai macam isu atau apa
yang dinamakan Al-Qur'an al-Karim dengan peristiwa al-Ifik (kebohongan). Setelah
perang Bani Musthaliq yaitu peperangan yang membawa kemenangan yang cepat bagi
kaum Muslim, terjadilah kesalahpahaman dan pertengkaran di antara
sahabat-sahabat yang biasa mengambil air di mana salah seorang mereka
berteriak: "wahai kaum Muhajirin," dan yang lain berteriak:
"Wahai kaum Anshar . "
Peristiwa yang
sangat sepele itu dimanfaatkan oleh pemimpin kaum munafik yaitu Abdullah bin
Ubai. Abdullah bin Ubai memprovokasi orang-orang Anshar untuk menyerang
kaum Muhajirin. Ia ingin membangkitkan luka-luka jahiliah yang lama yang
telah dibuang dan telah dikubur oleh Islam, Salah satu yang dikatakan oleh Ibnu
Ubai adalah, "sungguh mereka telah menyaingi kita dan mengambil kebaikan
dari dan seandainya kita telah kembali ke Madinah niscaya orang-orang yang
mulai akan dapat mengusir orang-orang yang hina di dalamnya. "
Zaid bin
Arqam menyampaikan kalimat si munafik itu kepada Nabi saw, di mana kalimat itu
berisi provokasi terhadap orang-orang Anshar untuk menyerang kaum
Muhajirin. Ubai menginginkan agar mereka berpecah belah dan agar kesatuan
mereka runtuh. Si Munafik itu segera datang kepada Rasul saw dan membantah
apa yang dikatakannya. Orang-orang Muslim secara lahiriah membenarkan
perkataan si munafik itu dan mereka justru menuduh Zaid bin Arqam salah
mendengar. Tetapi fakta peristiwa itu tidak tersembunyi dari Nabi saw
sehingga peristiwa itu sangat menyedihkan beliau. Lalu beliau mengeluarkan
perintah agar para sahabat pergi ke suatu tempat yang tidak biasanya mereka
lalui. Kemudian beliau pergi bersama sahabat di hari itu sampai waktu
malam menyelimuti mereka. Dan kini, mereka memasuki waktu
pagi. Kepergian yang singkat dan tiba-tiba itu mampu menepis kebohongan
yang direncanakan oleh si Munafik, Abdullah bin Ubai. Yaitu kebohongan
yang bertujuan untuk membakar persatuan kaum Muslim ketika ia berusaha untuk
menyalakan api di tengah-tengah rumah sang Nabi saw.
Ketika Nabi
masih memiliki kekuatan yang menakutkan bagi yang mencoba melawannya, maka
mereka pun melakukan berbagai penipuan dan, makar. Dan salah satu yang menjadi
obyek tipu daya itu adalah istri beliau, yaitu Aisyah. Alkisah, Aisyah pada
suatu hari pergi untuk memenuhi hajatnya lalu dilehernya terdapat
anting-anting. Setelah ia memenuhi hajatnya, anting-anting itu terjatuh dari
lehernya dan ia tidak mengetahui. Ketika Aisyah kembali dari kafilah yang telah
siap-siap untuk pergi, ia kembali mencari kalungnya sampai ia menemukannya.
Sementara itu orang-orang yang membawanya dalam tandu (haudaj) mengira Aisyah
sudah berada di dalamnya. Mereka tidak ragu dalam hal itu karena memang berat
badan Aisyah sangat ringan.
Tim Nabi
berjalan dan membawa tandu, sedangkan Aisyah tidak ada di dalamnya. Aisyah
kembali dan tidak menemukan tim di mana mereka telah pergi. Aisyah merasa
heran atas kepergian tim yang begitu cepat. Aisyah merasa takut saat ia
berdiri sendirian di padang gurun. Aisyah berusaha bersikap baik, ia duduk
di tempatnya di mana di situlah untanya duduk juga. Aisyah melipat-lipat
pakaiannya sambil berkata dalam dirinya: Mereka akan mengetahui bahwa aku tidak
ada dan karena itu mereka akan kembali mencariku dan akan menemukan aku.
Sementara
itu, Sofwan bin Mu'athal juga tertinggal karena ia melakukan
keperluannya. Ia berjalan dari arah yang jauh lalu ia melihat bayangan
orang yang tidak begitu jelas. Sofwan mendekat dan tiba-tiba ia mengetahui
bahwa ia sedang berdiri di hadapan Aisyah. Ia melihat Aisyah sebelum
diwajibkannya perintah memakai hijab (jilbab) atas istri-istri
Nabi. Ketika melihatnya, Sofwan mengatakan: "Sesungguhnya kita milik
Allah SWT dan kepadanya kita akan kembali, ... istri Rasulullah Aisyah tidak
menjawab.
Sofwan
mundur dan mendekatkan untanya kepadanya sambil berkata: "Silakan Anda
menaikinya." Aisyah pun menaikinya. Kemudian Sofwan membawanya
pergi dan menemukan tim yang telah meninggalkannya. Sementara itu, pasukan
Nabi sedang beristirahat. Para sahabat mengira bahwa Aisyah masih berada
dalam tandu. Tiba-tiba mereka terkejut ketika Aisyah datang kepada mereka
bersama Sofwan yang menuntun untanya.
Tokoh
munafik Abdullah bin Ubai segera memanfaatkan kesempatan emas ini. Ia membuat
kisah bohong yang terkesan menuduh istri Nabi melakukan pengkhianatan. Abdullah
bin Ubai pandai memilih beberapa sahabat yang dikenalinya sebagai orang-orang
yang mudah percaya dan cenderung membenarkan hal-hal yang bersifat lahiriah,
atau ia mengetahui bahwa di antara mereka dan Aisyah terdapat kedengkian
sehingga mereka suka jika tersebar kebohongan yang berkenaan dengan Aisyah.
Demikianlah
pemimpin munafik itu berhasil menjerat beberapa sahabat dalam tali
kebohongannya, di antaranya Hasan bin Sabit. Musthah, dan seorang wanita yang
dipanggil Hamnah binti Jahasv. yaitu saudara perempuan Zainab binti Jahasy
istri Rasulullah saw. Ketiga orang itu tertipu dengan kebohongan tersebut lalu
mereka menyebarkannya sehingga orang-orang yang terjerat dalam kebo hongan itu
mengatakan apa saja yang mereka inginkan. Akhirnya. pasukan pun berguncang
dengan isu itu. Sementara itu, Aisvah tidak mengetahui sedikit pun tentang hal
tersebut. Isu tersebut bertujuan untuk menjatuhkan Islam dan melukai perasaan
RasuhiHah saw dan itu termasuk peperangan menentang Rasulullah saw dan ajaran
yang dibawanya. Begitu juga ia bertujuan menunjukkan bahwa kaum Muslim tidak
konsekuen dengan akidah yang mereka yakini dan secara tidak langsung ia juga
menyerang kesucian rumah tangga Aisyah.
Tim kembali
ke Mekah dan Aisyah jatuh sakit, namun ia tidak mengetahui masalah yang
dikatakan tentang dirinya. Kemudian Rasulullah saw mendengar hal itu
sebagaimana ayahnya Abu Bakar dan ibunya pun mendengarnya, namun tak seorang
pun di antara. mereka yang memberitahu Aisyah. Begitu juga Rasul saw
tidak menceritakan peristiwa itu di hadapan Aisyah. Namun sikap beliau
berubah di mana beliau tidak lagi menunjukkan perhatiannya seperti biasanya
saat Aisyah sakit. Ketika beliau menemui Aisyah dan saat itu ibunya ada di
situ, beliau berkata: "Bagaimana keadaanmu?" Dia tidak lebih
dari mengucapkan kata-kata itu. Ketika Aisyah melihat perubahan sikap
Rasul saw, ia mulai marah. Pada suatu hari ia berkata pada Nabi:
"Seandainya engkau mengizinkan aku, niscaya aku akan pindah ke tempat
ibuku." Beliau menjawab: "Itu tidak ada masalah."
Aisyah pun
pindah ke tempat ibunya dan ia tidak mengetahui sama sekali apa yang sebenarnya
terjadi padanya. Setelah melalui lebih dari dua puluh malam, Aisyah sembuh dari
sakitnya dan ia pun belum mengetahui hal-hal yang dikatakan tentang dirinya.
Umul mu'minin Aisyah menceritakan bagaimana ia mengetahui isu bohong tersebut
dan bagaimana Allah SWT membebaskannya dari isu itu, ia berkata:
"Kami
adalah kaum Arab di mana kami tidak mengambil di rumah kami tanggung jawab ini
yang biasa di ambil oleh orang-orang Ajam. Kami membencinya. Kami keluar untuk
menikmati keluasan kota. Sementara itu para wanita keluar pada setiap malam
untuk memenuhi hajat mereka. Pada suatu malam, aku keluar bersama Ummu Musthah untuk
memenuhi sebagian keperluanku. Lalu ia berkata: "Tidakkah kau sudah
mendengar suatu berita wahai putri Abu Bakar?" Aku bertanya, "berita
apa itu?" Lalu ia memberitahukan padaku apa-apa yang dikatakan oleh para
penyebar kebohongan. Aku berkata: "Apa ini memang benar?" Ia
menjawab: "Demi Allah, ini benar-benar terjadi." Aisyah berkata:
"Demi Allah, aku tidak mampu memenuhi hajatku." lalu aku pulang. Demi
Allah, aku tetap menangis sampai-sampai aku mengira bahwa tangisanku akan merusak
jantungku dan aku berkata kepada ibuku, mudah-mudahan Allah SWT mengampunimu,
banyak orang berbicara tentangku namun engkau tidak menceritakan sedikit pun
kepadaku. Ia berkata: "Wahai anakku, sabarlah demi Allah jarang sekali
wanita yang baik yang dicintai oleh seorang lelaki yang jika ia memiliki
istri-istri yang lain (madunya) kecuali wanita itu akan diterpa oleh berbagai
isu."
Aisyah
berkata: "Rasulullah saw berdiri dan menyampaikan pembicaraannya pada
mereka dan aku tidak mengetahui hal itu." Beliau memuji Allah SWT
kemudian berkata: "Wahai manusia, bagaimana keadaan kaum pria yang
menyakiti aku melalui keluar gaku dan mereka mengatakan sesuatu yang tidak
benar. Demi Allah, aku tidak mengenal mereka kecuali dalam kebaikan. Lalu
mereka mengatakan hal itu pada seorang pria yang aku tidak mengenalnya kecuali
dalam kebaikan di mana ia tidak memasuki suatu rumah dari rumah-rumahku kecuali
ia bersamaku. "
Kemudian
Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid dan
bermusyawarah dengan keduanya. Usamah hanya melontarkan pujian dan
berkata: "Ya Rasulullah aku tidak mengenal istrimu kecuali dalam kebaikan
dan berita ini hanya kebohongan dan kebatilan," sedangkan Ali berkata: 'Ya
Rasulullah masih banyak wanita yang lain yang bisa kau percaya. "Kemudian
Rasulullah saw memanggil Burairah dan bertanya kepadanya, lalu Ali berdiri
kepadanya dan memukulnya dengan keras sambil berkata: "Jujurlah kepada
Rasulullah saw," lalu wanita itu berkata: "Demi Allah, aku tidak
mengetahui kecuali kebaikan. Aku tidak pemah mencela Aisyah kecuali pada
suatu waktu aku sedang membikin adonan roti lalu aku memerintahkannya untuk
menjaganya namun Aisyah tertidur dan datanglah kambing lalu adonan itu dimakan
olehnya. "
Aisyah
berkata: "Kemudian datanglah kepadaku Rasulullah saw dan saat tu aku bersama
kedua orang tuaku dan seorang wanita dari kaum Anshar. Aku menangis dan wanita
itu pun turut menangis. Rasulullah saw duduk lalu memuji Allah SWT dan
berkata:" Wahai Aisyah, sungguh kamu telah mendengar sendiri apa yang
dikatakan orang-orang tentang dirimu, maka bertakwalah kepada Allah SWT dan
jika engkau telah melakukan keburukan seperti yang diucapkan orang-orang itu,
maka bertaubatlah kepada Allah SWT karena sesungguhnya Allah SWT menerima
taubat dari hamba-hamba-Nya. "Aisyah mengatakan, "demi Allah, itu
tidak lain hanya kebohongan yang ditujukan kepadaku sehingga membuat air mataku
kering. Aku sama sekali tidak seperti yang mereka katakan, "lalu aku
menunggu kedua orang tuaku untuk mengatakan tentang diriku namun mereka justru
terdiam. Aisyah berkata," demi Allah aku merasa sebagai seorang yang hina
yang tidak layak diturunkan Al-Qur'an dari Allah SWT berkenaan denganku, tapi
aku hanya berharap agar Nabi saw melihat kebohongan yang ditujukan kepadaku itu
sehingga ia memastikan terbebasnya aku darinya. "
Aisyah
berkata: "Ketika aku tidak melihat kedua orang tuaku berbicara aku berkata
kepada mereka tidakkah kalian menjawab apa yang dikatakan Rasuullah
saw?" Mereka berkata: "Demi Allah kami tidak mengetahui apa yang
harus kami jawab." Aku mengetahui bahwa aku bebas dari tuduhan
itu. Tiba-tiba Rasulullah saw mengusap keringat dari wajahnya sambil
berkata: "Bergembiralah wahai Aisyah karena sesungguhnya Allah SWT telah
menurunkan ayat yang membebaskan kamu dari tuduhan itu," lalu aku berkata:
"Segala puji bagi Allah SWT." Kemudian beliau keluar menemui
para sahabat dan membacakan kepada mereka ayat berikut ini:
"Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu. Tiap-tiap
seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa
di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita
bohong itu, maka baginya azab yang besar. " (QS.
an-Nur: 11)
Jibril turun
kepada Nabi saw untuk menyampaikan terbebasnya Aisyah dari segala tuduhan yang
ditujukan kepadanya. Dan gagallah peperangan psikologis menentang kaum
Muslim dan rumah tangga Rasulullah saw, dan kelompok-kelompok kafir meyakini
bahwa mereka harus menggunakan cara baru lagi untuk menentang
Islam. Kemudian Rasulullah saw kembali memasuki pergulatan menentang
peperangan fisik. Peperang Khandaq termasuk contoh peperangan fisik yang
dilakukan oleh Rasulullah saw. Orang-orang Yahudi menyerahkan urasan
mereka kepada kaum musyrik, dan Dimulailah jaringan persekongkolan dan sumpah
di antara tokoh-tokoh Yahudi dan pemimpin-pemimpin kaum musyrik, bahkan
pendeta-pendeta Yahudi berfatwa bahwa agama Quraisy yang disimbolkan dengan
penyembahan berhala lebih baik dari agama Muhammad yang penyembahan hanya layak
ditujukan kepada Tuhan Yang Esa sebagaimana tradisi jahiliah lebih baik dari
ajaran Al-Qur'an.
Politik kaum
Yahudi berhasil menyatukan kelompok-kelompok orang kafir dan mengerahkannya
untuk menentang kaum Muslim. Kemudian mereka akan menyerang Madinah dengan
jumlah kekuatan sepuluh ribu tentara. Akhirnya, berita itu sampai ke Nabi
saw. Dia tidak heran ketika mendengar orang-orang Yahudi bersatu-padahal
mereka memiliki azas agama yang menyeru kepada tauhid-bersama kaum musyrik
menentang agama tauhid. Nabi saw mengetahui bahwa kesepakatan telah lama
membelenggu orang-orang Yahudi sehingga hati mereka menjadi keras dan hari
telah menjauhkan antara mereka dan sumber yang jernih yang dipancarkan oleh
Musa. Akhirnya, mereka menjadi buah yang rusak yang kulitnya bergambar
tauhid namun isinya bergambar kepahitan syirik. Dan yang lebih penting
dari itu adalah kesamaan kepentingan kaum Yahudi dan kaum musyrik.
Nabi saw
menyadari bahwa beliau sekarang menghadapi ancaman dan pasukan yang
besar. Pertempuran secara terbuka tidak memberi keuntungan bagi
Muslimin. Beliau mulai berpikir bagaimana cara mempertahankan Madinah
tanpa harus keluar darinya. Kali ini taktik militernya berubah di mana
sebelum itu beliau keluar dari Madinah dan menjauhinya serta menyerang
kelompok-kelompok yang berencana menyerbu Madinah. Kali ini bentuk ancaman
berbeda dan tentu pikiran Nabi pun berubah karena mengikuti perbedaan ancaman
itu.
Kemudian
beliau mengadakan pertemuan militer bersama para tentaranya. Beliau ingin mendengar
berbagai usulan tentang bagaimana cara mempertahankan Madinah. Lalu Salman
al-Farisi mengusulkan agar Nabi menggali suatu parit yang dalam di sekeliling
Madinah yaitu parit yang seperti bendungan alami yang dapat menahan laju banjir
yang ingin maju, suatu parit yang pasukan berkuda tidak akan mampu melewatinya
dan kaum Muslim dapat mempertahankan diri dari belakangnya. Mula-mula usulan
itu terkesan agak mustahil diwujudkan namun pada akhirnya Nabi menyetujui
usulan Salman itu. Melalui sensifitas militernya yang mengagumkan, beliau
mengetahui bahwa situasi cukup genting dan karenanya ia menuntut usaha keras
untuk dapat melaluinya. Nabi saw memerintahkan para sahabat untuk menggali
parit di sekitar Madinah. Pekerjaan itu sangat berat dan saat itu musim dingin
di mana udara sangat dingin. Di samping itu, kaum Muslim sedang mengalami
krisis ekonomi yang mengancam Madinah, meskipun demikian, penggalian parti
tetap dilaksanakan, bahkan Rasulullah saw terjun langsung untuk membuat galian
dan memikul tanah.
Kaum Muslim
dengan semangat yang luar biasa dapat menyelesaikan penggalian parit itu
meskipun kehidupan sangat keras dan mereka merasakan kelaparan karena
kekurangan harta. Namun semangat pasukan Islam tetap meninggi. Mereka percaya
akan datangnya kemenangan dan pertolongan dari Allah SWT.
Allah SWT
berfirman:
"Dan
tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka
berkata: 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan
benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada
mereka kecuali iman dan ketundukan. " (QS.
al-Ahzab: 22)
Pasukan
Quraisy mulai mendekati Madinah dan tiba-tiba Madinah berubah menjadi jazirah
cinta di tengah-tengah lautan kebencian, lautan itu mulai menghantam jazirah
dan berusaha menenggelamkannya dari dalam. Kemudian bertebaranlah
panah-panah kaum Muslim untuk menghalau pasukan kafir yang cukup
banyak. Pasukankafir mulai berputar-putar di sekeliling parit dalam
keadaan bingung: apa gerangan yang telah dilakukan pasukan Islam, bagaimana
mereka dapat menggali parit ini?
Kuda-kuda
musuh berusaha melalui parit itu namun pasukan Muslim segera
menyerangnya. Demikianlah peperangan Ahzab terus berlangsung. Pada
hakikatnya ia adalah perang urat syaraf.Tim musuh mengepung Madinah selama tiga
minggu di mana serangan demi serangan terus dilakukan sepanjang siang dan mata
mereka tetap terjaga sepanjang malam. Bahkan saking dahsyatnya pertempuran
itu sehingga kaum Muslim tidak mengetahui apakah pasukan musuh berhasil
menduduki Madinah atau tidak, dan apakah para musuh berhasil menembus lubang
yang mereka bangun? Allah SWT menggambarkan kondisi peperangan Ahzab dalam
firman-Nya:
"(Yaitu)
ketiha mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketiha tidak
tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan
kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan. Di situlah
diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang
dahysat. " (QS. al-Ahzab: 10-11)
Kondisi
semakin buruk di mana orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian mereka dengan
kaum Muslim dan mereka bergabung dengan al-Ahzab. Demikianlah Bani
Quraizhah membatalkan perjanjiannya dan mereka lupa terhadap pengkhianatan bani
Nadhir dan pembalasan Nabi saw terhadap mereka. Setiap hari kondisi
semakin buruk.
Kaum Muslim
benar-benar mengalami ujian yang berat di mana pikiran mereka benar-benar
kacau. Ketika keadaan mencapai puncaknya kaum Muslim bertanya kepada Rasul saw,
"apa yang harus mereka katakan?" Rasulullah saw memberitahu agar
mereka mengatakan: "Ya Allah, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami untuk
mengatasi mereka."
Doa tersebut
keluar dari mulut-mulut kaum yang telah melaksanakan kewajiban mereka dan telah
membuat mukjizat mereka dalam menghalau serangan. Jadi, mereka tidak
memiliki apa-apa selain doa dan Allah SWT-lah Yang Maha Mendengar permintaan
hamba-Nya dan Dia yang mengabulkannya. Dia mengetahui orang yang
melaksanakan kewajibannya dan akan mengabulkan orang yang berdoa.
Akhirnya,
kaum Muslim benar-benar mendapatkan rahmat Allah SWT. Kemudian perjalanan
pertempuran bergerak dengan cara yang tidak bisa dipahami. Para penyerang
menyadari bahwa mereka sebenamya telah kalah di mana mereka telah menyerang
selama tiga pekan namun serangan tersebut tidak memberikan hasil apa
pun. Mereka telah mencurahkan berbagai upaya namun tanpa memberikan hasil
yang diharapkan dan bisa jadi mereka akan tetap begini selama tiga tahun.
Kemudian
datanglah suatu malam di mana kaum Muslim belum pernah melihat malam segelap
itu dan angin sekencang itu, bahkan saking kerasnya angin sampai-sampai
suaranya laksana halilintar. Bahkan saking gelapnya malam itu sehingga tak
seorang pun di antara umat Islam yang mampu melihat jari-jari tangannya atau
berdiri dari tempatnya karena saking dinginnya cuaca. Kemudian Nabi saw datang
menemui Hudaifah bin Yaman. Beliau tidak mampu melihatnya meskipun beliau
berdiri di sebelahnya. Nabi saw bertanya: "Siapa ini?" Hudaifah
menjawab: "Aku adalah Hudaifah." Nabi saw berkata: "Oh, kamu
Hudaifah." Hudaifah tetap tinggal di tempatnya karena ia khawatir jika ia
berdiri ia akan tidak mampu karena saking dinginnya dan akan menabrak Rasul
saw. Rasul saw berkata kepada Hudaifah, "Aku kehilangan berita penting
tentang keadaan kaum yang menyerang kita."
Hudaifah
sebagai mata-mata dari pasukan Islam merasakan ketakutan di mana ia tidak mampu
menahan cuaca yang begitu dingin, lalu bagaimana ia dapat berdiri dan keluar
dari Madinah menuju ke tempat tim musuh dan menyusup di tengah barisan mereka
lalu kembali kepada Nabi saw dengan membawa berita tentang
mereka. Hudaifah bangkit dari tempatnya ketika Nabi saw selesai dari
pembicaraannya. Nabi saw memberikan doa kebaikan kepadanya. Hudaifah
pun pergi dan kehangatan keimanannya mengalahkan kegelapan malam dan kedinginan
cuaca. Ia keluar dari Madinah dan menyusup di tengah-tengah pasukan
musuh. Nabi saw memerintahkannya untuk tidak melakukan tindakan apa pun
selain mendapatkan berita dan kembali. Inilah tugas
utamanya. Hudaifah sampai di tengah-tengah musuh. Mereka berusaha
menyalakan api namun angin segera mematikannya sebelum menyala dan di dekat api
itu ada seorang pria yang berdiri sambil mengulurkan tangannya ke arah api
dengan maksud untuk menghangatkannya. Pria itu adalah pemimpin kaum
musyrik yaitu Abu Sofyan.
Melihat itu,
Hudaifah segera memasang anak panah pada busur yang dibawanya dan ia ingin
memanahnya. Seandainya ia berhasil membunuhnya, maka kaum Muslim dapat merasa
tenang dengannya, namun ia ingat pesan Rasulullah saw kepadanya agar ia tidak
melakukan tindakan apa pun. Kemudian ia kembali meletakkan anak panahnya dan
menyembunyikannya.
Abu Sofyan
berkata: "Wahai orang-orang Quraisy situasi saat ini tidak menguntungkan
bagi kalian, maka pergilah kalian karena aku pun akan pergi." Abu
Sofyan melompat ke atas untanya lalu mendudukinya dan memukulnya sehingga unta
itu bangkit.
Hudaifah
kembali menemui Rasulullah saw dengan membawa berita mundumya pasukan Ahzab dan
gagalnya serangan mereka. Ketika mendengar peristiwa penarikan mundur
pasukan musuh, Rasulullah saw berkata: "Sekarang kita akan menyerang
mereka dan mereka tidak akan menyerang kita." Belum lama pasukan
Ahzab kembali ke negerinya dengan tangan hampa sehingga beliau keluar dari
Madinah bersama pasukannya menuju ke kaum Yahudi Bani Quraizhah. Orang-orang
Yahudi itu telah mengkhianati peijanjian mereka bersama Nabi saw. Mereka
menipu Islam di saat-saat genting. Oleh karena itu, mereka harus membayar
biaya pengkhianatan mereka sekarang.
Nabi saw
memerintahkan agar para sahabat tidak melaksanakan salat Ashar kecuali di Bani
Quraizhah. Kaum Muslim memahami bahwa perintah tersebut berarti mereka
akan menerobos benteng kaum Yahudi sebelum matahari tenggelam.
Orang-orang
Yahudi menelan kekalahan pahit lalu mereka datang kepada Sa'ad bin Mu'ad agar
ia memutuskan perkara mereka. Sa'ad adalah pemimpin kaum Aus dan kaum Aus
adalah sekutu orang-orang Yahudi Quraizhah di masa jahiliah. Kaum Yahudi
mengharap bahwa mereka dapat memanfaatkan hubungan yang terjalin selama ini
sebagaimana kaum Aus membayangkan bahwa tokoh mereka akan memberikan keringanan
terhadap sekutu-sekutu mereka. Sa'ad ketika itu terluka dan ia sedang
dirawat di kemahnya karena terkcna panah kauni Ahzab. Sebagian kaunmya
membujuknya agar ia bersikap baik terhadap orang-orang Yahudi, sekutu-sekutu
mereka, dan orang-orang Yahudi membujuknya agar ia bersikap lembut terhadap
mereka. Kemudian Sa'ad mengatakan pernyataannya yang terkenal: "Telah
tiba waktunya bagi Sa'ad untuk memutuskan hukum sesuai dengan kehendak Allah
tanpa peduli dengan celaan para pencela." Sa'ad memutuskan agar kaum
pria dibunuh dan keturunannya ditawan serta harta-harta mereka
dibagi-bagikan. Nabi pun menyetujui keputusan tegas Sa'ad itu. Dia
berkata kepadanya: "Sungguh engkau telah memutuskan kepada mereka dengan
keputusan Allah SWT dari tujuh langit."
Sa'ad
mengetahui bahwa perantaraan, permohonan, harapan, dan menjaga berbagai
pertimbangan lazim selayaknya berada di suatu genggaman, dan masa depan Islam
berada di genggaman yang lain. Yahudi Bani Quraizhah adalah penyebab
berkecamuknya peperangan Ahzab dan sumpah mereka dan berbagai tipu daya mereka
berusaha untuk memblokade Islam dan menghancurkannya. Oleh karena itu, kini
telah tiba saatnya untuk mencabut pohon-pohon beracun dari akarnya tanpa
memperdulikan kasih sayang.
Demikianlah
kaum Yahudi dibersihkan dari Madinah. Nabi saw kembali melanjutkan
pergulatannya. Puncak dari perjuangan politiknya adalah perjanjian yang
beliau lakukan bersama orang-orang Quraisy. Nabi saw berjalan untuk
melaksanakan umrah dan mengunjungi Baitul Haram. Dia keluar bersama seribu
empat ratus kaum pria yang bertujuan untuk berziarah ke Baitul Haram guna
melaksanakan umrah. Ketika mereka sampai di Hudaibiyah pinggiran kota
Mekah, tiba-tiba unta yang ditunggangi Nabi duduk dan ia tidak mau melangkah
menuju Mekah. Melihat itu para sahabat berkata: "Oh unta itu
malas." Nabi saw berkata: "Tidak Demikian namun ia ditahan oleh
Zat yang menahan laju gajah menuju Mekah. Sungguh jika hari ini orang Quraisy
membuat suatu rencana dan mereka meminta agar aku menyambung tali silaturahmi
niscaya aku akan menyetujuinya."
Nabi saw
memerintahkan para sahabat agar tetap tinggal di Hudaibiyah. Kaum Muslim
beristirahat di sana dengan harapan mereka dapat memasuki Mekah di waktu
pagi. Peristiwa itu bertepatan dengan bulan Haram. Mekah telah mengatur
agar tak seorang pun dari kaum Muslim dapat memasukinya. Semua kaum
Quraisy telah keluar untuk memerangi kaum Muslim. Mereka mengutus
utusan-utusan kepada Nabi saw lalu beliau memberitahu mereka bahwa dia tidak
datang untuk berperang namun beliau ingin melakukan urnrah sebagai bentuk
pujian dan syukur kepada Allah SWT dan mengagumkan kemuliaan rumah-Nya yang
suci. Mekah menetapkan untuk melakukan perjanjian bersama kaum Muslim di
mana mereka menginginkan agar jangan sampai kaum Muslim memasuki Baitul Haram
pada tahun ini kecuali setelah mereka kembali pada tahun depan.
Datanglah
juru runding kaum Quraisy lalu Rasul saw menyambutnya dan mendengarkan ia
menyampaikan persyaratan perjanjian yang intinya pelaksanaan perdamaian dan
penarikan mundur pasukan Muslim. Nabi saw menyetujui semua syarat-syarat
perjanjian meskipun tampak bahwa perjanjian tersebut tidak menguntungkan kaum
Muslim di mana itu dianggap sebagai titik kemunduran politik dan militer kaum
Muslim, dan yang menambah kebingungan kaum Muslim adalah bahwa Rasul saw tidak
melibatkan seseorang pun dari kalangan sahabatnya untuk bermusyawarah dalam hal
ini. Tidak biasanya dia bersikap demikian. Para sahabat menyaksikan
ia pergi menemui kaum musyrik dan bersikap sangat lembut kepada mereka, dan ia
tidak kembali kecuali membawa berita persetujuan dengan perjanjian yang di
prakarsai orang-orang musyrik, dan ia pun membubuhkan tanda tangan di atasnya.
Para sahabat
bergerak untuk menentang Rasulullah saw. Mereka bertanya kepada beliau,
"bukankah engkau utusan Allah SWT? Bukankah kita kaum Muslim? Bukankah
musuh-musuh kita kaum musyrik?" Nabi saw hanya mengiyakan
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Umar bin Khatab kembali bertanya:
"Mengapa kita harus menerima penghinaan dalam agama kita?" Umar
ingin mengungkapkan sesuai dengan bahasa kita saat ini, "mengapa kita
harus mundur kalau kita berada di atas kebenaran? Mengapa kita menerima
syarat-syarat perjanjian yang justru menguntungkan kaum musyrik? Apakah kita
takut terhadap mereka?"
Mendengar
berbagai protes yang disampaikan para sahabatnya, Rasul saw justru menyampaikan
jawaban yang unik bagi mereka di mana beliau berkata: "Aku adalah hamba
Allah SWT dan Rasul-Nya dan aku tidak mungkin menentang perintah-Nya dan Dia
tidak mungkin akan menyia-nyiakan aku." Makna dari kalimat beliau adalah,
"taatilah apa yang telah aku lakukan tanpa perlu memperdebatkannya dan
hendaklah kalian sedikit bersabar."
Perjalanan
hari menetapkan bahwa perjanjian yang menimbulkan pro dan kontra di
tengah-tengah sahabat itu justru membawa kemenangan politik paling gemilang
yang pernah dicapai oleh umat Islam. Kemenangan tersebut diperoleh sebagai
hasil dari kebijaksanaan sang Nabi saw yang mengalahkan kelihaian politik kaum
Quraisy. Kaum Quraisy telah memfokuskan semua kelihaian-nya agar kaum Muslim
kembali ke tempat mereka tanpa memasuki Masjidil Haram pada tahun ini, namun
hikmah Nabi saw justru mampu mencapai pengelihatan yang tidak dapat dijangkau
oleh kaum itu yang berkenaan dengan masa depan. Jika saat ini perjanjian
tersebut tampak membawa kekalahan bagi kaum Muslim, maka setelah berlangsung
beberapa bulan ia justru mendatangkan kemenangan yang spektakuler.
Suhail bin
Amr adalah wakil dari delegasi kaum Quraisy dan Ali bin Abi Thalib adalah juru
tulis dalam perjanjian itu dari pihak Nabi saw. Rasulullah saw berkata
kepada Ali: "Tulislah dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang." Utusan Quraisy berkata, aku tidak mengenal ini. Tapi
tulislah dengan nama-Mu, ya Allah. Rasulullah saw berkata kepada Ali:
"Dengan nama-Mu, ya Allah." Sikap keras kepala utusan Quraisy
itu tidak berarti sama sekali karena tidak ada perbedaan yang mencolok antara
dengan namamu Allah dan dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang selain niat si pembicara.
Nabi saw
berkata kepada Ali: "Ini adalah negosiasi antara Muhammad utusan Allah dan
Suhail bin Amr." Mendengar itu dengan nada menentang Suhail bin Amr
berkata: "Seandainya aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah niscaya
aku tidak akan memerangimu, tetapi tulislah namamu dan nama
ayahmu." Nabi berkata kepada Ali tulislah: "Inilah kesepakatan
antara Muhammad bin Abdillah dan Suhail bin Amr."
Tampaknya
itu adalah kemunduran yang kedua dan dengan pandangan yang sekilas tampak
menjatuhkan kaum Muslim tetapi Nabi saw ingin mewujudkan suatu tujuan yang
penting yaitu tujuan yang belum terungkap saat itu. Alhasil, semuanya terjadi
dengan ilham dari Allah SWT. Ali kembali menulis bahwa Muhammad bin Abdillah
dan Suhail bin Amr sama-sama sepakat untuk menghentikan peperangan selama
sepuluh tahun di mana hendaklah masing-masing mereka memberikan keamanan
terhadap sesama mereka. Namun jika terdapat di antara orangorang Quraisy
seseorang yang masuk Islam lalu ia datang kepada Muhammad saw tanpa izin
walinya hendaklah kaum Muslim mengembalikannya kepada kaum Quraisy. Sebaliknya,
jika ada orang yang murtad dari sahabat Muhammad saw, maka tidak ada keharusan
bagi orang Quraisy untuk mengembalikannya kepada Nabi.
Syarat
tersebut sangat menyakitkan kaum Muslim. Tampak bahwa orang-orang Quraisy
memaksakan kehendaknya dalam syarat-syarat perjanjian yang tidak adil
itu. Ali melanjutkan tulisannya, hendaklah Nabi saw pulang dari Mekah pada
tahun ini dan tidak memasukinya dan jika pada tahun depan orang-orang Quraisy
keluar darinya, maka beliau dapat memasukinya untuk melaksanakan umrah selama
tiga hari dan setelah itu beliau harus meninggalkannya. Persyaratan
tersebut sangat merugikan kaum Muslim dan terkesan membingungkan.
Di
tengah-tengah perjanjian tersebut terjadi suatu peristiwa yang menambah
penderitaan dan kebingungan Muslimin di mana anak dari juru runding Quraisy
meminta perlindungan kepada kaum Muslim. Ia masuk Islam dan ingin bergabung
dengan kelompok Islam namun ayahnya, Suhail segera bangkit menyusulnya bahkan
memukulnya dan mengembalikannya kepada kaumnya. Orang Mukalaf itu segera
berteriak dan meminta pertolongan kepada kaum Muslim agar mereka
menyelamatkannya dari kejahatan kaum Quraisy sehingga mereka tidak mengubah
agamanya. Rasulullah saw berbicara kepadanya dan meminta kepadanya untuk bersabar
dan tegar dalam menanggung penderitaan karena Allah SWT akan menjadikannya dan
orang-orang yang sepertinya suatu jalan keluar dan kelapangan. Nabi
memahamkannya bahwa beliau telah mengadakan suatu peijanjian dengan kaum
Quraisy dan bahwa kaum Muslim tidak mungkin melanggar perjanjian mereka.
Akhirnya,
anak Muslim itu dikembalikan ke Mekah dalam keadaan tersiksa. Kemudian
Selesailah penandatanganan perjanjian antara pihak kaum Muslim dan pihak kaum
musyrik. Setelah penandatanganan perjanjian itu, Rasulullah saw
memerintahkan para sahabatnya agar mereka memotong hewan kurban dan mencukur
rambut mereka (tahalul) dari umrah mereka dan kembali ke Madinah. Namun
tak seorang pun bangkit menyambut perintah tersebut, lalu beliau mengulangi
perintahnya ketiga kali. Di tengah-tengah kaum Muslim yang tampak membisu
karena ketegangan dan kesedihan, beliau menyembelih unta dan memanggil tukang
cukurnya untuk mencukur rambutnya dan beliau tidak berbicara dengan seorang
pun. Ketika para sahabat mengetahui bahwa Nabi saw tampak marah dan telah
mendahului mereka dengan tahalul dari umrahnya, maka mereka bangkit untuk
menyembelih kurban dan memotong rambut mereka.
Perjalanan
hari menunjukkan bahwa perundingan tersebut tidak seperti yang dibayangkan oleh
kaum Muslim. Ia justru membawa kemenangan dan bukan kekalahan. Persatuan kaum
kafir di jazirah Arab mulai runtuh sejak mereka menandatangani perjanjian itu.
Kaum Quraisy di anggap sebagai pimpinan kaum kafir dan pembawa bendera
penentangan terhadap Islam, maka ketika tersebar berita perjanjian mereka
bersama kaum Muslim, maka padamlah fitnah-fitnah kaum munafik yang bekerja
untuk mereka dan bercerai-berAllah kabilah-kabilah penyembah patung di penjuru
jazirah.
Saat
aktivitas kaum Quraisy terhenti, maka kaum Muslim mengalami peningkatan
aktivitas di mana mereka berhasil menarik orang-orang yang masih memiliki
kemampuan untuk melihat kebenaran. Sejak dua tahun dari masa penandatanganan
perjanjian itu jumlah penganut Islam semakin bertambah lebih dari jumlah
sebelumnya. Bukti dari itu adalah, bahwa saat Rasul saw keluar ke Hudaibiyah
beliau ditemani dengan seribu empat ratus Muslim namun ketika beliau keluar
pada tahun penaklukan kota Mekah beliau disertai dengan sepuluh ribu Muslim.
Penaklukan kota Mekah terjadi setelah dua tahun dari perundingan tersebut.
Penambahan jumlah kaum Muslim yang luar biasa ini adalah dikarenakan hikmah
sang Nabi saw dan kejauhan pandangannya. Nabi saw keluar sebagai pemenang dalam
pergulatan politiknya, dan syarat-syarat yang tadinya merugikan kaum Muslim
kini telah berubah menjadi syarat-syarat yang merugikan kaum Quraisy.
Barangsiapa murtad dari kaum Muslim dan pergi ke kaum Quraisy, maka hendaklah
mereka melindunginya karena Allah SWT telah memampukan Islam darinya, dan
barangsiapa yang masuk Islam dari kaum kafir dan pergi ke kaum Muslim, maka
hendaklah mereka mengembalikannya ke kaum Quraisy di mana ia tinggal di
dalamnya sebagai mata-mata dari pihak Islam atau ia dapat lari dari kaum
Quraisy untuk menyatukan kelompok yang bertikai dan ia dapat hidup laksana duri
di tengah-tengah kaum Quraisy.
Belum lama
waktu berjalan sehingga kaum Quraisy mengutus utusannya kepada Nabi saw dan
mengharap kepada beliau agar melindungi orang Quraisy yang masuk Islam dari
membiarkan mereka sebagai panah yang terbang menuju kaum
Quraisy. Demikianlah kaum Quraisy justru membatalkan syarat yang telah
mereka diktekan dan Nabi saw pun menerimanya dengan puas.Perundingan itu justru
menguatkan barisan Nabi savv.
Demikianlah
Nabi saw terus menjalani mata rantai pergulatan yang tiada henti-hentinya di
mana kehidupan beliau yang pribadi sekali pun tidak sunyi dari
penderitaan. Nabi saw menikahi sembilan orang istri. Perkawinan
beliau dengan sembilan istri tersebut merupakan keistimewaan pribadi yang hanya
beliau miliki karena berhubungan dengan sebab-sebab dakwah Islam. Yaitu
suatu dakwah yang memungkinkan para pengikutnya untuk menikahi empat orang
istri dengan syarat jika yang bersangkutan mampu menciptakan keadilan di antara
mereka, dan ia menganjurkan untuk hanya puas dengan satu istri jika seorang
Muslim khawatir tidak dapat berbuat adil.
Kaum
orentalis dan musuh-musuh Islam mencoba untuk menghina Nabi dan memojokkannya,
dan salah satu cela yang mereka manfaatkan adalah perkawinan beliau dengan
sembilan wanita.Kita mengetahui bahwa pernikahan-pernikahan beliau terlaksana
dengan sebab-sebab politik atau kemanusiaan yang berhubungan dengan dakwah
Islam. Dan yang terkenal dari sejarah Nabi saw adalah bahwa beliau menikah
dengan Sayidah Khadijah saat beliau berusia dua puluh lima tahun dan Khadijah
berusia empat puluh tahun. Semasa hidup Khadijah beliau tidak menikahi
istri yang lain sampai Khadijah mencapai usia enam puluh lima tahun. Saat
Khadijah meninggal, Nabi berusia di atas lima puluh tahun. Beliau menikahi
Khadijah sebelum beliau diutus untuk menyebarkan Islam. Dia tetap setia
bersama Khadijah sampai ia meninggal dan beliau diangkat menjadi
Nabi. Namun beban kenabian dan beratnya jihad, kasih sayangnya kepada
manusia, pengorbanannya terhadap Islam dan perintah Allah SWT semua itu
memaksanya untuk menikah lebih dari satu orang istri sampai mencapai sembilan
orang istri. Perkawinan beliau dengan Aisyah yang saat itu masih muda
merupakan usaha untuk menjalin ikatan dengan Abu Bakar, ayah dari Aisyah dan
perkawinan beliau dengan Hafshah meskipun ia sedikit kurang cantik merupakan
usahanya untuk menjalin ikatan dengan Umar, ayahnya. Beliau juga menikah
dengan Ummu Salamah, janda dari pemimpin pasukannya yang mati syahid di jalan
Allah SWT dan wanita itu merasakan penderitaan bersama beliau saat hijrah di
Habasyah dan hijrah ke Madinah. Ketika suaminya meninggal dan ia sendirian
menghadapi berbagai persoalan kehidupan, maka Nabi saw segera merangkulnya di
rumah kenabian. Perkavvinan beliau dengan Sawadah sebagai bentuk penghormatan
terhadap keislaman wanita itu dan kemuliannya dari kaum pria serta
kesendiriannya dalam menjalani kehidupan. Sementara itu, pernikahan beliau
dengan Zainab bin Jahasy merupakan ujian berat bagi beliau di mana perintah
pernikahan itu datang dari Allah SWT untuk mengharamkan suatu tradisi yang
terkenal di kalangan jahiliah yaitu tradisi adopsi. Zainab termasuk
kerabat Rasul. Jadi ia termasuk dari kalangan bani Hasyim. Ia merasa
bangga dengan nasab yang dimilikinya yang karenanya ia menolak ketika ditawari
untuk menikah dengan Zaid bin Harisah, seorang budak Nabi yang telah beliau
bebaskan, bahkan nasabnya telah beliau nisbatkan kepada dirinya dan beliau
telah mengadopsinya sehingga ia dipanggil dengan sebutan Zaid bin
Muhammad. Namun Zainab akhirnya menyetujui pendapat Nabi dan perintah
Allah SWT sehingga ia menikah dengan Zaid:
"Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang
mukimin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetaphan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhahai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan
yang nyata. " (QS. al-Ahzab: 36)
Sejak semula
tampak jelas bahwa pernikahan tersebut akan segera berakhir. Zainab tidak
menyukai Zaid dan Zaid pun bukan tipe lelaki yang mampu menahan kehidupan
bersama seorang wanita yang hatinya jauh darinya. Zaid datang kepada Nabi saw
guna mengadu kepada beliau dan meminta izin untuk menceraikan istrinya. Allah
SWT mewahyukan kepada Rasul-Nya agar membiarkan Zaid menceraikan istrinya, lalu
hendaklah beliau menikahinya. Nabi saw merasakan kesulitan yang luar biasa dan
beliau berbicara kepada Zaid agar ia terus melangsungkan kehidupannya dan
bersabar. Nabi saw membayangkan apa yang dikatakan manusia kepadanya bahwa ia
menikahi istri dari anaknya tetapi apa yang dikhawatirkan oleh Nabi saw justru
merupakan sesuatu yang ingin dihapus oleh Allah SWT. Zaid bukanlah anaknya dan
dalam Islam tidak ada sistem adopsi. Oleh karena itu, Zaid dapat mencerai
istrinya lalu Nabi dapat menikahi Zainab untuk menetapkan apa yang diinginkan
oleh Islam. Rasulullah saw mampu bersabar dan menahan diri saat mendengar
berbagai ocehan yang akan dikatakan oleh manusia kepadanya. Ini bukanlah
pengorbanan pertama dan terakhir yang beliau persembahkan untuk Islam.
Berkenaan dengan itu, Allah SWT berfirman:
"Dan
(ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan
nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: 'Tahanlah
terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,' sedang kamu menyembunyikan di
dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia,
sedang Allah-lah yang lebih berrhak kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah
mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan kamu
dengan dia supaya tidak ada heberatan bagi orang-orang mukmin untuk (menikahi)
istri-istri anak- anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah
menyelesaikan keperluannya dari istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti
terjadi. " (QS. al-Ahzab: 37)
Pemikahan
beliau dipenuhi dengan unsur politik dan upaya untuk menyebarkan kebaikan dan
rahmat serta penghormatan nilai-nilai yang tinggi dan menggabungkannya di rumah
kenabian.Sementara itu, Ummu Habibah binti Abu Sofyan bin Harb, pemimpin
Quraisy dalam memerangi Islam, berhijrah bersama suaminya ke Habasyah.
Ia
berhadapan dengan keterasingan dan kekhawatiran dalam membela agama Allah
SWT. Kemudian suaminya mati meninggalkannya sendirian dalam menjalani
kehidupan. Sikapnya yang mulia demi menegakkan ajaran Islam dan hanya
menentang ayahnya merupakan nilai lebih yang menyebabkan Rasulullah saw
tertarik untuk menggabungkannya di rumah kenabian.
Pada suatu
hari, Abu Sofyan menemuinya saat ia telah menjadi istri Rasulullah saw. Abu
Sofyan ingin duduk di atas tempat tidur Nabi lalu Ummu Habibah berusaha
menjauhkan tempt tidur itu dari ayahnya. Melihat sikap anaknya itu, ayahnya
bertanya kepadanya: "Apakah engkau mulai membenciku?" Dengan penuh
keberaniaan ia menjawab: "Ini adalah tempat tidur Rasulullah saw dan
engkau adalah seorang musyrik, maka engkau tidak boleh menyentuhnya."
Adapun
Shofiyah binti Huyay adalah anak seorang raja Yahudi. Sedangkan Juwairiyah
binti Haris, ayahnya seorang pemimpin kabilah Bani Musthaliq. Bani
Musthaliq menelan kekalahan saat berhadapan dengan kaum muslim lalu kedua anak
perempuan raja dan pemimpin kabilah itu jatuh menjadi tawanan. Pemikahan
Nabi dengan kedua wanita itu terkesan dipaksa oleh orang-orang yang kalah itu
dan sebagai ajakan agar kaum Muslim memperlakukan mereka dengan
baik. Mula-mula kaum Muslim menolak untuk bersikap lembut terhadap
ipar-ipar Nabi, namun Nabi dengan kelembutan sikapnya ingin menyingkap aspek
kemanusiaan dalam peperangannya dan dia mengisyaratkan kepada kaum Muslim agar
mereka menunjukkan persaudaraan sesama manusia.Peperangan itu sendiri bukan
sebagai tujuan namun ia sebagai usaha mempertahankan Islam dan aspek tertinggi
dari Islam adalah rahmat dan cinta.
Jadi Nabi
saw menikahi wanita-wanita dari orang-orang yang kalah itu dengan maksud agar
kebebasan dan kemuliaan kembali ke keluarga mereka dan mereka dapat masuk Islam
secara puas dan sukarela. Kemudian beliau menikah dengan Maryam
al-Qibtiyah. Muqauqis telah memberikannya kepada Nabi sebagai budak di
mana itu merupakan simbol tali kasih yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an antara
Islam dan Masehi dan sebagai bentuk hukum bagi kaum Muslim dengan dihalalkannya
pernikahan dengan wanita-wanita ahlul kitab.
Maryam
memberikan anak kepada Nabi saw yang bernama Ibrahim, nama dari kakeknya, bapak
para nabi. Namun Ibrahim tidak hidup lama. Ia meninggal saat masih
menyusu. Kematiannya merupakan ujian bagi Nabi dan sebagai isyarat dari
Ilahi bahwa pewaris-pewaris Rasul dari kaum pria adalah para pengikut Al-Qur'an
dan para pembawa Islam, bukan anak-anak dari sulbinya.
Salah jika
ada orang yang membayangkan bahwa Rasul saw mempunyai banyak waktu untuk
mencari kesenangan meskipun halal. Kesenangan diperbolehkan bagi orang lain
namun beliau lebih memilih untuk merasakan penderitaan berjihad, menegakkan
hukum, dan kesabaran. Salah jika ada orang yang membayangkan bahwa Rasul saw
hidup di rumahnya dengan keadaan ekonomi yang lebih baik daripada orang yang
termiskin dari kalangan Muslim di zamannya.
Kehidupan
beliau di rumahnya penuh dengan kezuhudan yang luar biasa sehingga sebagian
istrinya mengeluhkan kondisi tersebut. Di antara mereka ada yang berasal
dari keluarga yang kaya seperti keluarga Abu Bakar atau keluarga Umar bahkan
sebagian istrinya bersatu untuk meminta kepada beliau agar beliau menambah nafkah
mereka sehingga Nabi meninggalkan istri-istrinya, lalu tersebarlah isu yang
menyatakan bahwa beliau telah menceraikan semua istrinya. Kemudian
turunlah ayat Takhyir (yaitu ayat yang memberikan pilihan
kepada istri-istri Nabi untuk tetap menjadi istri beliau atau
diceraikannya). Turunlah Al-Qur'an al-Karim memberikan pilihan pada
istri-istri Nabi antara menjalani kehidupan di rumah kenabian dengan penuh
kesederhanaan atau menerima perceraian. Allah SWT berfirman:
"Hai
Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: 'Jika kamu sekalian mengingini kehidupan
dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku
ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki
(keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka
sesungguhnya Allah menyediakan siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang
besar. " (QS. al-Ahzab: 28-29)
Selesailah
fitnah. Demikianlah pergulatan di rumah Rasul saw. Akhirnya,
istri-istri beliau memilih kehidupan zuhud dan bersabar serta akhirat dari
kehidupan dunia. Permintaan istri-istri nabi tidak melebihi hal-hal yang
bersifat mubah, namun Rasul saw merupakan teladan bagi seluruh umat, karena itu
beliau harus menjadi teladan bagi umat sehingga beliau dapat menjadi cermin
tertinggi yang layak diemban oleh seorang yang memegang tampuk kepemimpinan
Muslimin. Allah SWT telah membalas pengorbanan istri-istri Nabi saw dalam
bentuk mengangkat kedudukan mereka dan menjadikan mereka sebagai ibu dari kaum
mukmin. Allah SWT berfirman:
"Nabi
itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri
dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka." (QS.
al-Ahzab: 6)
Dan, sebagai
penegasan terhadap keibuan spiritual ini, Islam mewajibkan hijab yang
menyeluruh kepada mereka, yaitu suatu hijab yang tidak diberlakukan seperti itu
kepada Muslimah-Muslimah lain. Nabi saw melanjutkan dakwahnya. Beliau
mengirim surat ke raja-raja dan para penguasa di mana beliau ingin menunjukkan
universalitas ajaran Islam. Nabi saw mengajak Kaisar Romawi untuk
mengikuti Islam, lalu beliau mengirim utusan ke Amir Damaskus mengajaknya untuk
memeluk Islam, dan beliau mengutus utusan ke Amir Basrah bagian dari wilayah
Romawi dan mengajaknya untuk mengikuti Islam, dan beliau juga mengirim surat ke
penguasa Qibti dan mengajaknya untuk masuk Islam, dan beliau juga menulis surat
ke Kisra, Raja Persia dan mengajaknya untuk mengikuti Islam. Dia juga
mengirim utusan ke Amir Bahrain dan mengajaknya untuk mengikuti Islam.
Lalu
berbagai reaksi disampaikan berkenaan dengan surat-surat Nabi itu. Di
antara mereka ada yang berusaha menyampaikan kepada pembawa surat bahwa ia
masuk Islam dan mengembalikannya dengan hadiah, dan di antara mereka ada yang
merobek-robek surat itu dan di antara mereka ada yang membalas surat itu dengan
jawaban yang baik, dan di antara mereka ada yang menerima
kebenaran. Demikianlah hari berlalu dalam pergulatan yang tidak pernah
padam, suatu pergulatan yang dipimpin oleh Nabi sehingga ia menaklukkan Mekah
dan menyucikan jazirah Arab. Akhirnya, manusia masuk dalam agama Allah SWT
dalam kondisi berbondong-bodong, dan Allah SWT menyempurnakan agama bagi kaum
Muslim dan Nabi saw melaksanakan haji wada '(haji yang terakhir) dan turunlah
kepada beliau wahyu di Arafah sebagaimana firman-Nya:
"Pada
hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itujadi agama bagimu." (QS.
al-Maidah: 3)
Ayat
tersebut dibacakan kepada Abu Bakar sampai ia menangis. Allah SWT merasa
bahwa telah tiba waktunya untuk mengakhiri misi Rasul-Nya. Aisyah berkata
kepada anak-anak yang berteriak dan bermain-main di luar rumah: "Diamlah
kalian karena Rasulullah saw sedang sakit." Anak-anak itu pun terdiam
dan mereka merasakan ketakutan yang luar biasa. Pada hari-hari terakhir,
Rasulullah saw tidak lagi bercanda dengan mereka sebagaimana yang biasa ia
lakukan.
Mereka
memperhatikan bahwa kepucatan yang aneh menyelimuti Nabi saw yang biasanya
wajah beliau dipenuhi dengan senyuman hingga wajahnya laksana lempengan emas.
Nabi saw yang terakhir masuk dalam rumahnya dan hampir saja beliau tidak kuat
menahan langkah kedua kakinya. Beliau memasuki rumahnya dan bersandar kepada
tangan Fadl bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib. Beliau merasakan keletihan dan
kesakitan. Kemudian Aisyah menidurkan beliau di atas ranjangnya yang kasar dan
Aisyah meletakkan tangannya di atas kening beliau. Kepala beliau tampak panas
karena saking hebatnya demam. Aisyah berkata dalam keadaan kedua matanya
mengucurkan air mata, "demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah apakah engkau
merasakan sakit?" Nabi saw tersenyum untuk menenangkan Aisyah lalu beliau
tertidur. Kemudian mengalirlah dalam memori Nabi saw berbagai gambar hidup:
Jibril turun kepada beliau dengan membawa wahyu di gua Hira. Beliau telah
melewati waktu yang diberkati selama dua puluh tiga tahun, yang sekarang tampak
seperti mimpi. Bahkan empat puluh tahun yang mendahuluinya tampak seperti
gambar yang hanya dilukis sesaat.
Segala
sesuatu menjadi mudah bagi Allah SWT dan Rasulullah saw telah berhasil melalui
berbagai penderitaan dengan penuh kesabaran, bahkan beliau tidak pernah
mengeluh sekali pun.Beliau mengajarkan akidah kepada para pengikutnya dengan
penuh kemantapan. Akhirnya, Islam menjadi mulia dan benderanya semakin
berkibar. Kemudian beliau bangun karena melihat tangisan yang tersembunyi
dari Aisyah. Dia membuka kedua matanya dan melihat wajah Aisyah sambil ia
sendiri berusaha melawan rasa pusing, demam, dan sakit yang
dirasakannya. Dia kembali tersenyum untuk menenangkan Aisyah dan ia
kembali memejamkan matanya dan tidak sadarkan diri. Apa gerangan yang
menyebabkan Aisyah menangis? Tidakkah Allah SWT memahkotai jihad Nabi saw
yang berat dengan penaklukan Mekah dan penyucian Baitul Haram?
Berbagai
gambar hidup dan aktual melayang-layang dalam memori Nabi saw. Dia
mengingat bagaimana tindakan orang Quraisy ketika membantalkan perjanjian
Hudaibiyah dan mereka memerangi Khaza'ah yang saat itu bersekutu dengan kaum
Muslim dan akhirnya mereka membunuh semua sekutu kaum Muslim di Baitul
Haram. Kemudian ia berjalan bersama tim yang berjumlah sepuluh ribu di
mana semua tim telah siap, dan tentara Muslim turun dari gunung Mekah laksana
air bah yang tidak berhenti sedikit pun. Telah lewatlah masa para pembawa
tombak, panah, dan pedang; telah lewatiah masa di mana Rasulullah saw
memimpim tim yang di dalamnya terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Di
tengah-tengah pasukan besar tersebut yang berhasil menaklukkan Mekah, Nabi saw
menunggangi untanya dan beliau menundukkan kepalanya dengan penuh rendah diri
di hadapan Allah SWT sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh punggung unta
yang dinaiki. Pintu Mekah terbuka untuk pasukan ini.
Para
pemimpin Mekah dan pengikut-pengikut mereka menyerahkan diri. Kalimat
Allah SWT semakin meninggi di dalamnya. Nabi saw memasuki Baitul Haram lalu
beliau berkeliling di sekitar Ka'bah. Beliau menghancurkan berbagai patung
yang berbaris di sekitarnya, lalu beliau memukulnya dengan
kampaknya. Kemudian patung-patung itu berjatuhan dan hancur. Setelah
ia membersihkan masjid dari berbagai patung dan mengembalikannya sebagaimana
yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai rumah tauhid yang mutlak, ia menoleh ke
orang Quraisy dan memaafkan mereka dan mengajak mereka untuk kembali ke jalan
Allah SWT. Kemudian tibalah waktu salat, lalu Bilal naik di atas punggung
Ka'bah dan mengumandangkan Azan. Penduduk Mekah mende-ngarkan panggilan
baru ini di mana gemanya berputar-putar di antara gunung:
"Allah
Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa
Muhammad utusan Allah. Marilah melaksanakan salat. Marilah menuju
keberuntungan. Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah."
Akhirnya,
rumah itu dikembalikan kehormatannya dan kemuliannya. Kemudian lagi-lagi arus
berbagai gambar terlintas dalam memorinya: itulah peperangan Hunain dengan
kekalahannya, kemenangannya, dan ganimahnya; Itulah Nabi saw yang memberikan
ganimah terhadap orang-orang yang bergabung dengan Islam hanya dua hari dari
penduduk Mekah, dan mencegah untuk memberi ganimah Hunaian kepada kaum Anshar
yang telah memberikan segalanya untuk Islam. Salah seorang di antara mereka
berkata: "Demi Allah, Rasulullah saw telah menemui kaumnya." Sa'ad
bin 'Ubadah berjalan ke arah Rasulullah saw dan memberitahunya bahwa kaum
Anshar sedang marah. Rasul saw bertanya: "Mengapa marah?" Sa'ad menjawab:
"Mereka protes saat engkau membagikan ganimah ini pada kaummu dan pada
seluruh orang Arab namun mereka tidak mendapatkan apa-apa." Rasulullah saw
bertanya kepada Sa'ad bin Ubadah: "Kamu sendiri bagaimana pendapatmu wahai
Sa'ad?" Sa'ad berkata: "Aku tidak lain kecuali seseorang dari
kaumku." Rasulullah saw berkata: "Kumpulkanlah kepadaku kaummu untuk
masalah yang penting ini dan jika kalian telah berkumpul, maka beritahulah
aku."
Sa'ad
mengumpulkan seluruh kaum Anshar lalu ia memberitahu Rasul saw bahwa ia telah
mengumpulkan mereka. Rasulullah saw keluar menemui mereka dan berdiri di
depan mereka sambil memuji Allah SWT dan kemudian berkata: "Wahai
orang-orang Anshar, tidakkah aku datang kepada kalian saat kalian dalam keadaan
sesat lalu Allah SWT memberikan petunjuk kepada kalian, dan kalian menjadi
orang-orang yang fakir lalu Allah SWT memampukan kalian, dan kalian dalam
kondisi bermusuhan lalu Allah SWT menyatukan hati kalian? " Mereka
menjawab: "Benar."Rasulullah saw berkata: "Mengapa kalian tidak
menjawab wahai kaum Anshar?" Mereka berkata: "Apa yang kita akan
katakan wahai Rasulullah dan dengan apa kita akan menjawabnya. Sungguh segala
karunia hanya milik Allah SWT dan Rasul-Nya."
Rasulullah
saw berkata: "Demi Allah, seandainya kalian mau niscaya kalian akan
mengatakan dan benar apa yang kalian katakan: Engkau datang kepada kami sebagai
seorang yang terusir, maka kami melingdungimu dan engkau datang dalam keadaan
miskin lalu kami menghiburmu dan engkau datang dalam keadaaan ketakutan lalu
kami mengamankanmu dan engkau datang dalam kondisi teraniaya lalu kami
menolongmu. " Mereka berkata: "Segala puji dan karunia bagi
Allah SWT dan Rasul-Nya." Rasulullah saw berkata: "Wahai kaum
Anshar, apakah kalian akan marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada
suatu kaum dengan harapan agar keimanan meresap dalam hati mereka dan kalian
justru melupakan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada kalian dalam
bentuk nikmat Islam. Tidakkah kalian wahai kaum Anshar merasa puas ketika
manusia pergi untuk melakukan perjalanan di musim dingin sedangkan kalian pergi
dengan Rasulullah saw. Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya
manusia melalui suatu jalan dan kaum Anshar melalui jalan yang lain niscaya aku
akan melalui jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak
kaum Anshar dan cucu kaum Anshar. "
Mendengar
doa itu, kaum tersebut menanggis sehingga jenggot mereka terbasahi dengan air
mata dan mereka berkata: "Kami rela dengan Allah SWT sebagai Tuhan dan
sangat puas dengan pembagian Rasulullah saw." Kemudian Nabi saw pun
meninggalkan mereka dan mereka pergi dalam keadaan puas. Orang-orang
Anshar memahami bahwa Muslim yang hakiki di dunia adalah seorang yang datang di
dunia untuk memberi, bukan untuk mengambil. Nabi saw terbangun dan ia menemukan
dirinya sendirian di kamar. Suhu tubuh beliau meningkat karena demam, lalu
beliau memanggil Aisyah dan meminta kepadanya untuk membawa air yang dapat
digunakannya untuk mendinginkan tubuhnya. Aisyah mulai menuangkan air
kepada Rasulullah saw sampai demam beliau berangsur-angsur sedikit
menurun. Tampak bahwa waktu berlalu cukup lambat dan berat. Sakit
Rasulullah saw meningkat.
Beliau mulai
merasa bahwa tidak mampu lagi untuk salat bersama para sahabat, lalu beliau
memerintahkan Abu Bakar untuk salat bersama mereka. Pada saat Nabi
mengalami antara keadaan terjaga dan tidur, beliau selalu berpikir apa gerangan
yang belum disampaikannya kepada manusia. Beliau telah menyampaikan segala
sesuatu dan telah mengajari mereka segala sesuatu serta telah meninggalkan
sebuah Kitab yang siapa pun berpegangan dengannya ia tidak akan sesat.
Rasul saw
mulai mengantuk dan berbagai nostalgia terlintas di kepalanya. Beliau
melihat dirinya di haji Wada '. Selesailah perjanjian yang diberikan
kepada kaum musyrik dan mereka telah dilarang untuk memasuki Masjidil Haram dan
sekarang Nabi saw keluar sebagai pemimpin haji dan mengajari kaum Muslim cara
manasiknya. Rasulullah saw memperhatikan ribuan orang-orang yang bertauhid
saat mereka menuju Baitul Haram dalam keadaan memenuhi panggilan Tuhan dan
tunduk kepadanya. Mereka menghidupkan memori kakek mereka, Ibrahim
Khalilullah. Nabi saw berdiri dan berpidato di tengah-tengah keramaian
itu. Nabi saw mulai merasakan bahwa kehidupannya di dunia sebentar lagi
akan berakhir. Dia mengetahui bahwa kafilah ini akan pergi sendirian dalam
menjalani kehidupan. Beliau kembali menanamkan nilai-nilai Islam dan
wasiat dakwah di jalan Allah SWT. Setelah berjuang selama dua puluh tiga
tahun menegakkan agama Allah SWT, beliau bertanya kepada mereka: "Apakah
aku telah menyampaikan amanat Tuhan?" Lalu manusia yang hadir saat
itu menyatakan bahwa beliau benar-benar telah menyampaikan dakwah. Dia
memanggil Mu'ad bin Jabal dan mengajarinya bagaimana berdakwah kepada manusia
di jalan Allah SWT dan bagaimana mengenalkan agama kepada mereka.
Kemudian
beliau berwasiat kepadaa Mu'ad saat ia menunggangi kendaraannya sedangkan
Rasulullah saw beijalan di sebelah untanya: "Sesungguhnya orang yang
paling utama di sisiku adalah orang-orang yang bertakwa, siapa pun mereka dan
di mana pun mereka." Nabi saw adalah rahmat bagi semua manusia dan
sebagal cermin yang tertinggi dari cermin persaudaraan dan
kepatuhan. Beliau menegakkan Al-Qur'an di tengah-tengah umat Islam namun
beliau menolak segala bentuk penampilan yang biasa melekat pada seorang
penguasa atau raja atau pemimpin apa pun. Dia mengatakan kepada para
sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba Allah SWT dan Rasul-Nya."
Dia keluar
menemui sekelompok sahabatnya lalu sebagai bentuk penghormatan kepada beliau
mereka berdiri. Kemudian beliau memerintahkan kepada mereka agar tidak
berdiri. Ketika ia keluar untuk menemui sahabat-sahabatnya dan
murid-muridnya, maka beliau duduk bersama mereka di tempat terakhir yang
ditemukannya. Dia sangat bersahabat dan ramah dengan para sahabatnya,
bahkan beliau bercanda dengan anak-anak mereka dan mendudukkan mereka di
ruangannya. Beliau memenuhi panggilan orang dewasa maupun
anak-anak. Beliau membesuk orang-orang yang sakit meskipun berada di
tempat yang jauh. Dia menerima alasan orang yang memiliki
uzur. Beliau mendahului orang yang ditemuinya dengan salam bahkan beliau
mendahului berjabat tangan dengan para sahabatnya.
Ketika
seseorang datang untuk menemuinya saat beliau salat, maka beliau mempersingkat
salatnya dan menanyakan keperluan orang itu. Setelah menyelesaikan
kebutuhan manusia, ia kembali menyelesaikan shalatnya. Dia selalu menebar
senyum kepada kawan dan lawan dan memiliki kepribadian yang paling
baik. Ketika ia berada di rumahnya, beliau melayani keluarganya.Dia
mencuci bajunya. Beliau memperbaiki sandalnya dan memberi minum
unta. Dia makan bersama pembantu. Beliau memenuhi kebutuhan orang
yang lemah, orang yang sedih, dan orang yang miskin. Bahkan kebaikan
beliau dan kasih sayangnya sampai pada tingkat di mana beliau membiarkan
cucunya menaiki punggungnya saat beliau sedang shalat.
Kasih sayang
beliau tidak hanya terbatas kepada manusia bahkan juga tertuju pada binatang
dan pohon. Beliau memberi makan binatang dengan tangannya sendiri bahkan
beliau pernah merawat anjing yang sakit. Beliau memerintahkan pasukan
Islam saat berperang demi menegakkan keadilan Islam agar mereka tidak membunuh
anak kecil, orang tua, kaum wanita dan hendaklah mereka tidak mencabut pohon
dan tidak pula merobohkan rumah.
Apa yang
dibawa oleh Nabi saw bukan hanya suatu hukum yang mengatur hubungan antara
manusia dan manusia yang lain, dan apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya
berisi suatu sistem untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kemajuannya, ini
semua adalah hal relatif namun beliau datang dengan membawa peradaban yang
abadi yang mengatur hubungan antara manusia dan alam, dan mengembalikan
kompatibilitas di alam wujud sehingga semua berjalan secara seimbang dan
mencapai kesempurnaan menuju Allah SWT. Meskipun pada titik terakhir dari
kehidupannya, beliau masih sibuk mengurusi masa depan dakwah dan beliau sangat
cemas terhadap masa depan agama dan sangat peduli dengan problema kaum
Muslim. Beliau khawatir suatu saat Islam hanya tinggal namanya namun
hakikatnya telah lenyap. Namun sebelum ia meninggal, Allah SWT telah
memperlihatkan kepada beliau sesuatu yang membuat hati beliau menjadi
tenang.Dan di hari Senin dari bulan Rabiul Awal yang mulia, beliau kembali
kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai.
Salam
kepadamu ya Rasulullah dan kepada keluarga serta sahabat yang setia bersamamu.